← Beranda
Generasi Boomer yang Sudah Jenuh dengan Kehidupan Biasanya Berpegang Teguh pada 5 Keyakinan yang Membatasi Mereka untuk Berkemang Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahJumat, 11 April 2025 | 22.00 WIB
seseorang yang hidupnya merasa dibatasi (Freepik/Wavebreak Media)

 

JawaPos.com - Seiring bertambahnya usia, tak sedikit dari kita yang mulai merenung tentang makna hidup, pencapaian, dan jalan yang telah dilalui.

Bagi sebagian besar dari generasi Baby Boomer—mereka yang lahir antara tahun 1946 hingga 1964—fase ini bisa menjadi periode reflektif yang sangat mendalam, tetapi juga penuh kejenuhan dan ketidakpuasan tersembunyi.

Menurut psikologi, kejenuhan terhadap hidup di usia lanjut tidak hanya datang dari faktor luar seperti kesehatan atau pensiun, tetapi seringkali bersumber dari pola pikir dan keyakinan internal yang sudah terbentuk sejak lama.

Beberapa keyakinan ini bersifat membatasi dan tanpa disadari memperkuat perasaan stagnan, tidak relevan, atau bahkan kehilangan makna hidup.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (11/4), terdapat lima keyakinan membatasi yang kerap dipegang teguh oleh generasi Baby Boomer yang merasa jenuh terhadap kehidupan:

1. “Sudah terlambat untuk berubah”

Keyakinan ini adalah salah satu yang paling umum dan paling membatasi.

Banyak Baby Boomer yang merasa bahwa usia adalah penghalang utama untuk mencoba hal-hal baru, memulai kembali, atau mengubah gaya hidup.

Mereka cenderung berpikir bahwa perubahan hanya untuk yang muda—baik dalam hal karier, hubungan, maupun cara berpikir.

Dampak psikologis:

Keyakinan ini membuat seseorang terjebak dalam zona nyaman yang sebenarnya sudah tidak lagi memberikan kepuasan.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan stagnasi emosional dan mental, serta memperkuat perasaan tidak berguna.

Apa kata psikologi?

Psikolog perkembangan menyatakan bahwa otak manusia tetap bisa belajar dan beradaptasi hingga usia lanjut.

Neuroplastisitas tetap terjadi, meskipun melambat. Artinya, tidak ada kata terlambat untuk berkembang.

2. “Nilai diri saya tergantung pada seberapa produktif saya”

Banyak dari generasi Baby Boomer dibesarkan dalam budaya kerja keras dan produktivitas sebagai tolok ukur harga diri.

Setelah pensiun atau ketika kemampuan untuk bekerja menurun, mereka mulai merasa kehilangan identitas dan merasa tidak lagi berguna.

Dampak psikologis:

Keyakinan ini dapat memicu depresi ringan hingga berat karena individu merasa tidak lagi "bernilai".

Mereka kesulitan menemukan makna hidup di luar pekerjaan atau kontribusi produktif.

Apa kata psikologi?

Psikologi eksistensial menekankan bahwa makna hidup tidak selalu datang dari kontribusi eksternal, tetapi juga dari kedamaian batin, relasi yang bermakna, dan kepuasan personal.

3. “Saya harus kuat dan tidak boleh mengeluh”

Baby Boomer tumbuh dalam lingkungan yang sering kali menekankan pentingnya ‘tahan banting’ dan ‘jangan mengeluh’.

Ini membuat banyak dari mereka sulit mengekspresikan rasa sakit, ketidakpuasan, atau kebingungan secara terbuka.

Dampak psikologis:

Perasaan tertekan yang terus dipendam dapat berkembang menjadi kecemasan kronis, kesepian, dan bahkan kemarahan yang terselubung.

Mereka sering merasa sendirian karena tidak ada ruang untuk menjadi rentan.

Apa kata psikologi?

Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara sehat justru meningkatkan kesejahteraan mental dan membangun hubungan yang lebih otentik.

4. “Hidup harus berjalan sesuai rencana”

Sebagai generasi yang menghargai stabilitas, banyak Baby Boomer yang terbiasa merencanakan hidup mereka dengan pola yang kaku: sekolah, kerja, menikah, pensiun.

Ketika kenyataan tidak berjalan sesuai dengan harapan—misalnya perceraian di usia senja, anak-anak yang tidak sesuai ekspektasi, atau impian yang tidak tercapai—mereka bisa merasa gagal atau kehilangan arah.

Dampak psikologis:

Keyakinan ini membuat mereka sulit menerima perubahan atau beradaptasi.

Mereka merasa kehilangan kontrol atas hidup, dan ini bisa menimbulkan frustrasi serta perasaan tidak relevan.

Apa kata psikologi?

Psikologi kognitif menyarankan bahwa fleksibilitas kognitif—kemampuan untuk menerima dan beradaptasi terhadap perubahan—adalah kunci kebahagiaan, terutama di usia tua.

5. “Kebahagiaan adalah sesuatu yang harus dikejar, bukan dirasakan saat ini”

Keyakinan ini membawa banyak Baby Boomer untuk terus menunda kebahagiaan demi tanggung jawab atau pencapaian.

Ketika akhirnya mencapai usia tua, mereka mendapati bahwa ‘pengejaran’ itu belum juga berakhir, dan kini tidak ada lagi ‘tujuan besar’ yang terasa berarti.

Dampak psikologis:

Mereka mengalami kehampaan emosional karena merasa sudah menjalani hidup seperti seharusnya, tetapi tetap tidak merasa utuh atau bahagia.

Apa kata psikologi?

Psikologi positif menunjukkan bahwa kebahagiaan bukanlah tujuan, melainkan proses yang dapat ditemukan dalam pengalaman sehari-hari: syukur, hubungan sosial, kesadaran penuh (mindfulness), dan keterlibatan dalam hal-hal kecil yang bermakna.

Penutup: Waktunya Membebaskan Diri

Jenuh terhadap hidup bukanlah tanda bahwa seseorang sudah “selesai” dengan hidupnya.

Sebaliknya, itu bisa menjadi sinyal penting bahwa saatnya menggali kembali makna yang lebih otentik.

Melepaskan keyakinan-keyakinan yang membatasi bukanlah hal mudah, terutama jika itu telah terpatri selama puluhan tahun.

Namun, perubahan tetap mungkin—dan bahkan bisa membebaskan.

Mungkin yang dibutuhkan bukanlah hidup baru, tetapi cara baru untuk melihat hidup yang lama.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti