JawaPos.com - Menjadi anak sulung atau anak pertama bukanlah hal yang mudah. Sejak kecil, anak sulung cenderung sudah terbiasa memikul tanggung jawab yang lebih besar dibanding adik-adiknya.
Mereka sering diminta untuk menjadi contoh, membantu orang tua, bahkan kadang harus mengalah meski masih kecil. Semua pengalaman itu secara perlahan membentuk kepribadian anak sulung hingga dewasa.
Menurut ilmu psikologi, urutan kelahiran punya pengaruh besar terhadap sifat dan cara seseorang bersikap dalam hidup. Anak pertama umumnya memiliki beberapa ciri khas atau sifat tertentu yang terus menempel pada dirinya, bahkan hingga tua.
Lantas, apa saja sifat-sifat itu? Dilansir dari laman Your Tango pada Senin (28/4), berikut merupakan 7 sifat khas si anak sulung atau anak pertama yang membentuk kepribadiannya seumur hidup.
1. Suka Mengatur
Anak pertama biasanya tumbuh dalam lingkungan yang menuntut mereka untuk menjadi panutan bagi adik-adiknya.
Sejak kecil, mereka terbiasa membantu orang tua menjaga, membimbing, bahkan mengarahkan adik-adik dalam berbagai hal.
Kebiasaan ini membuat mereka tumbuh dengan kecenderungan untuk mengatur dan memimpin orang lain.
Meskipun kadang terlihat mendominasi, sifat ini sebenarnya muncul dari rasa tanggung jawab yang besar dan keinginan untuk memastikan segala sesuatu berjalan dengan baik.
2. Merasa Berhak
Anak sulung sering kali menjadi pusat perhatian ketika pertama kali lahir. Orang tua biasanya memberikan perhatian lebih, bersikap sangat hati-hati, dan sangat memprioritaskan kebutuhan mereka.
Hal ini dapat membuat anak pertama merasa lebih spesial dibanding saudara-saudaranya.
Rasa ‘berhak’ atas perlakuan istimewa ini bisa terbawa hingga dewasa, meskipun realitas hidup perlahan mengajarkan bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan.
Namun, perasaan pernah menjadi pusat perhatian ini sering kali meninggalkan jejak dalam cara pandang mereka terhadap perlakuan dari orang lain.
3. Haus Pengakuan
Karena saat kecil sering mendapat pujian atas hal-hal kecil seperti menggambar, membaca lebih dulu, atau membantu orang tua, anak pertama jadi terbiasa merasa dihargai ketika melakukan sesuatu yang baik.
Akibatnya, mereka tumbuh dengan kebutuhan untuk terus diakui, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun tempat kerja.
Mereka akan merasa lebih termotivasi bila mendapatkan apresiasi, karena dalam benak mereka, pengakuan adalah bukti bahwa mereka tidak mengecewakan ekspektasi orang tua atau orang-orang di sekitar mereka.
4. Suka Berprestasi
Sifat suka berprestasi biasanya tumbuh karena anak pertama sering menerima sorotan atas pencapaian mereka. Setiap pertama kali mereka berjalan, bicara, atau sekolah, mereka mendapat sambutan luar biasa dari orang tua.
Hal ini menanamkan kebanggaan sekaligus dorongan untuk terus menjadi yang terbaik dalam segala hal.
Tak jarang, mereka merasa harus selalu unggul agar bisa tetap mempertahankan posisi mereka sebagai “kebanggaan keluarga.”
Hal inilah yang membuat mereka sering kali berusaha lebih keras dari saudara-saudaranya hanya untuk membuktikan diri.
5. Ambisius dan Penuh Semangat
Sebagai anak pertama, mereka sering kali diberikan tanggung jawab lebih sejak dini. Hal ini secara tidak langsung melatih rasa tanggung jawab dan semangat untuk menyelesaikan sesuatu dengan maksimal.
Mereka juga dikenal sebagai pribadi yang tidak mudah menyerah dan akan mencari cara agar suatu tugas atau pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik.
Bahkan dalam konteks pekerjaan, mereka bisa menjadi sosok pemimpin yang tangguh karena terbiasa mengambil inisiatif, berpikir cepat, dan menempatkan diri sebagai contoh bagi orang lain.
6. Rapi dan Terorganisir
Tumbuh dalam peran sebagai ‘asisten orang tua’ membuat anak pertama memiliki kecenderungan untuk lebih rapi dan terorganisir.
Mereka terbiasa mengatur adik-adiknya, menyiapkan keperluan sekolah sendiri, bahkan terkadang ikut memikirkan urusan rumah tangga.
Maka tak heran jika mereka tumbuh dengan kemampuan manajemen waktu dan perencanaan yang baik.
Kebiasaan ini bisa berlanjut hingga mereka dewasa, yang membuat mereka menjadi pribadi yang terstruktur dan mampu menyusun prioritas dengan bijak.
7. Posesif
Sikap posesif atau sulit berbagi bisa muncul karena anak pertama sering kali merasa barang miliknya diambil atau dipakai adiknya tanpa izin.
Hal ini menciptakan rasa ingin mempertahankan hak milik dan membatasi orang lain dalam menggunakan barang pribadinya.
Meskipun tampak egois, sebenarnya sikap ini berakar dari pengalaman masa kecil yang penuh tuntutan untuk mengalah. Akibatnya, saat dewasa mereka bisa lebih tegas soal batasan dan cenderung menghargai ruang dan kepemilikan pribadi.