JawaPos.com – Kekuatan pasukan pertahanan Jepang terus menurun. Sejak 1990, personel militer telah berkurang lebih dari 7 persen. Saat ini jumlahnya kurang dari 230 ribu orang. Penyebabnya bukan hanya faktor demografi. Melainkan juga, penduduk memang enggan mendaftar sebagai anggota militer.
Kondisi tersebut juga terlihat dalam perekrutan terbuka baru-baru ini. Acara itu dikemas dalam sebuah festival keluarga yang menarik. Ada stan permainan dan makanan ringan. Banyak yang berkunjung untuk menikmati. Namun, khusus stan rekrutmen tentara, hampir tidak ada yang mendatangi.
’’Inilah kenyataannya. Festival ini selalu ramai, tapi tidak ada yang datang (ke stan rekrutmen, Red),’’ ujar salah seorang tentara yang menjaga stan seperti dikutip Agence France-Presse.
Pemerintah Jepang pun ketir-ketir. Sebab, situasi keamanan regional sedang menegang. Jepang khawatir dengan frekuensi uji coba rudal Korea Utara (Korut) yang terus meningkat. Bukan hanya itu, belakangan Tiongkok juga mulai unjuk kekuatan di wilayah-wilayah sengketa yang diklaim mereka. Termasuk di wilayah Jepang.
Pada Juli lalu, laporan panel ahli telah menyoroti potensi risiko yang sangat tinggi bahwa angkatan bersenjata Jepang akan melemah lantaran kekurangan personel. Pada 2022, jumlah yang bergabung ke militer kurang dari 4 ribu orang. Angka itu hanya separo dari target. Kali terakhir jumlah rekrutmen militer sesuai target pada 2013.
Untuk menghentikan penurunan itu, pada 2018 Jepang meningkatkan usia maksimum tentara baru. Yakni, dari 26 tahun menjadi 32 tahun. Bahkan, pihak militer telah mempertimbangkan untuk mengizinkan rekrutmen orang yang memiliki tato.
Padahal, di Jepang, selama ini tato dianggap sebagai tanda yang secara tradisional diasosiasikan dengan gangster atau yakuza. Para pakar juga menyarankan agar penggunaan kendaraan tak berawak di udara, laut, dan darat makin diperbanyak.
Ada banyak alasan mengapa selama satu dekade terakhir Jepang kesulitan untuk merekrut tentara. Pertama, tentu saja karena demografi. Saat ini, 1 dari 10 penduduk Jepang berusia 80 tahun ke atas.
Alasan lainnya, gaji yang rendah dan kurangnya ambisi pihak angkatan bersenjata. Sejak Perang Dunia II berakhir, pasukan pertahanan hanya bersifat defensif sejalan dengan konstitusi pasifik Jepang. Hal itulah yang dinilai membuat semangat mereka di militer rendah.
Kementerian Pertahanan Jepang menegaskan, pihaknya hanya merekrut kandidat yang sesuai. Pemerintah juga ingin meningkatkan proporsi tentara perempuan pada 2030 menjadi 13 persen yang saat ini hanya 9 persen. Berdasar situs Kementerian Pertahanan, mereka menjanjikan lingkungan militer yang disesuaikan dengan perempuan.