JawaPos.com - Bagi beberapa orang, barang-barang yang sudah usang atau yang tidak layak pakai dapat menjadi harta karun yang berharga.
Beberapa orang tampaknya memiliki hubungan yang cukup unik dengan barang-barang yang mereka miliki.
Tak jarang, orang-orang tersebut memilih untuk menyimpan barang bukan karena nilainya, tetapi karena berpikir mungkin berguna suatu hari nanti atau untuk berjaga-jaga.
Padahal faktanya, perilaku menimbun barang yang sudah usang bukan hanya bersikap terlalu berhati-hati.
Menurut psikologi, orang yang merasa sulit untuk melepaskan suatu barang sering kali menunjukkan ciri-ciri kepribadian tertentu.
Dilansir dari Geediting, inilah 7 ciri kepribadian dari orang-orang yang yang kesulitan membuang barang untuk berjaga-jaga.
1. Sering kali sentimental
Orang yang kesulitan membuang barang sering kali memiliki rasa sentimental yang tinggi.
Setiap barang, tidak peduli seberapa sepele kelihatannya, dapat menyimpan kenangan atau emosi yang sulit mereka lepaskan.
Bagi mereka, membuang barang-barang ini terasa seperti melepaskan sebagian masa lalu mereka.
Psikologi mengungkapkan bahwa keterikatan emosional terhadap benda-benda ini merupakan sifat umum di antara mereka yang merasa sulit untuk merapikan tempat tinggal mereka.
2. Melihat potensi dalam segala hal
Orang-orang yang kesulitan membuang barang sering kali melihat potensi dalam segala hal. Mereka percaya bahwa bahkan benda yang paling biasa atau rusak pun dapat digunakan kembali atau diperbaiki "suatu hari nanti".
Psikologi menjelaskan hal ini sebagai perkiraan yang terlalu optimis. Kita melebih-lebihkan penggunaan barang-barang ini di masa mendatang, yang membuat kita sulit menyingkirkannya.
3. Mempertahankan kontrol
Ketika hidup terasa tak terduga, kita sering mencari cara untuk mendapatkan kembali kendali. Salah satunya bagi sebagian dari kita, kendali ini datang dalam bentuk harta benda.
Menyimpan barang-barang "untuk berjaga-jaga" memberi kita rasa aman dan siap siaga. Ada rasa nyaman saat mengetahui kita punya rencana cadangan di lemari atau garasi, meskipun itu berupa sekumpulan sekrup yang tidak serasi atau kabel komputer yang sudah berumur puluhan tahun.
Keinginan untuk mempertahankan kendali ini dapat terwujud dalam ketidakmampuan kita untuk melepaskan barang-barang, bahkan barang-barang yang tidak kita butuhkan atau gunakan.
4. Suka menunda-nunda
Sambil menatap laci yang berantakan atau lemari yang penuh sesak, kita berjanji pada diri sendiri, "Saya akan membereskannya besok". Namun, hari esok itu sering kali berlalu hingga minggu depan, bulan depan, atau terkadang, tahun depan.
Orang yang merasa sulit membuang barang sering kali menunjukkan kecenderungan menunda-nunda.
Tugas memilah barang dan memutuskan apa yang harus dibuang bisa terasa sangat berat. Oleh karena itu, mereka menundanya, sehingga menciptakan siklus kekacauan yang berkelanjutan.
Penundaan dalam konteks ini bukan tentang kemalasan. Ini lebih tentang kelelahan emosional dan keletihan dalam mengambil keputusan yang terkait dengan pembersihan.
5. Takut menyesal
Ada ketakutan tertentu yang muncul saat membuang sesuatu. Ketakutan itu muncul saat kita membuang sesuatu, tiba-tiba kita akan membutuhkannya, dan penyesalan yang mengikutinya bisa sangat besar.
Rasa takut akan penyesalan ini sering kali lebih terasa pada orang-orang yang kesulitan membuang barang.
Pikiran "Andai saja aku tidak membuangnya" dapat menjadi pencegah yang kuat, sehingga lebih sulit untuk berpisah dengan barang-barang milik kita.
6. Menemukan kenyamanan dalam keakraban
Kaos lama yang sudah usang, sepatu usang yang sudah menempuh jarak ribuan mil, buku-buku berdebu dari masa kuliah, semuanya menceritakan sebuah kisah. Kisah kita.
Bagi orang-orang yang merasa sulit untuk membuang barang, barang-barang ini menawarkan rasa keakraban yang menenangkan.
Barang-barang ini berfungsi sebagai pengingat nyata akan perjalanan, pengalaman, dan pertumbuhan kita.
Keterikatan pada keakraban ini bukan hanya tentang menjadi sentimental. Ini tentang menemukan kenyamanan di masa lalu kita dan kesinambungan yang diberikannya di dunia yang terus berubah.
7. Menghargai kesiapan
Orang-orang yang berusaha keras untuk membuang barang sering kali adalah mereka yang menghargai kesiapsiagaan.
Mereka suka bersiap untuk setiap skenario, dan memiliki barang-barang ini di tangan memberikan rasa aman.
Ini bukan tentang menimbun atau membuat kekacauan, ini tentang bersiap untuk segala kemungkinan.
Psikologi memberitahu kita bahwa sifat ini berakar kuat dalam naluri bertahan hidup kita. Kebutuhan untuk bersiap menghadapi keadaan yang tidak terduga.