← Beranda

Tanpa Mereka Sadar : 7 Kebiasaan yang Diam-diam Merusak Pria yang Ingin Sukses

Yurahmi PutriKamis, 1 Mei 2025 | 23.05 WIB
7 Kebiasaan yang Diam-diam Merusak Pria yang Ingin Sukses./Freepik.

JawaPos.com - Pernah merasa seperti Anda sudah bekerja keras, tapi hasilnya selalu mentok di situ-situ saja? Tidak naik-naik, tidak juga maju ke mana-mana?

Kalau iya, Anda tidak sendirian. Banyak pria yang mengalami hal serupa—terlihat seperti sudah melakukan semua hal yang benar, tapi tetap saja merasa jalan hidupnya stagnan.

Sebagai psikolog yang telah bekerja dengan pria dari berbagai latar belakang, saya menemukan pola yang cukup mencolok: banyak dari mereka secara tidak sadar memiliki kebiasaan yang justru menghambat kemajuan mereka sendiri.

Ini bukan karena kurang pintar, malas, atau tidak punya impian besar. Tapi karena tanpa sadar mereka memelihara pola yang justru jadi sabotase diam-diam bagi diri sendiri.

Dilansir JawaPos.com dari laman Blog Herald pada Kamis, 1 Mei 2025. Berikut adalah tujuh kebiasaan yang sering dilakukan pria yang sedang berjuang maju, namun malah menghambat diri sendiri. Simak dan kenali apakah Anda juga melakukannya.

1. Memendam Emosi

"Enggak apa-apa, gue baik-baik aja" — padahal jelas-jelas tidak.

Kita hidup di lingkungan yang kadang mengajarkan bahwa pria sejati tidak boleh cengeng atau terlalu emosional. Sayangnya, sikap ini sering membuat banyak pria terbiasa menahan emosi dan enggan mengekspresikannya.

Faktanya, emosi yang dipendam tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya berganti bentuk—jadi kemarahan, frustrasi, atau bahkan rasa rendah diri yang meledak tanpa sebab jelas.

Psikolog Daniel Goleman, pakar kecerdasan emosional, menyatakan bahwa kemampuan untuk menyadari perasaan kita adalah kunci dalam menjalani hidup dengan baik. Ketika Anda belajar memahami emosi, Anda akan lebih tahu arah hidup dan bisa mengambil keputusan dengan lebih jernih.

2. Ingin Melakukan Segalanya Sendiri

Banyak pria merasa harus mampu mengatasi semuanya sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Padahal, sikap ini justru bisa menjadi bumerang.

Seperti kata Marcus Aurelius, filsuf Stoik, “Jangan malu untuk ditolong.” Jika seorang kaisar Romawi saja tidak gengsi meminta bantuan, mengapa kita harus merasa lemah saat meminta pertolongan?

Kolaborasi dan kerja sama membuka lebih banyak pintu daripada berjalan sendirian. Jangan ragu untuk membangun tim, meminta saran, atau berbagi beban.

3. Meremehkan Pencapaian Sendiri

Pernah mendapat pencapaian bagus, tapi Anda langsung bilang, “Ah, cuma kebetulan kok”?

Ini kebiasaan yang sering membuat pria gagal melihat nilai dirinya sendiri. Kalau Anda selalu mengecilkan prestasi Anda, lama-lama Anda juga tidak akan menghargai usaha sendiri.

Beri ruang untuk merayakan keberhasilan, sekecil apa pun. Bukan berarti jadi sombong, tapi Anda berhak memberi apresiasi pada diri sendiri atas kerja keras yang telah dilakukan.

4. Terlalu Sering Minta Maaf

Meminta maaf itu penting. Tapi kalau Anda sering minta maaf bahkan saat bukan salah Anda—itu bisa jadi tanda bahwa Anda merasa diri tidak layak.

Contoh: ketika seseorang menabrak Anda di jalan, dan Anda yang malah bilang “Maaf.” Ini bukan sikap sopan, tapi refleksi dari perasaan tidak enak yang terlalu berlebihan.

Mulailah mengubah pola pikir. Misalnya, alih-alih berkata, “Maaf saya banyak bicara,” ubah menjadi, “Terima kasih sudah mendengarkan.” Kalimat yang sama-sama sopan, tapi jauh lebih membangun kepercayaan diri.

5. Suka Mengkritik Diri Sendiri

“Kok gue bodoh banget, sih?”

Kalimat seperti ini bisa terdengar sepele, tapi jika diulang-ulang, akan membentuk citra negatif dalam pikiran Anda. Self-talk yang negatif perlahan-lahan menurunkan rasa percaya diri dan keberanian untuk mencoba.

Mulailah mengganti kritik tajam dengan kalimat yang lebih membangun. Misalnya: “Saya belum menguasainya sekarang, tapi saya bisa belajar.” Itu perbedaan kecil yang membuat dampak besar.

6. Takut Menunjukkan Kerentanan

Banyak pria berpikir bahwa menunjukkan sisi lemah adalah tanda kelemahan. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya.

Kerentanan adalah kekuatan. Seperti kata Brené Brown, “Kerentanan adalah tempat lahirnya keberanian, kreativitas, dan hubungan yang tulus.”

Berani membuka diri kepada pasangan, sahabat, atau bahkan terapis adalah langkah besar menuju pertumbuhan pribadi. Tidak perlu jadi sosok sempurna—cukup jadi versi terbaik dari diri sendiri.

7. Menghindari Obrolan Sulit

Topik sensitif seperti tagihan yang belum dibayar, ketidakpuasan dalam hubungan, atau masalah di tempat kerja sering kali dihindari karena tidak nyaman. Tapi justru dengan menghindarinya, masalah jadi menggantung dan tidak selesai-selesai.

Belajarlah menghadapi percakapan sulit dengan kepala dingin. Semakin cepat Anda menyuarakan isi hati dengan jujur, semakin sehat hubungan dan lingkungan Anda.

Kalau Anda merasa ada satu atau dua kebiasaan di atas yang masih melekat, jangan panik. Kesadaran adalah langkah pertama untuk berubah.

Ingat, semua kebiasaan bisa diubah. Kuncinya ada pada kemauan untuk menyadari pola, mengubah sudut pandang, dan membangun sistem pendukung yang sehat—baik dari orang-orang terdekat maupun profesional seperti mentor atau terapis.

Hidup adalah perjalanan panjang. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Tapi juga jangan abaikan sinyal-sinyal yang menghalangi kemajuan Anda.

Saat Anda mengenali dan meninggalkan kebiasaan ini, Anda membuka jalan untuk berkembang menjadi pria yang lebih kuat, sehat secara emosional, dan siap menghadapi tantangan hidup.

EDITOR: Hanny Suwindari