JawaPos.com - Kondisi manusia penuh dengan ketidaksempurnaan. Kita semua menghadapi tantangan, membuat kesalahan, dan terkadang mengucapkan hal-hal yang kita sesali. Momen-momen ini tidak membuat kita buruk, tetapi justru menegaskan kemanusiaan kita.
Seringkali, label baik atau buruk muncul berdasarkan pandangan orang lain terhadap perilaku kita yang sudah terbentuk. Misalnya, seseorang yang sering bertindak dengan kebaikan dan kasih sayang mungkin dianggap baik. Sayangnya, menjadi baik bukan berarti seseorang tak bisa melakukan kesalahan.
Dengan memahami mengapa orang baik pun dapat berbuat buruk, kita bisa lebih mengembangkan empati dan kasih sayang dalam diri kita. Dirangkum dari Psych Central, berikut ini beberapa alasan orang baik melakukan perilaku yang begitu buruk dan tidak pernah dipikirkan sebelumnya.
1. Trauma masa lalu
Masa lalu kita sering mempengaruhi perilaku saat ini tanpa disadari. Psikolog Rod Mitchell menerangkan bahwa trauma yang belum diselesaikan bisa membuat orang baik bertindak merugikan, seakan bayangan dari masa lalu menutupi sisi kemanusiaan mereka. Setiap orang merespons trauma dengan cara berbeda, dan bagi sebagian orang, hal itu dapat mengarah pada keputusan yang buruk.
Misalnya, trauma masa kecil mampu mengakibatkan rasa tidak aman yang berlanjut hingga dewasa, atau pengalaman kelaparan di masa lalu mendorong seseorang untuk mencuri atau menimbun makanan. Akan tetapi, niat awal mereka bukan untuk menyakiti, melainkan akibat perasaan negatif yang belum terselesaikan.
2. Mode bertahan hidup
Menurut Dr. David Tan, seorang psikiater anak dan forensik dari Bay of Plenty, Selandia Baru, mode bertahan hidup dapat menjadi alasan lain mengapa orang baik terkadang melakukan hal buruk. Ketika seseorang merasa terpojok atau terdesak, perilaku mereka bisa berubah sebagai respons terhadap tekanan hidup.
Misalnya, apabila seseorang kehilangan pekerjaan dan menghadapi kesulitan keuangan yang berat, seperti hampir kehilangan tempat tinggal, perasaan putus asa dan stres yang luar biasa bisa mendorong mereka guna mempertimbangkan pilihan yang tidak etis, seperti penipuan atau pencurian, demi bertahan hidup dan menafkahi keluarga.
3. Kebutuhan menjadi bagian
Kemanusiaan secara alami bersifat sosial, berkembang melalui kerja sama dan kolaborasi. Keinginan merasa diterima di antara teman-teman menjadi hal yang wajar. Lindsey Tong merupakan seorang pekerja sosial klinis dari Woodland Hills, California, menjelaskan bahwa salah satu alasan orang baik bisa melakukan hal buruk akibat tekanan atau pengaruh masyarakat.
Keinginan untuk menyesuaikan diri dan diterima umunya membuat seseorang bertindak melawan penilaian mereka yang lebih baik. Contohnya, seseorang mungkin ikut bergosip buruk tentang rekan kerja walau tahu itu salah. Menurut Tong, perilaku seperti ini bukan berarti mereka jahat, namun menunjukkan bagaimana pengaruh eksternal bisa mempengaruhi bahkan orang yang berniat baik sekalipun.
4. Kurang kesadaran diri
Kesadaran diri adalah pemahaman tentang perasaan dan posisi kita di dunia. Menurut Tong, hal ini sering menjadi alasan mengapa orang baik bisa bertindak buruk. Dia mengatakan bahwa ketika seseorang tidak selaras dengan emosi atau nilai-nilainya, mereka bisa bertindak melawan keyakinannya.
Ini sering terjadi saat seseorang stres atau merasa kewalahan tanpa sempat merenungkan tindakannya. Misalnya, ketika bertengkar, seseorang bisa mengatakan hal-hal menyakitkan karena terlalu terjebak pada perasaan kecewa dan frustasi. Alih-alih menghadapinya sendiri, mereka malah memproyeksikan rasa sakit itu kepada orang lain.
5. Terlalu besar kebaikan yang dilakukan
Tujuan menghalalkan cara merupakan pepatah dari filsuf Italia Niccolo Machiavelli yang menyatakan bahwa tindakan negatif bisa dibenarkan demi mencapai hasil positif. Mitchell menerangkan bahwa rasa kendali sering menjadi alasan mengapa orang baik bisa bertindak buruk.
Kadang, orang baik bertindak demi kebaikan yang lebih besar tanpa menyadari dampak buruknya. Kesalahan ini terjadi karena mereka merasa bisa mengendalikan atau memprediksi hasilnya. Contohnya, pembangkangan sipil ekstrem seperti perusakan properti demi menarik perhatian pada isu sosial penting, seperti perubahan iklim.
6. Keadilan yang salah arah
Ketika merasa dirugikan, kita sering merasa pembalasan dengan cara yang sama negatifnya menjadi hal yang wajar. Menurut Tan, Kita mungkin melakukan hal buruk saat membenarkan tindakan tertentu, meski dengan motivasi yang salah, seperti membalas suatu hal yang dianggap sepele atau menyakitkan. Misalnya, seseorang mungkin berselingkuh sebagai bentuk balasan sebab mengetahui pasangannya tidak setia.
7. Gangguan kesehatan mental
Gangguan kesehatan mental dapat memengaruhi cara seseorang melihat dunia dan berinteraksi dengan orang lain. Misalnya, gangguan kepribadian narsistik (NPD) cenderung membuat penderitanya punya empati yang rendah, sehingga kesulitan memahami perasaan orang lain. Beberapa gangguan kepribadian bisa meningkatkan kecenderungan berpikir negatif, namun itu tidak menjadikan seseorang buruk.
Gangguan lain seperti depresi atau kecemasan, juga dapat mengubah perilaku seseorang yang mungkin dianggap negatif oleh orang lain. Contohnya, seseorang dengan depresi mayor (MDD) mampu mengabaikan komitmen atau tanggung jawab yang biasanya dianggap sebagai perilaku buruk.