JawaPos.com – Dalam perspektif psikologi, perbedaan cara pandang dan pola hidup antargenerasi menjadi fenomena yang tak terhindarkan, termasuk antara generasi Baby Boomer, Milenial, dan Gen Z.
Banyak kebiasaan atau pola pikir yang dulu dianggap lumrah dan relevan di era Baby Boomer, kini justru dinilai usang dan tak lagi sesuai dengan realitas kehidupan generasi muda masa kini.
Seiring perkembangan zaman, perubahan sosial, teknologi, hingga nilai-nilai hidup membuat Milenial dan Gen Z cenderung meninggalkan kebiasaan lama yang dianggap tak lagi relevan.
Beberapa hal yang biasa dilakukan generasi Baby Boomer namun justru dinilai sudah tak sejalan dengan cara berpikir dan gaya hidup Milenial serta Gen Z.
Dilansir dari geediting.com pada Jumat (21/3), diterangkan bahwa terdapat delapan hal yang dilakukan generasi baby boomer yang tak relevan dengan milenial dan gen z menurut psikologi.
Baca Juga: 8 Ucapan Baby Boomer yang Bikin Generasi Z dan Milenial Jengah, Salah Satunya Dulu Zaman Saya...
1. Menulis cek untuk segala hal
Menggunakan buku cek di kasir saat ini tampak sangat ketinggalan zaman bagi anak muda.
Para baby boomer sering menghabiskan waktu beberapa menit untuk menulis cek dibandingkan dengan sekadar menggesek kartu atau mengetuk ponsel mereka.
Kebiasaan ini bukanlah sekadar tentang menolak perubahan, tetapi lebih kepada rasa percaya dan kenyamanan terhadap metode pembayaran yang telah digunakan selama puluhan tahun.
Bagi mereka, cek memberikan rasa kendali atas keuangan yang lebih nyata dan berwujud. Sementara dunia digital terus berkembang dengan metode pembayaran yang lebih efisien dan aman, baby boomer tetap setia pada cara tradisional ini.
Meskipun memperlambat antrean kasir, praktik ini mencerminkan preferensi terhadap sistem yang telah mereka percayai.
2. Menghindari teknologi
Baby boomer sering kali menunjukkan keengganan untuk beralih dari perangkat lama seperti ponsel flip ke smartphone terbaru.
Mereka sering berargumen bahwa perangkat sederhana sudah cukup memenuhi kebutuhan dasar mereka tanpa fitur tambahan yang dianggap tidak perlu.
Penolakan terhadap teknologi ini berakar pada preferensi mereka untuk interaksi langsung dan komunikasi tatap muka yang mereka nilai lebih tinggi.
Bagi mereka, dunia yang penuh dengan perangkat digital dan aplikasi hanya menambah kerumitan dalam kehidupan yang sudah kompleks.
Meskipun tidak semua baby boomer menolak teknologi, masih banyak yang lebih memilih kehidupan yang lebih sederhana tanpa gangguan gadget terbaru.
Pandangan ini juga mengandung pesan penting tentang keseimbangan antara teknologi dan interaksi dunia nyata yang mungkin perlu direnungkan oleh semua orang.
3. Menolak belanja online
Meskipun kenyamanan dan variasi produk yang ditawarkan belanja online sangat menarik, banyak baby boomer masih memilih berbelanja dengan cara tradisional di toko fisik.
Survei yang dilakukan oleh First Insight menemukan bahwa 71% baby boomer lebih suka berbelanja di toko fisik daripada secara online.
Preferensi ini berasal dari keinginan untuk menghindari biaya pengiriman, kurangnya kepercayaan pada metode pembayaran online, dan ketakutan akan kebocoran data.
Bagi mereka, kemampuan untuk menyentuh, merasakan, dan mencoba produk sebelum membelinya adalah pengalaman yang sangat berharga.
Sementara itu, anak muda merangkul kenyamanan e-commerce dengan kemampuan berbelanja dari mana saja kapan saja, pengiriman cepat, dan kebijakan pengembalian yang mudah.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa preferensi berbelanja sangat dipengaruhi oleh kenyamanan dan pengalaman masing-masing kelompok usia.
4. Mengirim surat fisik
Di era komunikasi digital yang serba cepat, baby boomer masih menghargai pesona surat tulisan tangan yang dikirim melalui pos.
Mereka sering meluangkan waktu untuk menulis, memberi alamat, menempelkan perangko, dan mengirim surat alih-alih mengirim email atau pesan singkat.
Surat tulisan tangan dianggap lebih personal dan penuh perhatian, menunjukkan bahwa pengirim telah meluangkan waktu dan usaha untuk menuangkan pikirannya di atas kertas.
