← Beranda

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Merilis Data Sementara Terkait Perubahan Iklim di 2023, Beberapa Poin Berikut ini Jadi Sorotan Penting

Rizal Rosyid AnnafiSabtu, 2 Desember 2023 | 04.14 WIB
Kebakaran yang Melanda Maui, Hawaii pada Agustus 2023 lalu Menjadi Topik yang Dibahas dalam Laporan Sementara WMO / Sumber : US Coast Guard Hawaii Pacific District 14

JawaPos.com – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) merilis data terbaru mengenai laporan sementara fenomena meteorologi di 2023.

Laporan Organisasi Meteorologi Dunia itu diberi judul ‘Provisional State of Global Climate 2023’ yang berisikan beberapa poin-poin penting mengenai fenomena apa saja yang terkait dengan iklim global.

Dalam laporan tersebut, Organisasi Meteorologi Dunia memberikan data mengenai kenaikan suhu panas bumi hingga adanya perubahan pada ketinggian air laut.

Baca Juga: Menteri Keuangan Sri Mulyani Jelaskan Upaya Pemerintah Hadapi Tantangan Perubahan Iklim

2023 Jadi Tahun Terpanas Bumi

Menurut laporan yang disampaikan oleh organisasi tersebut, tahun ini bumi mengalami kenaikan suhu sebanyak 1,40 derajat celcius. Data tersebut didapat hingga akhir bulan Oktober 2023.

kenaikan suhu tersebut menjadi yang tertinggi apabila dibandingkan dengan laporan yang dikeluarkan pada 2016 dan 2020.

Data-data tersebut diperoleh dengan membandingkan pengukuran dari 5 satelit cuaca yang telah mengorbit di bumi.

Baca Juga: Pakar UGM Jelaskan Faktor Kenaikan Harga Kedelai, Mulai Keterbatasan Pasokan hingga Perubahan Iklim

Selain itu, tahun 2015 hingga 2023 ini menjadi tahun terpanas bagi bumi. Hal tersebut disebabkan fenomena El Nino yang terjadi di beberapa wilayah di dunia.

Kenaikan Permukaan Air Laut

Dalam Laporan sementara tersebut juga dijelaskan mengenai adanya kenaikan permukaan air laut yang signifikan pada tahun ini.

Kenaikan tersebut disebabkan oleh tingginya suhu air laut yang berdampak pada mencairnya gletser dan permukaan es di kutub.

Baca Juga: Atasi Dampak Perubahan Iklim Global, Muhammadiyah Resmikan MCC Budaya Hijau, Inovasi dan Kerja Sama

Secara mengejutkan, laporan yang dikeluarkan oleh WMO tersebut mengatakan bahwa permukaan air laut pada tahun 2013 hingga 2022 alami kenaikan sebanyak dua kali lipat bila dibandingkan dengan laporan di tahun 1993 hingga 2002.

Fenomena Cuaca Ekstrim dan Bencana Meteorologi Dunia

Isu ini juga menjadi poin penting dalam laporan yang dibuat oleh WMO, sebab pada 2023 telah terjadi banyak bencana alam maupun perubahan cuaca ekstrim.

Beberapa wilayah di dunia seperti Libya, Turkiye, Yunani dan Belgia mengalami kenaikan curah hujan yang cukup ekstrim yang mengakibatkan terjadinya Banjir.

Baca Juga: Hadiri KTT APEC, Jokowi Tekankan Tiga Fokus Penting untuk Hadapi Perubahan Iklim

Selain itu terjadinya kebakaran mematikan di wilayah Hawaii yang menewaskan 99 orang juga menjadi perhatian penting, sebab peristiwa tersebut menjadi catatan buruk bagi Amerika Serikat dalam 100 tahun terakhir.

Kekeringan ekstrim yang melanda beberapa wilayah seperti sebagian Asia Tenggara dan Asia Tengah, serta Amerika Tengah dan Amerika Selatan juga menjadi catatan penting dalam laporan tersebut.

Menjadi Isu Penting di Pertemuan COP 28

Laporan dari lembaga yang berada dibawah naungan PBB tersebut menjadi isu pembahasan penting di acara Konferensi Perubahan Iklim PBB ke 28 yang diselenggarakan mulai 30 November hingga 12 Desember 2023 di Dubai, Uni Emirat Arab.

Baca Juga: Presiden Jokowi Beri Kuliah Umum di Stanford University, Bahas Ancaman Perubahan Iklim dan Transisi Energi

Dalam tayangan video yang diputar pada acara COP 28, Sekretaris Jenderal PBB yakni Antonio Guterres mengingatkan pada para pemimpin negara yang hadir pada konferensi tersebut terkait laporan dari WMO ini.

“Ditahun ini kita telah menghadapi berbagai macam bencana alam mulai dari banjir hingga kebakaran akibat suhu panas ekstrim,” Ujarnya.

“Kami punya program untuk atasi krisis iklim jangka panjang,  namun peran para kepala negara sangat penting dalam merencanakan program-program yang mengarah pada pencegahan krisis iklim di masa depan,” tegas Sekjen PBB itu.

EDITOR: Nicolaus