JawaPos.com - Diam tidak selalu berarti pasif, melainkan sebuah tindakan tegas untuk mempertahankan diri dan menghormati batasan Anda sendiri.
Bahkan untuk beberapa situasi dan kondisi dalam hidup, diam dan pergi menjadi solusi terbaik untuk dilakukan agar keadaan tidak bertambah buruk.
Dilansir JawaPos.com dari dmnews pada Rabu (23/4), berikut ini sembilan situasi dimana hal terbaik yang dapat dilakukan adalah diam dan pergi.
1. Ketika Terjebak dalam Pertengkaran Sengit yang Tidak Membuahkan Hasil
Hal yang sering terjadi ketika emosi memuncak, percakapan berubah menjadi pertengkaran atau siklus menyalahkan. Emosi telah mengambil alih kendali dan logika pun hilang dalam situasi ini.
Langkah paling cerdas untuk menghadapi kondisi ini adalah diam dan mundur atau pergi. Biarkan semua orang tenang terlebih dahulu. Ketika sudah tenang, barulah membahas kembali topik tersebut.
2. Ketika Orang Lain hanya Ingin Bergosip atau Mengeluh
Perhatikanlah, teman, rekan kerja, atau saudara sekalipun pasti ingin tahu drama terbaru dari kehidupan Anda maupun orang-orang di sekitar. Tampaknya sangat menggoda untuk ikut campur atau sekadar merasa dilibatkan atau melampiaskan rasa frustasi.
Namun, seringkali ini menjadi boomerang, karena gosip hampir tidak pernah menghasilkan sesuatu yang baik, sebaliknya justru meninggalkan residu yang beracun.
Jadi, diam dan menjauh sangat tepat dilakukan untuk mengirimkan pesan yang jelas bahwa Anda tidak tertarik pada sesuatu yang memicu kenegatifan.
Anda tidak perlu menjelaskan tentang diri sendiri, yang perlu Anda pikirkan adalah menjaga ruang mental tetap bersih dan reputasi diri sebagai seseorang yang tidak terlibat dalam obrolan yang tidak perlu tentang orang lain.
3. Ketika Sadar bahwa Anda Berbicara kepada Orang yang Pikiran Tertutup
Ketika Anda menyadari orang yang ada di hadapan Anda tidak terbuka terhadap perspektif yang berbeda, sudah saatnya Anda diam dan pergi.
Bagi orang tersebut argumen Anda yang beralasan hanya seperti bisikan angin, bahkan ketika argumen Anda sangat meyakinkan dan berdasarkan pada data dan fakta tetap tidak akan berhasil.
Anda pun tidak dapat memaksa seseorang untuk membuka pikirannya bila mereka bertekad untuk tetap menutupnya. Jadi, lebih baik simpan energi Anda untuk seseorang yang benar-benar reseptif.
4. Ketika Media Sosial Berubah Menjadi Buruk
Bagaikan mata pisau, media sosial bisa saja menjadi sarana yang fantastis untuk membangun relasi, namun bisa juga memperkuat kemarahan dan kebencian.
Ketika diskusi virtual bergeser dari poin-poin rasional ke serangan pribadi, maka saatnya Anda untuk keluar dan pergi agar terhindar dari penyesalan dan sakit kepala menelusuri komentar-komentar negatif.
5. Ketika Umpan Balik Negatif Sama Sekali Tidak Membangun
Memang kritik dapat membantu Anda untuk bertumbuh. Tetapi itu kritik yang membangun, sementara kritik yang merusak, yaitu yang mengarah pada serangan pribadi, komentar jahat untuk menjatuhkan, atau pelampiasan kekesalan perlu Anda tinggalkan atau tidak meresponnya.
Mungkin secara naluri Anda akan membela diri, namun hal tersebut hanya akan memperparah kenegatifan. Jadi, diam dan tetap fokus pada orang-orang yang peduli adalah jalan keluar yang efektif untuk kondisi ini.
6. Ketika Situasi Membahayakan Keselamatan Pribadi atau Kesehatan Mental Anda
Beberapa momen bukan hanya tentang harga diri, namun juga tentang keselamatan, seperti konfrontasi tengah malam yang menegangkan atau percakapan yang memicu kecemasan parah.
Satu-satunya pilihan yang rasional bila terjebak dalam kondisi demikian adalah diam dan pergi, karena kesejahteraan dan keselamatan Anda jauh lebih penting daripada kata terakhir.
7. Ketika Masa Lalu Terus-menerus Terbawa ke Masa Kini
Seseorang yang terus-menerus mengungkit masa lalu meskipun Anda telah mengakui dan meminta maaf sebenarnya mereka belum siap untuk melanjutkan hidup.
Kemungkinan besar percakapan yang terjadi hanya akan menggali kesalahan masa lalu, tidak produktif, dan membuat Anda kembali merasa bersalah. Jadi, untuk menghadapi lawan bicara yang tidak tertarik pada pertumbuhan positif adalah diam dan pergi.
8. Ketika Anda Diharapkan Mengkhianati Nilai-Nilai Anda
Pernahkah Anda berada dalam situasi dimana Anda didorong untuk melakukan atau mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip inti Anda, seperti memalsukan angka atau menutupi sesuatu yang tidak etis?
Apabila pernah, maka langkah yang paling bersih dan bermartabat adalah diam dan pergi, karena melanjutkan percakapan hanya menimbulkan perdebatan dan membuat Anda mengorbankan nilai-nilai inti hidup Anda lebih jauh lagi.
9. Ketika Konflik Berakar pada Miskomunikasi dan Eskalasi Tidak akan Menyelesaikannya
Terasa sangat mudah untuk bersikap defensif terhadap pesan yang terdengar lebih kasar dari yang dimaksudkan atau membaca komentar orang lain dengan nada yang salah.
Sementara semua itu adalah kesalahpahaman klasik, dimana nada, konteks, atau waktu hilang dalam penerjemahan. Jadi, sikap defensif hanya membuat keadaan menjadi lebih buruk.
Lebih baik Anda menutup jendela obrolan dan bernapas dalam-dalam guna meredakan ketegangan dan menjernihkan kebingungan yang terjadi.
Demikianlah sembilan situasi dimana diam dan pergi menjadi jalan terbaiknya. Jadi, pahamilah.***