JawaPos.com - Dunia ilmu pengetahuan dan konservasi berduka atas wafatnya primatolog sekaligus ilmuwan konservasi ikonik, Jane Goodall, di usia 91 tahun, pada 1 Oktober 2025, karena sebab alami. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Jane Goodall Institute, organisasi yang ia dirikan pada 1977.
Dilansir Scientific American, Goodall dikenal luas melalui penelitian legendarisnya mengenai simpanse di alam liar. Perjalanan bersejarah itu dimulai pada 1960 saat ia berusia 26 tahun, ketika untuk pertama kalinya ia mengunjungi Tanzania dan mulai melakukan pengamatan di Gombe Stream Game Reserve, yang kini menjadi Gombe Stream National Park.
Berbeda dari pendekatan ilmiah yang lazim kala itu, Goodall memilih memberi nama kepada simpanse yang ia teliti, bukan sekadar memberi nomor. Ia juga menghadirkan kedekatan emosional dalam mengamati perilaku mereka.
Perjalanan Hidup
Goodall yang memiliki nama lengkap Dr. Valerie Jane Morris-Goodall lahir di Bournemouth, Inggris, pada 3 April 1934. Sejak kecil, ia menunjukkan kecintaan mendalam terhadap alam dan hewan. Keluarganya bahkan memiliki berbagai hewan peliharaan, termasuk seekor anjing, seekor kuda poni, dan seekor kura-kura.
Ketika berusia sekitar delapan tahun, Goodall membaca serial Tarzan dan Dr. Dolittle. Dari buku-buku itu, tumbuh impian besarnya untuk pergi ke Afrika dan bekerja dengan hewan-hewan yang ia kagumi.
Impian itu terwujud pada 14 Juli 1960. Goodall bersama ibunya dan seorang juru masak bernama Dominic tiba di Gombe Stream Game Reserve, di tepi Danau Tanganyika. Aturan lokal tidak mengizinkannya tinggal sendirian di kawasan itu, sehingga ibunya harus ikut mendampingi.
Awal penelitiannya penuh tantangan. Goodall sempat terserang demam yang menunda aktivitasnya. Selain itu, medan terjal dan vegetasi lebat membuatnya kerap berjalan jauh tanpa bertemu simpanse. Titik balik terjadi ketika seekor simpanse tua yang ia beri nama David Greybeard dapat diamati dari dekat. Sebagai pejantan dominan, penerimaan David membuat anggota kelompok lain juga bersedia menerima kehadiran Goodalll.
Dari David Greybeard pula, Goodall pertama kali menyaksikan perilaku luar biasa, yaitu penggunaan alat. Simpanse itu terlihat menggunakan batang rumput kaku untuk menangkap rayap dari sarangnya. Penemuan ini segera ia laporkan pada mentornya, Dr. Louis Leakey.
Sepanjang penelitiannya, Goodall membuat tiga temuan besar yang mengguncang dunia sains, di antaranya simpanse ternyata omnivora dan berburu daging, mereka mampu menggunakan alat, dan bahkan menciptakan alat mereka sendiri, sebuah karakteristik yang sebelumnya dianggap eksklusif milik manusia.
Dengan dukungan Leakey, Goodall melanjutkan studi doktoralnya di Cambridge University pada 1962, meski tanpa gelar sarjana. Pendekatannya yang menamai simpanse dan menganggap mereka punya emosi serta kepribadian sempat menuai kontroversi di kalangan akademisi. Selanjutnya, pada 9 Februari 1966, Goodall meraih gelar Ph.D. dan tetap melanjutkan penelitiannya di Gombe selama dua dekade berikutnya.
Dari Ilmuwan Menjadi Aktivis Konservasi
Peralihan besar dalam hidup Goodall terjadi pada 1986, setelah menghadiri sebuah konferensi primatologi. Saat itu, ia menyadari laporan dari berbagai lokasi penelitian di dunia menunjukkan tren serupa yaitu, deforestasi besar-besaran.
Pada awal 1990-an, saat melakukan penerbangan di atas kawasan Gombe, Goodall terkejut melihat bentang hutan yang dulu lebat kini berganti deretan bukit gundul akibat ekspansi desa-desa. Kesadaran itu mendorongnya beralih dari peneliti menjadi aktivis konservasi.
Misi awalnya adalah memperjuangkan kondisi simpanse yang ditahan di fasilitas riset medis. Ia kemudian membantu mendirikan beberapa tempat perlindungan bagi simpanse yatim piatu akibat perburuan daging satwa liar.
Goodall juga mendirikan Jane Goodall Institute (JGI) pada 1977, sebuah organisasi konservasi berbasis komunitas global. Pada 1991, ia meluncurkan program Roots & Shoots, gerakan yang mendorong generasi muda di lebih dari 60 negara untuk terlibat dalam aksi nyata melindungi lingkungan, satwa, dan komunitas mereka.
Warisan dan Inspirasi
Menurut The Conversation, Goodall adalah pendongeng ulung yang percaya bahwa kisah adalah cara paling efektif untuk membantu orang memahami sifat sejati hewan. Ia kerap berbagi cerita luar biasa mengenai kecerdasan berbagai satwa, mulai dari simpanse, lumba-lumba, tikus, burung, hingga gurita.
Ia telah menginspirasi jutaan orang dan melalui JGI serta Roots & Shoots, Goodall menanamkan nilai bahwa manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung. Ia juga aktif memberikan ceramah dan berdialog dengan pemerintah maupun pebisnis untuk mendorong aksi nyata melindungi habitat yang krisis.
Dikutip dari The Conversation, salah satu pesannya yang paling berkesan berbunyi, “Bahaya terbesar bagi masa depan kita adalah sikap apatis. Setiap orang harus bertanggung jawab atas hidupnya masing-masing, dan yang terpenting, menunjukkan rasa hormat serta cinta pada makhluk hidup di sekitar kita, terutama satu sama lain."
Warisan Goodall tidak hanya berupa penemuan ilmiah, melainkan juga inspirasi bagi dunia untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan alam. Ia telah meninggalkan jejak abadi sebagai ilmuwan, aktivis, sekaligus teladan kemanusiaan. (*)