← Beranda

Profil John Tobing, Sosok Penting dalam Gerakan Mahasiswa, Kini Berpulang

Abdul RahmanKamis, 26 Februari 2026 | 16.24 WIB
John Tobing, pencipta lagu Darah Juang, meninggal dunia. (instagram: kagama.channel)

JawaPos.com - John Tobing, pencipta Darah Juang, lagu legendaris yang tidak akan pernah tergantikan sepanjang masa bagi para aktivis dan dunia pergerakan, telah bepulang. John Tobing meninggal dunia tadi malam, Rabu (25/2), sekitar pukul 20.45 WIB di RSA UGM.

John Tobing, yang memiliki nama lengkap Johnsony Maharsak Lumban Tobing, meninggal dunia setelah sempat melawan penyakit stroke yang dideritanya sejak pertengahan Desember 2025.

Jenazah John Tobing kini berada di rumah duka di Rumah Duka RS Bethesda. Jenazahnya rencananya akan disemayamkan di sana sampai dengan Sabtu (28/2) mendatang.

Nama John Tobing memiliki nama harum di kalangan aktivis. Pasalnya, lagu ciptaannya Darah Juang kerap dinyanyikan para aktivis dunia pergerakan di seluruh Indonesia setiap kali mereka melakukan aksi demonstrasi.

Lagu Darah Juang berhasil memberikan suntikan semangat untuk mereka terus berjuang tanpa mengenal lelah demi menegakkan kebenaran dan keadilan.

John Tobing bukan sekadar pencipta lagu. Dia adalah maestro perjuangan yang melahirkan himne abadi Gerakan Reformasi 1998.

Profil John Tobing

John Tobing lahir di Binjai, Sumatera Utara, pada 1 Desember 1965. Dia adalah anak ketiga dari 8 bersaudara dari pasangan Hakim Mangara Lumbantobing dan Adelina Sinaga.

Ayahnya adalah seorang PNS hakim yang sering berpindah tempat pengabdian. Otomatis, John Tobing dan keluarga juga harus berpindah-pindah tempat.

Sejak kecil, John Tobing memiliki kecintaan pada dunia musik. Dia belajar alat musik gitar secara otodidak sejak masih duduk di bangku kelas 5 SD.

Saking pengennya dibelikan gitar pertama, dia sampai berjanji ke orang tuanya untuk menghemat uang saku hingga kuliah.

Dilansir JawaPos.com dari Radar Malioboro (Jawa Pos Grup), John Tobing termasuk anak nakal pada usia remaja. Terbukti, dia sempat tidak lulus sekolah di SMA Santo Thomas Yogyakarta akibat kenakalan remaja yang dia lakukan.

John Tobing baru menyelesaikan pendidikannya setelah pindah sekolah di SMA Katolik Banjarmasin. Setelah lulus, dia kemudian melanjutkan pendidikan usai diterima di Fakultas Filsafat UGM pada tahun 1986.

Selain mendaftar kuliah di UGM, John Tobing juga sempat mendaftar di UKI Jakarta dan diterima. Hanya saja, John Tobing lebih memilih kuliah di UGM.

Di UGM, dia ikut terlibat dalam pendirian Biro Pembelaan Hak Mahasiswa Filsafat (BPHMF) sebagai alternatif senat.

Saat awal kuliah di UGM, John Tobing tidak memiliki ketertarikan pada dunia aktivisme mahasiswa. Dia ingin fokus pada pendidikan mengingat masa remajanya sudah pernah diwarnai dengan kenakan.

John Tobing ingin masa mahasiswa menjadi semacam penebusan dosa atas kesalahan masa lalunya di usia remaja. Namun, pertemanannya dengan Wibi Warao dan Sugeng Bahagyo akhirnya membuatnya ikut nyemplung ke dunia aktivisme.

Mulai tahun 1988, diskusi mahasiswa berubah menjadi aksi jalanan. John Tobing terlibat dalam gerakan aksi solidaritas Waduk Kedung Ombo (1989-1991), Kusumanegara Berdarah, hingga Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) di mana dia menjadi wakil ketua.

Pengalamannya dari dunia aktivisme, John Tobing melihat kekayaan Indonesia "dibodohi” oleh pemerintah pada saat itu, dan kemudiann mengilhaminya untuk melahirkan lagu-lagu perjuangan.

Salah satunya, lagu legendaris berjudul Darah Juang yang diciptakan John Tobing pada tahun 1991-1992.

Pada tahun 1998 dimana aksi demonstrasi mahasiswa memuncak, John Tobing juga ikut turun ke jalan bersama para mahasiswa lainnya. Kala itu, John Tobing tampil mengobarkan semangat para mahasiswa, tampil menyanyi sambil membawa gitar.

EDITOR: Abdul Rahman