JawaPos.com - Bandara merupakan salah satu kemajuan bidang transportasi di dunia.
Keberadaan Bandara ini, memudahkan mobilitas orang-orang dari berbagai negara untuk dapat berkunjung ke negara lainnya, entah untuk keperluan bisnis atau rekreasi semata.
Di Indonesia sendiri, keberadaan bandara ini ternyata sudah ada sejak zaman kolonialisme atau sebelum Indonesia merdeka.
Pada masa itu, kebanyakan Bandara digunakan untuk latihan pesawat militer Belanda dalam bertempur.
Dilansir JawaPos.com dari koopsud1.tni-au.mil.id, angkasapura2.co.id, dan Radar Surabaya (JawaPos Grup), berikut 4 bandara tertua di Indonesia yang menjadi bisu perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan dan menuntaskan penjajahan pada masa kolonial.
Bandara TNI AU Kalijati/Pangkalan TNI AU Suryadarma (Subang, Jawa Barat)
Pangkalan Udara Kalijati (Vliegveld Kalidjati) adalah pangkalan udara militer peninggalan jaman Belanda yang letaknya ada di Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Pada tahun 1916, Letnan Jenderal Walter Robert De Greve sebagai Komandan KNIL (1916-1919) mencari tempat yang luas di dekat Pamanukan dan Ciasem dan dipilihlah Kalijati untuk dijadikan bandara (Vliegveld Kalidjati).
Selanjutnya, masih di tahun yang sama, dilakukan penerbangan perdana di atas langit Kalijati oleh pilot Ter Poorten sebanyak 4 kali selama 53 menit.
Lalu pada tahun 1917, di Kalijati ini dibuka sekolah penerbangan pertama dengan mendatangkan 8 pesawat pengintai dan 4 pesawat latih baru.
Pada tanggal 27 Agustus 2001, Pangkalan TNI AU Kalijati berubah namanya menjadi Pangkalan TNI AU Suryadarma.
Perubahan nama tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas jasa Bapak AURI, Marsekal (Purn) Suryadi Suryadarma yang merupakan lulusan sekolah Navigator atau Waarnemer School di Kalijati.
Perubahan nama itu kemudian diresmikan pada tanggal 7 September 2001 oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Hanafie Asnan.
Sehingga, pada tanggal inilah yang sampai sekarang dijadikan sebagai hari ulang tahun Pangkalan TNI AU Suryadarma.
Bandara Internasional Husein Sastranegara/Lapangan Terbang Andir (Bandung, Jawa Barat)
Bandara ini terletak di Jalan Pajajaran Nomor. 156, kelurahan Husein Sastranegara, kecamatan Cicendo, kota Bandung, Jawa Barat.
Bandara Husein Sastranegara ini juga merupakan peninggalan Pemerintah Hindia Belanda. Pada saat itu, bandara ini dikenal dengan sebutan Lapangan Terbang Andir atau Luchtvaart Afdeling atau Vliegveld Andir.
Lapangan Terbang Andir ini mulai didirikan oleh Belanda pada tahun 1920. Di tahun 1942, lapangan terbang ini diambil alih oleh Jepang sampai tahun 1945.
Kemudian, saat Indonesia telah merdeka, lapangan udara ini sempat vakum dari tahun 1945 hingga tahun 1949.
Setelah itu, lapangan terbang Andir ini kemudian diambil alih oleh AURI sebagai pangkalan militer TNI pada tahun 1969 sampai 1973.
Hingga akhirnya pada tahun 1973 lapangan terbang tersebut boleh dipergunakan untuk penerbangan komersial, dan diresmikan pada satu tahun setelahnya yakni 1973.
Bandara Darmo (Surabaya, Jawa Timur)
Bandara atau Lapangan Terbang Darmo ini dibangun pada masa kolonial Belanda, tepatnya pada tahun 1920.
Letaknya berada di kompleks Markas Kodam V Brawijaya, Kota Surabaya, Jawa Timur.
Pada saat itu, lapangan terbang ini merupakan lapangan terbang modern dan satu-satunya yang ada di Surabaya.
Lapangan Terbang Darmo ini dikelola oleh Koninklijke Nederlandsch Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM) atau maskapai penerbangan kerajaan Belanda.
Sempat diperbaiki pada tahun 1922, dan juga dimodernisasi untuk kepentingan lapangan terbang sipil berstandar internasional pada tahun 1929.
Lapangan Terbang Darmo ini difungsikan hingga tahun 1940-an saja, tepatnya sebelum Jepang masuk.
Ketika koloni Jepang masuk, semua aktivitas di lapangan terbang ini dipindahkan ke Lapangan terbang Morokrembangan. Untuk diketahui, Lapangan Terbang Morokrembangan ini selesai dibangun tahun 1926.
Bandara Internasional Halim Perdanakusuma/Lapangan Terbang Tjililitan (Jakarta)
Bandara yang kini dikenal dengan Bandara Internasional Halim Perdanakusuma ini letaknya berada di wilayah Jakarta, Indonesia.
Pada abad ke-17, daerah Cililitan merupakan sebuah tanah partikelir yang dimiliki oleh Pieter van der Velde, yang kemudian dinamakan Tandjoeng Ost.
Sekitar tahun 1924, sebagian tanah tersebut dijadikan sebuah lapangan terbang pertama di kota Batavia yang kini Jakarta.
Lapangan terbang tersebut dinamakan Vliegveld Tjililitan (Lapangan Terbang Tjililitan).
Pada tahun yang sama, Lapangan Terbang Tjililitan ini menjadi penerbangan internasional pertama di Hindia Belanda.
Belanda kemudian menyerahkan lapangan terbang ini kepada pemerintah Indonesia pada tanggal 20 Juni 1950.
Selanjutnya, bertepatan dengan perayaan hari kemerdekaan RI yang ke-7, 17 Agustus 1952, lapangan terbang ini berganti nama menjadi Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.