← Beranda

Gubernur Jakarta Pramono Anung Sebut Gedung Terra Drone Melanggar Aturan, Picu Banyaknya Korban Jiwa

Ryandi ZahdomoKamis, 11 Desember 2025 | 00.28 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengingatkan warga pesisir ibu kota untuk mewaspadai potensi banjir rob yang diprediksi terjadi pada 4–6 Desember 2025. (Masria Pane)

JawaPos.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan sejumlah temuan pelanggaran gedung Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang mengalami kebakaran maut pada Selasa (9/12) kemarin. Pramono secara blak-blakan menyebut gedung tersebut melanggar standar keselamatan bangunan.

Pernyataan ini langsung menjadi sorotan utama. Pasalnya, dugaan pelanggaran ini disinyalir menjadi penyebab utama tingginya jumlah korban jiwa dalam insiden tragis tersebut. Diketahui, sebanyak 22 orang tewas dalam insiden ini.

"Sebenarnya begini, problem utamanya adalah kalau semuanya mentaati aturan pasti tidak terjadi. Ini kan pasti dibangun tanpa aturan," ujar Pramono ditemui di Hotel Mulia, Jakarta Pusat, Rabu (10/12).

Gubernur menyoroti indikasi kuat bahwa standar keselamatan tidak dipenuhi sejak awal pembangunan gedung penyimpanan dan penjualan drone tersebut.

Kondisi fisik gedung, terutama fasilitas penyelamatan darurat, dinilai Pramono sangat minim dan fatal.

"Kalau saya lihat struktur dan sebagainya pasti mereka melanggar aturan. Karena apa? Tangganya kecil banget, dan itu yang menyebabkan beberapa orang yang gak bisa turun ke bawah," jelas Pramono.

Situasi makin diperparah karena ketiadaan jalur keluar yang memadai. Pramono menjelaskan, saat api muncul, asap pekat langsung mengepul dari bawah. Para pekerja tidak menemukan pintu darurat dan terpaksa naik ke lantai atas.

"Ketika kebakar, akhirnya orang, karyawannya, naik ke atas semua, kemudian asap dari bawah. Itulah yang menyebabkan kenapa kemudian yang meninggal cukup banyak," ungkap Pramono.

Selain masalah struktur, Pramono juga menyinggung faktor pemicu cepatnya penyebaran api, yakni ledakan pada drone dan baterai lithium yang disimpan di dalam gedung.

"Problem utamanya adalah gedung tidak dipersiapkan dengan rescue kalau terjadi kebakaran. Memang ada pemadam, hydrantnya ada, tetapi yang tidak ada adalah bagaimana kemudian mereka kan menjual ataupun menyiapkan baterai litium untuk dronenya. Yang jadi problem kan kemarin itu," katanya.

Fakta Lapangan: Gedung Terra Drone Minim Proteksi Kebakaran

Kecurigaan Gubernur Anung diperkuat oleh hasil temuan awal di lokasi. Plh Kepala Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Pusat Mulandono membeberkan bahwa gedung tersebut tidak dilengkapi sistem pencegahan kebakaran yang memadai.

Fasilitas keselamatan standar seperti sprinkler, smoke detector, hingga jalur evakuasi disebut nihil di lokasi kejadian.

"Gedeng tersebut tidak dilengkapi dengan sistem dini pencegahan kebakaran. Dan gedung tersebut belum pernah dilakukan pemeriksaan oleh Sudin Gulkarmat Jakarta Pusat," ujar Mulandono saat dihubungi, Rabu (10/12).

Petugas hanya menemukan beberapa Alat Pemadam Api Ringan (APAR), namun sistem esensial lainnya tidak ada.

"Tidak terdapat springkel, terus smoke detector tidak ada. Kalau smoke detector pastinya bunyi, ini kita sampe sana tidak ada yang bunyi. Jalur evakuasi juga tidak ada," ucapnya.

Kenapa Belum Pernah Diperiksa Gulkarmat?

Mulandono menjelaskan bahwa pemeriksaan legalitas gedung oleh Gulkarmat baru bisa dilakukan setelah ada perintah resmi dari Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).

"Jika sudah ada perintah dari PTSP baru dapat dilalukan pemeriksaa, pengecekan karena menyangkut masalah legalitas," ucapnya.

Pemprov DKI Tanggung Semua Biaya Korban

Akibat insiden ini, tercatat 22 orang meninggal dunia. BPBD DKI Jakarta mencatat 76 pegawai berada di dalam gedung, dengan 54 berhasil diselamatkan dan kini menjalani perawatan.

Gubernur Pramono Anung memastikan Pemprov DKI bertanggung jawab penuh. Semua biaya pemakaman korban meninggal dan perawatan korban luka akan ditanggung oleh Pemprov DKI.

EDITOR: Kuswandi