← Beranda
Orang yang Hanya Membalas Pesan WhatsApp Ketika Mereka Membutuhkan Sesuatu Biasanya Menunjukkan 7 Kepribadian Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSenin, 3 Maret 2025 | 02.12 WIB
Seseorang yang hanya membalas pesan whatsapp ketika membutuhkan sesuatu. (Freepik/stockking)

 

JawaPos.com - Pernahkah Anda memiliki teman atau kenalan yang hanya menghubungi Anda ketika mereka membutuhkan sesuatu?

Mereka mungkin terlihat ramah saat meminta bantuan, tetapi segera setelah kebutuhan mereka terpenuhi, komunikasi pun terhenti.

Menurut psikologi, pola komunikasi seperti ini sering dikaitkan dengan ciri-ciri kepribadian tertentu.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (2/3), terdapat tujuh kepribadian yang biasanya dimiliki oleh orang-orang yang hanya membalas pesan WhatsApp ketika mereka membutuhkan sesuatu.

1. Egois dan Mementingkan Diri Sendiri

Orang yang hanya menghubungi saat mereka butuh sesuatu sering kali memiliki sifat egois.

Mereka cenderung memprioritaskan kepentingan pribadi dibandingkan hubungan sosial yang seimbang.

Psikologi menyebut perilaku ini sebagai bentuk egosentrisme, di mana seseorang hanya memandang dunia dari perspektif dirinya sendiri tanpa mempertimbangkan perasaan atau kebutuhan orang lain.

2. Kurangnya Empati terhadap Orang Lain

Salah satu alasan utama mengapa mereka tidak repot-repot membalas pesan kecuali ada kepentingan adalah kurangnya empati.

Mereka tidak benar-benar peduli dengan kehidupan atau perasaan orang lain, sehingga membalas pesan yang tidak memberikan manfaat langsung bagi mereka dianggap tidak penting.

Kurangnya empati ini bisa menjadi tanda dari sifat narsistik atau bahkan kecenderungan manipulatif dalam hubungan sosial.

3. Manipulatif dan Memanfaatkan Orang Lain

Individu dengan kecenderungan manipulatif sering menggunakan komunikasi secara strategis untuk mendapatkan keuntungan.

Mereka tahu kapan harus bersikap ramah dan kapan harus mengabaikan pesan.

Saat mereka membutuhkan bantuan, mereka bisa sangat sopan dan perhatian, tetapi setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka kembali menghilang.

4. Kurangnya Keterampilan Sosial yang Sehat

Orang-orang yang tidak membangun hubungan dengan cara yang tulus biasanya memiliki keterampilan sosial yang buruk.

Mereka tidak memahami atau tidak peduli dengan norma-norma sosial seperti membalas pesan secara wajar.

Akibatnya, mereka hanya menjalin komunikasi berdasarkan kebutuhan, bukan karena ingin menjaga hubungan yang sehat dengan orang lain.

5. Sikap Transaksional dalam Hubungan

Bagi mereka, interaksi sosial bukanlah tentang berbagi atau membangun kedekatan, melainkan sekadar transaksi.

Mereka hanya berkomunikasi ketika ada sesuatu yang bisa mereka dapatkan.

Dalam psikologi, ini dikenal sebagai hubungan instrumental, di mana seseorang melihat orang lain sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi mereka.

6. Kurangnya Rasa Hormat terhadap Waktu dan Perasaan Orang Lain

Mereka yang tidak membalas pesan kecuali ada kepentingan sering kali tidak menghargai waktu dan perasaan orang lain.

Mereka tidak berpikir bahwa orang yang mereka abaikan mungkin merasa tidak dihargai atau kecewa.

Hal ini mencerminkan sikap kurangnya respek terhadap orang lain dan menunjukkan bahwa mereka hanya peduli pada kepentingan sendiri.

7. Cenderung Bersikap Acuh Tak Acuh terhadap Hubungan Sosial

Orang yang jarang membalas pesan tetapi aktif saat membutuhkan sesuatu biasanya memiliki sikap acuh tak acuh terhadap hubungan sosial.

Mereka tidak merasa perlu menjaga komunikasi atau membangun hubungan yang lebih dalam.

Dalam psikologi, sikap ini bisa dikaitkan dengan gaya attachment yang menghindar, di mana seseorang cenderung menjaga jarak dalam hubungan interpersonal dan hanya mendekat ketika ada kebutuhan tertentu.

Kesimpulan

Jika Anda mengenali seseorang dengan pola komunikasi seperti ini, penting untuk memahami bahwa itu bukan kesalahan Anda.

Orang-orang dengan tujuh kepribadian ini sering kali tidak menyadari bagaimana perilaku mereka memengaruhi orang lain.

Jika hubungan dengan mereka terasa tidak seimbang, mungkin sudah saatnya untuk menetapkan batasan yang lebih jelas.

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang dibangun atas dasar saling menghargai, bukan hanya ketika ada kebutuhan semata.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti