← Beranda

Pulau Norfolk di Australia Kekeringan dan Krisis Air Bersih

Dyah Ratna Meta NoviaMinggu, 24 Februari 2019 | 23.56 WIB
Warga Australia mencari air bersih di tengah kekeringan parah

JawaPos.com - Sulit membayangkan sebuah pulau kecil subtropis, dikelilingi oleh lautan luas berjuang melalui kekeringan seperti yang sedang dialami di daratan Australia. Tapi itulah situasi yang terjadi di Pulau Norfolk, Australia, ketika tangki air hujan kosong akibat kekeringan yang terus-menerus.


Dilansir dari ABC News beberapa hari lalu, Pulau Norfolk terletak di Samudra Pasifik Selatan antara Kaledonia Baru dan Selandia Baru. Sejauh ini memiliki rekor musim panas yang paling kering dengan total curah hujan 12 milimeter.


Administrator pulau itu, Eric Hutchinson menyaksikan pulau itu menjadi semakin kering selama dua tahun terakhir. "Keamanan air adalah faktor penting dalam menciptakan masa depan yang berkelanjutan bagi Pulau Norfolk. Air sama dengan makanan," kata Hutchinson.


"Kami ingin melihat produsen makanan di pulau itu dapat memperluas berbagai produk yang mereka hasilkan dan mampu menyediakan banyak makanan untuk masyarakat setempat dan juga pengunjung," paparnya.


Saat tangki air hujan dan bisnis mengering, pengangkut air di pulau itu, Greg Horrocks sibuk mengisi persediaan dengan air bor yang diolah. Horrocks mengatakan, dia tidak yakin tentang berapa banyak yang air tanah yang tersisa karena tidak ada pengawasan yang teratur terhadap bor.


"Kekhawatirannya adalah kenyataan bahwa sudah bertahun-tahun berturut-turut kami memompa air dan hampir tidak mengalami musim dingin" kata Horrocks.


Menurut petugas stasiun Badan Meteorologi Pulau Norfolk, Adam Jauczius, tahun terkering tercatat pada tahun 2017 dengan total curah hujan 778 mm, turun rata-rata 1.200 mm. "Untuk Pulau Norfolk, ini mungkin terlihat tinggi, tetapi apa pun di bawah 900 mm dianggap kekeringan," kata Jauczius.


Pembatasan air tidak dapat diberlakukan di pulau itu karena air sebagian besar diprivatisasi melalui penggunaan tangki air, yang berarti dewan lokal hanya dapat membuat rekomendasi bagi penduduk dan pengunjung untuk menghemat air. Dewan telah merekomendasikan menempatkan ember di kamar mandi untuk mengumpulkan kelebihan air.


Sementara itu, Christian Bailey dan Poacher adalah satu-satunya peternak sapi perah komersial di pulau itu. Akibat kekeringan, mereka hanya menghasilkan setengah dari susu yang biasanya mereka hasilkan.


"Kami mengalami kekeringan. Kami membuat anggaran untuk musim kemarau selama musim panas, tetapi periode ini sangat kering," kata Christian Bailey.


Kondisi kekurangan air di pulau itu mendorong Hutchinson dan dewan regional membentuk kelompok kerja untuk menangani keamanan air. "Sangat penting bagi pulau ini untuk mengembangkan sumber air jangka menengah dan panjang untuk memastikan keberlanjutan pulau, "kata Hutchinson.

EDITOR: Dyah Ratna Meta Novia