JawaPos.com - Di era yang semakin terhubung ini, keberadaan media sosial memungkinkan kita untuk terhubung dengan jutaan orang secara instan. Namun, ironisnya, penelitian menunjukkan bahwa individu yang lebih sering menggunakan media sosial justru cenderung merasa lebih kesepian dan lebih rentan mengalami depresi. Survei juga mengindikasikan bahwa jumlah teman yang dimiliki orang saat ini lebih sedikit dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Berdasarkan berbagai studi, delapan dari sepuluh anggota Gen Z merasa terisolasi. Tidak hanya itu, generasi ini juga mengalami kesulitan dalam membangun pertemanan di tempat kerja. Hanya sekitar 24% dari Gen Z yang berhasil menjalin pertemanan melalui pekerjaan mereka. Selain itu, sekitar 82% dari hubungan pertemanan yang terbentuk di lingkungan kerja biasanya berakhir ketika salah satu pihak mengundurkan diri dari pekerjaannya atau lulus dari pendidikan tinggi.
Sebagai manusia, kita adalah makhluk sosial, sehingga kita tidak bisa benar-benar hidup sendiri sepenuhnya. Kita tetap memerlukan teman. Jika ditanya apakah pertemanan itu penting, jawabannya adalah iya. Namun, pentingnya memiliki teman tidak bisa diukur hanya berdasarkan jumlahnya. Ketika masih sekolah atau kuliah, memiliki banyak sekali teman dan mengenal banyak orang dari berbagai kalangan adalah hal yang lumrah.
Namun, seiring waktu, jumlah teman justru semakin sedikit. Sehingga kita menyadari bahwa teman yang bertahan hingga saat ini adalah mereka yang memiliki kualitas hubungan yang lebih baik. Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa uang adalah hal yang paling penting, atau passion, sedekah, dan ibadah yang paling utama. Memang, semua itu penting. Namun, tanpa adanya hubungan yang baik dengan orang lain, kebahagiaan tetap tidak akan terasa lengkap.
Menariknya, di era sekarang, kita justru lebih fokus pada uang atau bentuk-bentuk "mata uang" lainnya, seperti personal branding dan jumlah pengikut di media sosial. Ini bisa menjadi perdebatan, apakah seseorang lebih bahagia jika kaya tetapi kesepian di hotel mewah, atau lebih bahagia meskipun miskin tetapi memiliki banyak teman yang selalu menemani? Meskipun ini bisa didiskusikan lebih lanjut, pada akhirnya, kebahagiaan yang ideal adalah ketika seseorang memiliki kekayaan sekaligus hubungan sosial yang kuat.
Jika kamu saat ini memiliki banyak teman, bahkan beberapa di antaranya adalah teman dekat yang berkualitas, serta memiliki kondisi finansial yang baik, maka kamu seharusnya bersyukur. Karena, sejujurnya, mencari teman yang baik itu lebih sulit daripada mencari uang. Uang bisa dicari dengan mengikuti bootcamp, bekerja, atau belajar dari mentor online tentang bisnis, investasi, dan keterampilan lainnya. Namun, mencari dan mempertahankan pertemanan adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks secara psikologis
Pertanyaannya, bagaimana bisa generasi muda saat ini mengalami kesulitan besar dalam mencari dan mempertahankan pertemanan, padahal mereka hidup di era media sosial? Inilah pertanyaan besar yang perlu dijawab. Dilansir dari kanal YouTube Satu Persen - Indonesian Life School, empat faktor utama yang membuat orang zaman sekarang kesulitan dalam membangun pertemanan, yaitu:
1. Perubahan Gaya Hidup
Orang-orang saat ini lebih memilih untuk menonton YouTube, bermain TikTok, Instagram, atau Mobile Legends daripada berinteraksi secara langsung.
2. Perubahan Nilai-Nilai yang Dianut
Dengan perkembangan industri dan ekonomi digital, banyak orang lebih fokus pada tujuan pribadi mereka daripada membangun hubungan sosial. Mereka lebih sibuk mengejar personal branding dan mencari uang dibandingkan menjalin pertemanan.
3. Menunda Hubungan Serius
Tren menunda pernikahan semakin meningkat. Banyak orang memilih untuk bekerja terlebih dahulu dibandingkan mencari pasangan atau membangun hubungan jangka panjang. Akibatnya, kebutuhan akan teman pun berkurang.
4. Kurangnya Waktu dan Biaya untuk Berteman
Semakin banyak orang yang merasa tidak memiliki cukup waktu dan uang untuk bersosialisasi. Misalnya, jika seseorang memiliki teman yang lebih kaya darinya, ia merasa perlu mengikuti gaya hidup mereka yang mahal, seperti nongkrong di kafe mahal, yang pada akhirnya bisa memberatkan kondisi finansialnya.
Lalu, bagaimana cara membangun pertemanan tanpa harus mengorbankan keuangan dan kesehatan mental? Penting untuk memahami bahwa pertemanan adalah hubungan timbal balik yang didasarkan pada ikatan emosional dan bersifat sukarela. Ada tiga alasan utama mengapa orang berteman:
- Kebermanfaatan (Utilitas) – Pertemanan ini berdasarkan kebutuhan tertentu dan biasanya tidak melibatkan ikatan emosional yang mendalam. Setelah kebutuhan selesai, hubungan ini cenderung berakhir.
- Kesamaan minat (Suka sama suka) – Pertemanan ini terbentuk karena adanya minat atau hobi yang sama.
- Kebaikan (Goodness) – Pertemanan yang didasarkan pada ketulusan dan keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi satu sama lain tanpa syarat.
Untuk membangun pertemanan yang sehat, kita bisa melakukan beberapa hal:
- Mengidentifikasi karakteristik teman yang kita butuhkan agar dapat memilih orang yang tepat untuk dijadikan teman.
- Mengembangkan empati dan sikap baik terhadap orang-orang di sekitar kita.
- Menginvestasikan waktu dan energi dalam hubungan sosial.
- Berkomunikasi secara terbuka dan jujur untuk menghindari kesalahpahaman.
- Mempraktikkan active listening dan memberikan dukungan yang sesuai kepada teman.
- Menetapkan batasan yang sehat dalam pertemanan agar tetap nyaman bagi kedua belah pihak.
Sebagai makhluk sosial, kita memang memerlukan teman, tetapi teman bukan satu-satunya sumber kebahagiaan atau solusi dalam hidup. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyeimbangkan antara hubungan sosial dan aspek kehidupan lainnya.