Menerima surat tak terduga di kotak pos memberikan kegembiraan tersendiri, berbeda dengan email atau pesan teks yang mudah tenggelam dalam kekacauan digital.
Meskipun tampak kuno di dunia digital yang serba cepat, mengirim surat fisik adalah kebiasaan baby boomer yang masih memiliki daya tarik tersendiri.
Praktik ini mengingatkan kita bahwa komunikasi bukan hanya tentang efisiensi, tetapi juga tentang makna dan sentuhan personal.
5. Bertahan dengan telepon rumah
Bagi banyak baby boomer, telepon rumah masih dianggap sebagai alat komunikasi penting yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Mereka sering mengungkapkan kekhawatiran seperti “Bagaimana jika ponsel mati?” atau “Bagaimana jika ada keadaan darurat?” yang menunjukkan bahwa telepon rumah dipandang sebagai jaring pengaman dan rencana cadangan.
Baby boomer melihat telepon rumah sebagai koneksi yang andal ke dunia luar, berbeda dengan ponsel yang baterai bisa habis atau sinyal bisa hilang.
Bagi anak muda yang tumbuh dengan ponsel sebagai alat komunikasi utama, ketergantungan pada telepon rumah ini bisa tampak usang dan tidak efisien.
Namun bagi baby boomer, mempertahankan telepon rumah bukan hanya tentang komunikasi, tetapi juga tentang memegang sesuatu yang familiar di dunia yang berubah cepat. Ada sesuatu yang menenangkan tentang dering telepon rumah yang sudah dikenal sejak lama.
6. Menghindari selfie
Di era di mana selfie mendominasi media sosial, banyak baby boomer bukan penggemar praktik ini.
Mereka berasal dari masa di mana foto lebih tentang menangkap momen bersama daripada promosi diri, sehingga sering melihat selfie sebagai tindakan yang agak terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri.
Sebaliknya, anak muda menggunakan selfie sebagai bentuk ekspresi diri dan komunikasi, di mana sebuah selfie bukan sekadar gambar tetapi juga pernyataan, emosi, dan cerita.
Meskipun akan tersenyum untuk foto kelompok atau berpose untuk potret, ketika datang pada mengangkat ponsel dan mengambil foto sendiri, baby boomer sering enggan.
Penghindaran terhadap selfie ini mungkin tampak ketinggalan zaman bagi anak muda, tetapi juga bisa menjadi pengingat lembut untuk semua orang agar lebih fokus pada dunia sekitar daripada diri sendiri. Pada akhirnya, ada lebih banyak hal dalam hidup daripada sekadar menyempurnakan sudut selfie.
7. Memilih peta cetak
Di dunia dengan teknologi GPS yang membuat navigasi semudah mengetikkan alamat, banyak baby boomer masih memilih metode lama menggunakan peta cetak.
Membuka peta besar, menelusuri rute dengan jari, dan merencanakan perjalanan memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka meskipun tampak rumit dan memakan waktu bagi anak muda.
Menggunakan peta membutuhkan keterlibatan lebih dan kesadaran akan lingkungan sekitar daripada sekadar mengikuti perintah suara dari GPS.
Ini adalah keterampilan yang membutuhkan kesabaran dan perhatian terhadap detail - kualitas yang terkadang hilang di dunia digital yang serba cepat.
Meskipun lebih memilih peta cetak daripada GPS mungkin tampak ketinggalan zaman, hal ini juga bisa dilihat sebagai penghormatan terhadap masa ketika perjalanan lebih tentang proses daripada tujuan.
Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa terkadang cara lama masih memiliki nilai tersendiri.
8. Bertahan dengan media tradisional
Di dunia layanan streaming dan berita digital, banyak baby boomer masih menyukai media tradisional untuk mendapatkan informasi.
Membaca koran fisik dengan secangkir kopi dan menonton berita malam di televisi menjadi rutinitas yang dihargai oleh mereka.
Sementara anak muda cepat beralih ke konten streaming atau mendapatkan pembaruan berita dari media sosial, baby boomer menghargai keandalan dan keakraban outlet tradisional.
Media tradisional menawarkan rasa otoritas dan kepercayaan yang terkadang kurang dalam lanskap digital yang dipenuhi dengan berita palsu dan informasi yang belum terverifikasi.
Ini bukan hanya tentang nostalgia atau resistensi terhadap perubahan, tetapi lebih pada mencari sumber yang terpercaya di era informasi yang berlimpah.
Pilihan baby boomer untuk tetap setia pada media tradisional mengingatkan kita bahwa di era banjir informasi, terkadang cara lama masih merupakan cara terbaik untuk mendapatkan berita yang akurat.
***