JawaPos.com-Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru memamerkan aksi militer besar-besaran di Gaza. Aksi brutal itu dilakukan militer Israel di tengah gencatan senjata yang masih berlangsung.
Baca Juga: Janji Eduardo Perez ke Bonek! Persebaya Surabaya Siap Lumat PSBS Biak di Maguwoharjo
Dalam pidato di hadapan parlemen Isralr, Knesset, Senin (20/10), Netanyahu mengungkapkan bahwa pasukan Israel menjatuhkan 153 ton bom ke wilayah Gaza sehari sebelumnya, langkah yang memicu kritik luas atas dugaan pelanggaran terhadap kesepakatan penghentian tembakan.
Pidato yang semula dimaksudkan untuk menunjukkan 'keberhasilan perang di tujuh front' itu justru memperkuat kesan bahwa pemerintahan Netanyahu masih mengedepankan kekuatan militer di atas diplomasi.
Ia menyebut serangan udara itu sebagai balasan atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas, meski kelompok tersebut membantah terlibat dalam insiden yang menewaskan dua tentara Israel.
“Satu tangan kami menggenggam senjata, tangan lainnya terulur untuk perdamaian. Perdamaian hanya dibuat oleh pihak yang kuat,” ujar Netanyahu, dalam pidato yang beberapa kali diinterupsi oleh para anggota oposisi itu.
Namun, bagi banyak pengamat, ucapan itu terdengar seperti paradoks. Serangan bom di tengah gencatan senjata memperkuat tudingan bahwa Israel tidak pernah serius menghentikan perang yang telah menewaskan ribuan warga sipil Palestina.
Organisasi HAM menilai tindakan itu bisa dikategorikan sebagai pelanggaran hukum internasional, terutama jika dilakukan tanpa bukti kuat atas pelanggaran gencatan senjata oleh pihak lain.
Netanyahu juga menegaskan bahwa Gaza kini 'sepenuhnya terkepung' dan berjanji mempertahankan kendali atas semua perbatasan, menolak ajakan untuk mengakhiri perang lewat negosiasi.
“Jika saya mendengarkan sebagian dari kalian dan menarik pasukan dari Gaza, kita tidak akan mencapai posisi ini,” katanya.
Pernyataan itu memperdalam ketegangan di dalam negeri. Oposisi menuduh Netanyahu tidak hanya gagal mengakhiri perang, tetapi juga mengabaikan diplomasi internasional dan memperburuk posisi Israel di mata dunia.
Sementara itu, mengutip RoyaNews, pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, menuding Netanyahu berupaya menutupi kegagalannya mengantisipasi serangan 7 Oktober dengan 'retorika militer yang kosong'.
Sementara itu, masyarakat sipil Israel juga mulai menunjukkan kelelahan perang. Survei lokal menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Netanyahu terus menurun, terutama karena tidak adanya peta jalan politik yang jelas untuk fase pascaperang Gaza.
Netanyahu, di sisi lain, mencoba mengalihkan perhatian ke isu eksternal. Ia menuding Iran 'tinggal beberapa bulan lagi dari memiliki bom nuklir' dan memperingatkan ancaman Hizbullah di utara.
Ia juga mengumumkan rencana bertemu Wakil Presiden AS JD Vance serta utusan Donald Trump, Jared Kushner dan Steve Witkoff, untuk membahas masa depan Gaza.
Namun bagi banyak kalangan, pengumuman itu tidak menutupi fakta utama: Israel menggempur Gaza di tengah masa gencatan senjata yang seharusnya menjamin keenangan bagi warga sipil.
“Netanyahu mungkin berbicara tentang perdamaian,” tulis harian Haaretz dalam editorialnya, “tapi bom-bom yang dijatuhkan di Gaza pada Minggu menunjukkan hal sebaliknya.” (*)