JawaPos.com - Dimanakah bahagia dapat ditemukan? Apakah saat memiliki banyak uang? Nyatanya, beberapa orang ketika memiliki banyak materi, namun tidak menemukan bahagia.
Dikutip dari YouTube Basa Basi TV, Fahruddin Faiz, dosen Filsafat dan pengisi kajian Masjid Sudirman Yogyakarta memaparkan bagaimana bahagia dapat ditemukan.
Islam sudah jauh-jauh hari menekankan satu hal penting, yaitu: ilmu. Hadis Rasulullah "tholabul 'ilmi faridhotun 'ala kulli muslim" itu bukan cuma anjuran mencari ilmu, tapi sebenarnya kode keras bahwa ilmu itu jalan menuju kebahagiaan.
Kenapa? Karena tanpa ilmu, kita bisa salah ambil keputusan, salah pilih arah hidup. Orang bahagia itu, kata para filsuf Yunani seperti Socrates dan Aristoteles, dasarnya pengetahuan.
Mereka bahkan punya aliran bernama eudaimonisme, dari kata daimon (jiwa), yang intinya kebahagiaan itu letaknya di ketenangan jiwa, dan ketenangan itu lahir dari pengetahuan.
Tapi, ternyata tidak cukup cuma tahu. Bahagia juga butuh kondisi jiwa yang sehat, kata Imam Ghazali.
Kalau jiwa kita dikuasai hasrat untuk menjatuhkan orang lain (jiwa syaitoniyah), atau cuma ingin hidup enak seperti binatang ternak (jiwa bahimiyah), ya bahagianya tidak akan dalam. Cuma di permukaan.
Maka itu, Ghazali membagi kondisi jiwa itu jadi beberapa tingkat. Yang paling ideal adalah jiwa mutmainnah – jiwa yang tenang, ridha terhadap ketetapan Allah, dan tidak gampang goyah oleh apapun.
Ini bukan pasrah yang pasif, tapi penerimaan aktif terhadap hidup. Jadi kuncinya bukan mencari bahagia ke luar, tapi menemukan bahagia dari dalam.
Dari sini, ada tiga kunci utama kebahagiaan yang bisa kita pegang:
1. Ilmu dan Kesadaran
Bahagia dimulai dari tahu. Tahu mana yang utama, mana yang cuma sementara. Bahkan senang itu ada levelnya.
Mulai dari pleasure yang cepat hilang (seperti minum kopi enak 5 menit), naik ke achievement (misal lulus kuliah), naik lagi ke contribution (bisa membantu orang lain), dan yang paling tinggi: ultimate good — berbuat baik tanpa pamrih, ikhlas, lillahi ta'ala.
2. Kondisi Jiwa yang Sehat
Bahagia itu soal stabilitas batin. Jika jiwamu sabu'iyah, kamu senangnya saat menyalahkan orang lain.
Kalau jiwamu syaitoniyah, kamu senangnya saat orang lain hancur. Tapi kalau jiwamu mutmainnah, kamu bahagia dalam menerima apapun dengan lapang dada.
3. Penerimaan (Ridha)
Ini bagian tersulit tapi paling dalam. Menerima, sabar, syukur, tawakal — semua ajaran Islam yang sering kita anggap 'berat', ternyata justru pintu menuju bahagia.
Karena tanpa penerimaan, hidup isinya bakal keluhan terus. Skripsi tidak kelar, sambat. Udah lulus, masih sambat. Jomblo sambat, nikah juga sambat. Padahal kalau di balik cara pandangnya, semua itu bisa jadi nikmat.
Bahagia, pada akhirnya, tidak harus dicari ke mana-mana. Bukan sesuatu yang harus dibeli dengan uang miliaran atau dicapai dengan mengalahkan orang lain.
Tiga kunci tadi: ilmu, kondisi jiwa, dan penerimaan. Semuanya bisa kita temukan dalam diri sendiri.
Baca Juga: Harus Segera Diubah! 8 Kebiasaan Buruk yang Harus Dihentikan agar Hidup Menjadi Lebih Bahagia