← Beranda

8 Ciri Orang yang Dibesarkan dalam Keluarga yang Tidak Harmonis, Dampaknya Terasa hingga Dewasa!

Ajilan Fauza FathayanieJumat, 7 Maret 2025 | 19.45 WIB
Ilustrasi orang yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis

JawaPos.com - Masa kecil adalah fondasi utama yang membentuk kepribadian dan pola pikir seseorang di masa dewasa.

Bagi mereka yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, pengalaman masa kecil sering kali meninggalkan jejak emosional yang sulit dihapus.

Ketidakhadiran kasih sayang, konflik berkepanjangan, atau kurangnya stabilitas bisa membentuk pola perilaku tertentu yang terbawa hingga dewasa.

Tanpa disadari, luka masa kecil ini memengaruhi cara mereka menjalani hubungan, membuat keputusan, hingga melihat diri sendiri.

Dilansir dari laman Small Biz Technology pada Jumat (7/3), berikut merupakan 8 ciri orang yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis, di mana dampaknya akan terasa hingga dewasa.

1. Sulit Mempercayai Orang Lain

Seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis sering kali kesulitan untuk mempercayai orang lain.

Jika sejak kecil mereka mengalami hubungan yang penuh dengan konflik, ketidakstabilan, atau bahkan ditinggalkan, mereka akan sulit percaya bahwa orang lain akan tetap ada untuk mereka atau memiliki niat baik.

Bukan berarti mereka tidak menginginkan hubungan yang dekat dan bermakna, tetapi sejak kecil mereka tidak pernah bisa sepenuhnya mengandalkan kepercayaan. Ketika seseorang pernah dikecewakan atau dikhianati, wajar jika mereka takut hal itu akan terulang lagi.

2. Takut Ditinggalkan

Ketika seseorang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis dan memiliki pengalaman kehilangan sejak kecil, baik karena perceraian orang tua, diabaikan secara emosional, atau merasa ditinggalkan oleh orang yang seharusnya ada untuk mereka, rasa takut ini akan melekat dalam diri mereka hingga dewasa.

Menghilangkan rasa takut ini membutuhkan waktu, tetapi penting untuk menyadari bahwa tidak semua orang akan meninggalkan mereka, dan hubungan yang sehat tidak seharusnya didasarkan pada ketakutan.

3. Terbiasa Menyenangkan Orang Lain

Orang yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, penuh konflik atau tidak stabil sering kali mengembangkan kebiasaan untuk selalu mengutamakan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri.

Saat masih kecil, mereka sudah belajar bahwa satu-satunya cara untuk menghindari pertengkaran atau mendapatkan perhatian adalah dengan menjadi "anak baik" yang selalu menyenangkan semua orang.

Seiring waktu, kebiasaan ini berubah menjadi pola di mana mereka merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain.

Sebagai orang dewasa, mereka akan kesulitan menetapkan batasan, merasa bersalah saat mengatakan "tidak," atau selalu mencari validasi dari orang lain.

Meskipun memiliki empati adalah hal yang baik, tetapi mengorbankan kebahagiaan sendiri demi menyenangkan orang lain hanya akan menyebabkan kelelahan dan ketidakpuasan dalam jangka panjang.

4. Sulit Mengungkapkan Emosi

Bagi seseorang yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis, mengekspresikan emosi bisa terasa tidak aman.

Mungkin saat kecil mereka pernah diabaikan, diejek, atau bahkan dimarahi ketika menunjukkan perasaan mereka. Akibatnya, mereka terbiasa menekan emosi mereka daripada mengungkapkannya.

Menyimpan emosi bukan berarti masalah itu hilang, sebaliknya, itu justru bisa menyebabkan stres, kecemasan, bahkan masalah fisik seperti sakit kepala atau kelelahan.

Belajar untuk mengekspresikan perasaan dengan cara yang sehat adalah langkah penting untuk membangun hubungan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih seimbang.

5. Merasa Tidak Layak Dicintai

Ketika seseorang tumbuh dalam keluarga yang kasih sayangnya bersyarat atau tidak konsisten, mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta harus "diperoleh." Mereka merasa bahwa mereka harus membuktikan diri untuk layak dicintai.

Akibatnya, mereka mungkin cenderung bertahan dalam hubungan yang tidak sehat, menerima perlakuan buruk, atau selalu merasa perlu melakukan lebih banyak hal untuk tetap dicintai.

Ada ketakutan mendalam bahwa jika mereka berhenti berusaha, orang-orang akan pergi meninggalkan mereka.

Namun kenyataannya, cinta yang sejati tidak perlu diperjuangkan dengan cara seperti itu. Cinta yang sehat tidak bergantung pada seberapa "berguna" seseorang bagi orang lain.

6. Terlalu Banyak Berpikir dan Meragukan Diri Sendiri

Bagi mereka yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis dan penuh ketidakpastian, setiap keputusan bisa terasa sangat berat.

Hal ini bisa membuat mereka berusaha menghindari kesalahan, dan memprediksi apa yang akan terjadi agar tidak memicu konflik.

Kebiasaan ini sering terbawa hingga dewasa, dan menyebabkan mereka sering memikirkan segala kemungkinan buruk sebelum membuat keputusan, terus-menerus mengulang percakapan di kepala mereka, atau selalu merasa ragu apakah mereka melakukan hal yang benar.

Belajar untuk lebih percaya pada diri sendiri dan menerima bahwa tidak semua keputusan harus sempurna adalah kunci untuk mengatasi kebiasaan ini.

7. Sulit Menjadi Rentan di Depan Orang Lain

Bagi seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, menunjukkan kelemahan sering kali terasa berbahaya.

Mereka mungkin pernah mengalami kritik, penolakan, atau bahkan dimanfaatkan ketika mereka menunjukkan perasaan mereka.

Akibatnya, mereka lebih memilih untuk menyembunyikan sisi emosional mereka, menjaga jarak dengan orang lain, dan hanya membahas hal-hal yang bersifat dangkal dalam percakapan.

Namun, hubungan yang mendalam membutuhkan keterbukaan. Belajar untuk mempercayai orang yang tepat dan membiarkan diri mereka terlihat apa adanya adalah langkah penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat.

8. Menginginkan Stabilitas tetapi Merasa Gelisah

Banyak orang yang tumbuh dalam keluarga yang kacau sebenarnya sangat menginginkan kehidupan yang stabil dan tenang.

Namun, ketika mereka terbiasa hidup dalam ketidakpastian sejak kecil, ketenangan justru bisa terasa aneh atau tidak nyaman.

Hal ini membuat sebagian dari mereka tanpa sadar tertarik pada situasi atau hubungan yang tidak stabil, meskipun mereka sebenarnya menginginkan kestabilan.

Bukan karena mereka menyukai kekacauan, tetapi karena itu adalah hal yang familiar bagi mereka.

Di sisi lain, mereka juga cenderung selalu bersiap untuk menghadapi perubahan. Mereka sulit merasa benar-benar tenang karena ada ketakutan bahwa kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama.

Bahkan dalam momen-momen bahagia, ada perasaan cemas yang selalu mengintai, seolah-olah mereka sedang menunggu sesuatu yang buruk terjadi.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho