← Beranda

Bahasa Tubuh dan Emosi: Begini Cara Mengetahui Perasaan Seseorang Tanpa Mereka Mengucapkan Kata

Andika PurnamaKamis, 10 Juli 2025 | 17.03 WIB
Ilustrasi bahasa tubuh. (Freepik/Wayhomestudio)

JawaPos.com - Pernah melihat seseorang sedang kesal meski ia terus tersenyum? Atau pernah melihat seseorang yang sedang gugup tapi ia mengatakan “saya baik-baik saja”?

Tanpa disadari, sebenarnya kita sedang membaca emosi orang lain. Bukan hanya dari apa yang mereka katakan, tapi juga dari gerak-gerik mereka.

Dalam komunikasi antarmanusia, kata-kata hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan makna yang disampaikan. Sisanya, sekitar 55% menurut banyak pakar komunikasi, disampaikan lewat bahasa tubuh, seperti postur, ekspresi wajah, gerakan tangan, bahkan cara seseorang berdiri atau berjalan.

Tak heran jika membaca emosi melalui bahasa tubuh menjadi keterampilan penting, tak hanya dalam dunia psikologi dan relasi interpersonal, tetapi juga di lingkungan kerja dan kehidupan sehari-hari.

Dikutip dari In-Mind.org, sejak usia bayi manusia sudah menunjukkan sensitivitas terhadap sinyal tubuh. Bayi berusia 5 bulan, misalnya, mampu mengenali kecocokan antara ekspresi wajah dan suara emosional seperti marah atau bahagia. Ini menunjukkan bahwa bahasa tubuh bukan sekadar pelengkap komunikasi verbal, melainkan fondasi awal dalam memahami emosi orang lain.

Bahasa tubuh menjadi semacam penerjemah bawah sadar yang menunjukkan niat dan perasaan seseorang, sering kali lebih jujur daripada kata-kata. Misalnya, seseorang bisa berkata bahwa ia tidak marah, namun gerakan tangannya yang cepat dan keras atau wajahnya yang menegang justru menunjukkan hal sebaliknya. Seseorang mungkin menyangkal kegugupan, tetapi bahasa tubuhnya, seperti tangan yang terus bergerak atau tubuh yang gelisah, bisa membongkar kebenaran.

1. Gerakan Tangan

Gerakan tangan kerap kali menjadi indikator emosional pertama yang terlihat. Tangan yang bergerak cepat dan keras dapat mengindikasikan amarah atau semangat berlebih. Sebaliknya, tangan yang terlalu diam atau tampak kaku dapat menunjukkan ketidaknyamanan atau kecemasan. Hal ini terjadi secara reflektif dan sering muncul bahkan sebelum kata-kata terucap.

2. Postur Tubuh

Postur tubuh juga memainkan peran penting dalam mengenali emosi seseorang. Tubuh yang membungkuk, bahu turun, dan kepala menunduk biasanya menandakan rasa sedih atau rendah diri. Sebaliknya, tubuh yang tegak dengan dada terbuka mencerminkan kepercayaan diri dan kesiapan untuk berinteraksi.

3. Ekspresi Wajah

Ekspresi wajah pun menjadi bagian krusial dari komunikasi nonverbal. Senyum sejati, yang dikenal dengan istilah senyum duchenne, melibatkan kerutan di sekitar mata dan menunjukkan kebahagiaan tulus. Sebaliknya, senyum palsu biasanya hanya melibatkan bibir. Raut wajah lain seperti alis berkerut, mata menyipit, atau rahang menegang seringkali menandakan emosi seperti marah, gugup, atau curiga.

4. Gerakan Kaki

Kaki, yang kerap diabaikan, juga bisa menjadi petunjuk emosional. Ketukan berulang, gerakan tidak stabil, atau arah kaki yang menjauh dari lawan bicara bisa menjadi tanda-tanda kegelisahan, ketidak tertarikan, atau keinginan untuk keluar dari situasi tertentu.

Sebagaimana dikutip dari situs Professorramos.blog, bagian tubuh seperti lengan dan kaki sebenarnya menyimpan sinyal emosional yang sangat kuat. Dalam interaksi sosial, posisi tangan yang menyilang atau kaki yang mengarah keluar dari percakapan bisa mencerminkan penolakan, ketidaknyamanan, atau kurangnya keterlibatan.

Gerak tubuh seperti ini memang tidak selalu disadari, tapi sering kali menjadi bahasa yang lebih jujur daripada apa yang diucapkan. Karenanya, membaca bahasa tubuh dengan cermat bisa memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap maksud dan perasaan seseorang, bahkan saat mereka tidak mengatakannya secara eksplisit.

Seperti dilansir dari Hachealthclub.blog, tubuh tidak hanya mengekspresikan emosi, tetapi juga bisa mempengaruhi emosi itu sendiri. Misalnya, berdiri dalam postur dominan atau melakukan power pose selama beberapa menit dapat meningkatkan rasa percaya diri dan menurunkan tingkat hormon stres dalam tubuh.

Penelitian menunjukkan bahwa perubahan postur tubuh bisa mengubah cara kita berpikir dan merasa. Hal ini penting terutama dalam konteks profesional seperti wawancara kerja atau presentasi publik. Dengan menyadari postur dan gestur yang kita tampilkan, kita tak hanya menciptakan kesan yang positif bagi orang lain, tetapi juga membangun keyakinan dalam diri sendiri.

Melatih Kepekaan terhadap Bahasa Tubuh

Untuk mulai memahami emosi lewat tubuh, langkah awal yang disarankan banyak ahli adalah observasi. Cobalah perhatikan interaksi sosial di sekitar kita, mulai dari cara orang duduk, posisi tangan mereka, hingga arah pandangan. Ketika kata-kata dan gerak tubuh tidak selaras, biasanya bahasa tubuhlah yang mencerminkan kebenaran.

Langkah berikutnya adalah melakukan evaluasi diri. Kita bisa merekam diri sendiri saat berbicara, kemudian menontonnya ulang untuk mengenali pola bahasa tubuh kita sendiri. Mungkin kita akan menyadari bahwa saat gugup, kita sering menyilangkan tangan, menyentuh wajah, atau menghindari kontak mata. Kesadaran ini menjadi langkah awal untuk melakukan perbaikan komunikasi nonverbal.

Kesimpulan

Bahasa tubuh adalah seni yang bisa dipelajari, dilatih, dan digunakan untuk membangun hubungan sosial yang lebih baik. Ia adalah refleksi otentik dari emosi, seringkali lebih jujur daripada ucapan verbal. Dalam dunia yang semakin sibuk dan penuh distraksi, kemampuan mengenali dan memahami emosi lewat gerak tubuh menjadi nilai tambah penting, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.

Maka dari itu, jika kita ingin benar-benar memahami seseorang atau bahkan mengenali diri sendiri secara lebih dalam, cobalah untuk tidak hanya mendengarkan kata-katanya. Perhatikan juga tubuhnya. Sebab seringkali, tubuh berbicara lebih dahulu dan lebih jujur daripada apa pun yang bisa diucapkan mulut. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah