← Beranda
Orang yang Meninggikan Suaranya saat Kalah dalam Argumen Biasanya Menunjukkan 7 Ciri Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSenin, 17 Maret 2025 | 23.41 WIB
seseorang yang meninggikan suara saat kalah berargumen./(Pexels)

JawaPos.com - Beradu argumen adalah hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, ada orang yang ketika merasa kalah dalam perdebatan justru memilih untuk meninggikan suaranya.

Alih-alih memberikan argumen yang lebih kuat atau mencoba memahami perspektif lawan bicaranya, mereka cenderung meningkatkan volume suara sebagai bentuk dominasi atau pertahanan diri.

Menurut psikologi, perilaku ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi bisa mencerminkan pola pikir dan karakter tertentu.

Dilansir dari Small Biz Technology pada Senin (17/3), terdapat tujuh ciri yang biasanya dimiliki oleh orang yang meninggikan suaranya saat kalah dalam argumen.

1. Mudah Terpancing Emosi

Orang yang sering meninggikan suaranya dalam debat biasanya memiliki kontrol emosi yang rendah.

Ketika argumen mereka mulai terpatahkan, mereka merasa terancam dan bereaksi dengan kemarahan alih-alih berpikir logis.

Ini adalah bentuk respons emosional yang disebut amygdala hijack, yaitu ketika bagian otak yang mengatur emosi (amygdala) mengambil alih respons rasional seseorang.

Mereka sering kali sulit menerima kenyataan bahwa mereka mungkin salah dan lebih fokus pada bagaimana mempertahankan ego mereka, bukan pada kebenaran atau logika dalam diskusi.

2. Cenderung Agresif dalam Komunikasi

Psikologi mengenal tiga gaya komunikasi utama: pasif, agresif, dan asertif.

Orang yang sering meninggikan suara dalam perdebatan cenderung memiliki gaya komunikasi yang agresif.

Mereka lebih suka menggunakan nada suara yang keras, tekanan emosional, dan bahkan intimidasi untuk memenangkan argumen.

Alih-alih mendengarkan dan berusaha memahami sudut pandang orang lain, mereka menggunakan volume suara sebagai senjata untuk menekan lawan bicara mereka.

3. Memiliki Ego yang Rentan

Orang dengan ego yang kuat biasanya tidak keberatan mengakui kesalahan atau menerima pendapat lain.

Sebaliknya, mereka yang sering meninggikan suara dalam perdebatan cenderung memiliki ego yang rapuh.

Bagi mereka, kalah dalam argumen sama dengan kehilangan harga diri.

Karena itu, mereka lebih memilih untuk mengalihkan perhatian dari kelemahan logika mereka dengan cara yang lebih emosional, seperti berteriak atau menyela lawan bicara.

4. Sulit Menerima Kritik

Salah satu tanda bahwa seseorang memiliki ketahanan emosional yang baik adalah kemampuannya menerima kritik tanpa merasa tersinggung atau marah.

Orang yang sering menaikkan suaranya saat berdebat biasanya tidak nyaman dengan kritik.

Mereka melihat kritik sebagai serangan pribadi daripada sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Akibatnya, mereka bereaksi secara defensif, yang bisa berupa peningkatan volume suara atau bahkan sikap menyerang balik.

5. Tidak Terbiasa dengan Diskusi yang Sehat

Orang yang sering meninggikan suara dalam debat mungkin tidak terbiasa dengan konsep diskusi yang sehat.

Mereka cenderung melihat perdebatan sebagai pertarungan yang harus dimenangkan, bukan sebagai pertukaran ide yang bisa memperkaya pemahaman kedua belah pihak.

Ketika mereka merasa kalah dalam argumen, mereka tidak mencari cara untuk memperdalam pemahaman atau mendiskusikan lebih lanjut, melainkan berusaha menguasai situasi dengan volume suara yang lebih tinggi.

6. Sering Menggunakan Logika Emosional, Bukan Rasional

Dalam argumen yang sehat, seseorang menggunakan fakta, data, dan logika untuk mendukung pendapatnya.

Namun, mereka yang sering meninggikan suara lebih sering menggunakan logika emosional.

Logika emosional adalah ketika seseorang mengandalkan perasaan dan emosi mereka untuk membenarkan argumen, bukan fakta objektif.

Mereka merasa bahwa semakin keras mereka berbicara, semakin kuat argumen mereka terdengar, meskipun sebenarnya tidak memiliki dasar yang kuat.

7. Mempunyai Pola Komunikasi yang Kurang Efektif dalam Hubungan Sosial

Cara seseorang berdebat sering mencerminkan bagaimana mereka berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang sering meninggikan suaranya biasanya juga mengalami kesulitan dalam hubungan sosial, baik di tempat kerja, dalam keluarga, maupun dalam pertemanan.

Karena seringnya menggunakan nada tinggi untuk menekan lawan bicara, orang lain mungkin mulai menghindari berdiskusi dengan mereka.

Hal ini bisa menyebabkan kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis dengan orang lain.

Kesimpulan

Meninggikan suara dalam perdebatan bukanlah tanda kemenangan, melainkan bisa menunjukkan ketidakmampuan seseorang dalam mengelola emosi dan berkomunikasi secara efektif.

Orang yang memiliki kontrol diri yang baik cenderung tidak terpancing untuk berteriak ketika kalah dalam argumen.

Sebaliknya, mereka lebih memilih mendengarkan, memahami perspektif lawan bicara, dan merespons dengan tenang dan logis.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal memiliki kebiasaan ini, penting untuk mulai berlatih komunikasi yang lebih asertif dan mengembangkan kecerdasan emosional agar bisa berdiskusi dengan lebih konstruktif dan dewasa.

EDITOR: Hanny Suwindari