JawaPos.com - Setiap tradisi memiliki caranya sendiri dalam menjernihkan batin dan memperkuat jiwa, termasuk dalam budaya Jawa.
Salah satu bentuk laku spiritual yang masih dijalankan oleh sebagian masyarakat Jawa hingga kini adalah puasa Kejawen.
Meski tidak wajib seperti puasa dalam agama, puasa Kejawen memiliki makna dan tujuan yang dalam, terutama untuk mereka yang sedang mencari ketenangan, kekuatan batin, atau bahkan ilmu spiritual.
Dalam budaya Jawa, dikenal beberapa jenis puasa adat yang masing-masing memiliki tata cara dan tujuan berbeda.
Baca Juga: Lemhannas Dorong Polri Berantas Premanisme, Tindak Tegas Bila Hambat Investasi
Menariknya, puasa-puasa ini bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga mengajarkan tentang pengendalian diri dan kesadaran spiritual yang tinggi.
Berdasarkan penjelasan dari salah satu video mengenai puasa kejawen di kanal youtube Sabdaning Ratu, setidaknya ada empat jenis puasa Kejawen yang cukup dikenal, antara lain, puasa Pati Geni ,puasa Ngelowong, puasa Ngebleng, dan Puasa Mutih
1.Puasa Pati Geni: Puasa Pati Geni bisa dibilang sebagai puasa Kejawen yang paling berat. Kata "Pati" berarti mati, dan "Geni" berarti api. Jadi, secara harfiah, puasa ini bertujuan untuk “mematikan api”, yang dimaknai sebagai mematikan hawa nafsu, hasrat duniawi, dan energi negatif dalam diri. Tujuan puasa ini pun cukup luas, mulai dari ingin mendapatkan ilmu gaib, mendekatkan diri pada kekuatan spiritual, hingga mempermudah jodoh.
Baca Juga: Ditakdirkan Menjadi Kaya: 5 Zodiak yang Mampu Mengubah Kegagalan Menjadi Kesuksesan Finansial
Tata cara puasa Pati Geni sangat ketat. Tidak hanya menahan makan dan minum, orang yang menjalankan juga tidak boleh tidur, serta harus mengurung diri dalam kamar gelap tanpa cahaya sedikit pun, bahkan dari lilin. Durasi minimalnya adalah 1 x 24 jam, dan bisa dilakukan selama 3, 5, 7 hari atau lebih, tergantung kemampuan. Karena beratnya, puasa ini sangat tidak disarankan untuk orang yang kondisi fisiknya lemah atau memiliki riwayat penyakit.
2. Puasa Ngelowong: Puasa Ngelowong adalah jenis puasa Kejawen yang jauh lebih ringan. “Lowong” berarti kosong atau longgar. Puasa ini hanya mengharuskan seseorang untuk tidak makan dan minum selama 24 jam, namun masih diperbolehkan tidur sekitar tiga jam dan menjalani aktivitas harian seperti biasa. Tidak ada bacaan niat khusus untuk puasa ini, dan bisa dilakukan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan. Tujuan utamanya adalah untuk membersihkan jiwa, mengurangi hawa nafsu, dan menenangkan pikiran.
3. Puasa Ngebleng: Dalam primbon Jawa, puasa Ngebleng dikenal sebagai puasa yang paling berat dan ekstrem. Kata “ngebleng” sendiri memiliki arti berhenti total atau tidak melakukan apa pun. Maka dari itu, saat menjalani puasa ini, seseorang tidak diperbolehkan makan, minum, tidur, bahkan tidak boleh berbicara atau keluar dari tempatnya. Tempat pelaksanaannya pun tidak boleh sembarangan, biasanya dilakukan di ruang yang gelap, sunyi, dan tidak ada penerangan atau suara.
Puasa ini umumnya dilakukan selama minimal tiga hari berturut-turut tanpa putus, dan dimulai dari hari kelahiran (weton) pelaku. Namun, ada juga yang menjalaninya lebih lama sesuai kemampuan masing-masing.
Tujuan utama dari puasa ini adalah untuk memperoleh kesaktian, mempercepat terkabulnya hajat, serta menenangkan batin secara mendalam. Namun, karena beratnya, puasa ini sangat tidak disarankan untuk dilakukan oleh orang yang kondisi fisiknya lemah atau memiliki riwayat penyakit tertentu.
4. Puasa Mutih: Berbeda dari puasa Ngebleng yang sangat berat, puasa Mutih tergolong lebih ringan dan lebih umum dijalani, terutama oleh calon pengantin menjelang hari pernikahan. Kata "mutih" berasal dari kata "putih", yang melambangkan kesucian dan kebersihan jiwa.
Saat menjalani puasa Mutih, seseorang hanya diperbolehkan mengonsumsi nasi putih dan air putih saja. Tidak diperkenankan makan lauk-pauk, makanan berwarna, makanan pedas, atau minuman lain selain air putih. Merokok juga dilarang keras selama menjalani puasa ini.
Puasa Mutih umumnya dilakukan selama tiga hari berturut-turut, biasanya pada tanggal-tanggal ganjil, dan niatnya dibaca setelah salat Isya atau sebelum matahari terbit. Selain menjaga makan dan minum, seseorang yang menjalani puasa ini juga harus menjaga pikiran dan emosinya, tidak boleh marah atau mengikuti hawa nafsu.
Tujuan utama dari puasa Mutih adalah untuk membersihkan batin, menenangkan hati, serta memohon perlindungan dan kelancaran dalam menjalani hajat besar, misalnya pernikahan atau perubahan hidup penting lainnya.
Sebagai penutup, perlu kita pahami bersama bahwa laku puasa Kejawen bukan sekadar tradisi semata, tetapi juga bentuk pencarian spiritual yang dalam dan penuh makna. Bagi yang tertarik menjalaninya, sebaiknya dipelajari dahulu tata caranya dengan benar, pahami tujuannya, dan pastikan kondisi fisik serta mental mendukung.
Jika dilakukan dengan niat baik dan kesadaran penuh, puasa Kejawen bisa menjadi sarana untuk menemukan keseimbangan dalam hidup, baik secara lahir maupun batin.