← Beranda

Kenali Ambivert dan Omnivert, Tipe Kepribadian yang Suka Bikin Bingung

Arin SutrioriniKamis, 29 Mei 2025 | 01.10 WIB
Ilustrasi orang dengan kepribadian ambivert dan omnivert. (Pexels)

JawaPos.com – Pernah merasa bingung karena kadang ingin menyendiri, tapi di lain waktu sangat menikmati keramaian? 

Atau kadang bisa sangat percaya diri berbicara di depan umum, tapi besoknya justru menghindari interaksi? 

Banyak orang merasa tidak sepenuhnya introvert atau ekstrovert dan itu sangat wajar. Kepribadian manusia tidak selalu hitam dan putih. Mungkin Anda termasuk ambivert atau justru omnivert. 

Untuk mengenal diri sendiri lebih dalam, penting memahami perbedaan dua tipe kepribadian ini yang sering keliru disamakan.

Baca Juga: Suzuki Fronx Meluncur Sederet Fitur ADAS Menemani, Segini Harganya

Mengutip dari Simply Psychology, berikut penjelasan mengenai kepribadian ambivert, dan omnivert.

Apa Itu Ambivert?

Ambivert adalah seseorang yang memiliki ciri-ciri introvert dan ekstrovert sekaligus. Mereka tidak berada di ujung spektrum kepribadian, melainkan di tengah-tengah.

Ambivert bisa mudah bergaul di acara sosial, namun juga butuh waktu menyendiri untuk mengisi ulang energi. Kemampuan ini membuat mereka fleksibel dalam berbagai situasi.

Mereka juga cenderung bisa menyesuaikan diri dengan lawan bicara. Misalnya, mereka bisa menjaga dinamika kelompok dengan mulai mengobrol saat suasana hening.

Tanda-tanda seseorang adalah ambivert antara lain:

  • Nyaman dalam diskusi dan bisa mendengarkan dengan baik.

  • Bisa merasa nyaman di keramaian maupun saat sendirian.

  • Mampu menyesuaikan diri dengan energi teman atau situasi tertentu.

  • Bisa memulai percakapan agar suasana tetap hidup.

  • Suka obrolan bermakna, tapi tetap bisa ikut small talk.

Apa Itu Omnivert?

Omnivert juga menunjukkan ciri-ciri introvert dan ekstrovert. Namun, berbeda dari ambivert, mereka tidak menampilkan keduanya secara bersamaan.

Seorang omnivert bisa benar-benar ekstrovert dalam satu situasi, dan sepenuhnya introvert di situasi lain. Perubahan ini bisa terjadi tergantung suasana hati atau lingkungan sosial.

Berikut tanda-tanda omnivert:

  • Sifat dan suasana hati bisa berubah drastis.

  • Bisa lebih tertutup atau lebih terbuka tergantung dengan siapa mereka berinteraksi.

  • Tetap membutuhkan waktu sendiri meskipun suka bersosialisasi.

  • Bisa tiba-tiba membatalkan rencana yang sebelumnya dinantikan.

  • Perlu membaca situasi sosial sebelum merasa nyaman untuk terlibat.

Perbedaan Utama Ambivert dan Omnivert

Soal cara berkomunikasi, ambivert dapat memadukan sisi ekstrovert untuk tampil percaya diri dan sisi introvert untuk berpikir matang sebelum berbicara. 

Sedangkan bagi omnivert, kemampuan bicara bisa berubah-ubah, kadang lancar dan dominan, kadang justru canggung dan tertutup, tergantung suasana hati.

Dalam hal kestabilan emosi, ambivert biasanya lebih konsisten karena terbiasa menyesuaikan perilaku dengan situasi. 

Sementara itu, omnivert cenderung lebih fluktuatif, membuat orang lain sulit menebak perasaannya.

Saat membangun hubungan pertemanan, ambivert kerap menjadi penyeimbang yang bisa diterima di berbagai lingkaran sosial. 

Berbeda dengan omnivert yang lebih selektif, mereka cenderung terbuka hanya kepada orang tertentu dan bisa tampil berbeda di setiap kelompok.

Mengenai hasil tes kepribadian MBTI, ambivert sering merasa bingung menjawab karena tidak sepenuhnya cocok dengan pilihan yang tersedia, sehingga hasilnya bisa kurang akurat. 

Sebaliknya, skor omnivert bisa berubah-ubah tergantung suasana hati dan bagaimana mereka menampilkan diri saat mengisi tes.

Apakah Bisa Menjadi Ambivert?

Kepribadian ditentukan oleh faktor genetik. Penelitian menunjukkan bahwa sifat ini berakar pada DNA, sehingga tidak bisa diubah sepenuhnya.

Namun, omnivert tetap bisa melatih diri agar tampak lebih seimbang seperti ambivert. Misalnya, dengan membiasakan diri berinteraksi sosial sambil tetap menjaga kenyamanan pribadi.

Latihan ini dapat memperkuat kemampuan bersikap fleksibel dalam berbagai situasi.

Semakin memahami pola perilaku dan suasana hati sendiri, semakin mudah mengelola cara berinteraksi dengan orang lain.

Ambivert atau omnivert, keduanya membawa keunikan yang bisa menjadi kekuatan jika dipahami dengan baik.

EDITOR: Hanny Suwindari