JawaPos.com - Adzan shubuh berkumandang. Mendengar suara panggilan ibadah Umat Islam yang bersahutan-sahutan pada Kamis (20/11) pagi, Asep Subandi,32, pun bangun dari tempat peraduan. Tak berapa lama, usai mandi hingga menunaikan ibadah Salat Shubuh, dia bergegas pergi ke RS Dharmais Jakarta dengan menumpang Commuter Line (KRL) dan angkutan umum lain, menempuh waktu lebih dari tiga jam.
Seperti hari-hari biasa yang dilakoninya, hari itu,-Kang Asep-sapaan akrabnya tengah bergelut dengan waktu untuk mendampingi salah satu pasien. Kali ini, pasien yang akan didampinginya yakni pasien kanker payudara yang akan menjalani pengobatan, di rumah sakit pusat kanker nasional.
Karena tempat tinggalnya yang jauh dari lokasi rumah sakit, maka sejak pagi-pagi buta, Kang Asep pun sudah menempuh perjalanan panjang. Hal ini agar pagi hari dia sudah sampai dan bertemu dengan pasien yang akan didampinginya.
”Saya pendampingan dulu sampai selesai hari ini,” kata Kang Asep ketika JawaPos.com mengonfirmasi jadwal untuk bertemu muka.
Begitulah Kang Asep. Selalu totalitas setiap kali melakukan pendampingan. Dia tidak mau setengah-setengah. Bagi pria kelahiran 1993 tersebut, menjadi caregiver adalah jalan hidup baginya.
Sampai hari ini, sudah 15 tahun Kang Asep menjalani hari-hari sebagai seorang caregiver, atau teman berobat untuk siapa saja. Miskin, kaya. Tua, muda. Berbagi waktu, pikiran, tenaga, dan perasaan.
Asep yakin, setiap manusia yang diizinkan lahir punya peran. Membantu pasien untuk berobat ke rumah sakit, menemui dokter, menjalani terapi, hingga operasi, adalah panggilan untuk anak ketiga dari enam bersaudara tersebut.
”Yang menjadi motivasi saya karena ada yang pernah bilang hidup saya nggak berguna, nyusahin keluarga. Komentar itu yang menjadi motivasi, saya akan lebih berguna untuk orang lain dan saya akan buktikan itu,” tutur Asep.
Tekad kuat mengantarkan lelaki berkacamata tersebut melalui jalan panjang pengabdian senyap. Jauh dari ingar-bingar hidup kebanyakan orang yang hari ini seringkali tertangkap kamera, masuk ke dunia maya, sampai muncul di beranda para pengguna gawai. Asep menjalani hari demi hari sambil menggenggam harapan pasien-pasien yang memimpikan sembuh, ingin sehat dan kembali seperti sedia kala sebelum sakit datang menerjang.
Pernah dengar istilah yang paling sulit dalam hidup adalah belajar ilmu ikhlas? Rasa-rasanya tanpa sadar Asep sudah menamatkan ilmu tersebut. Dia sudah selesai dengan dirinya sendiri. Tidak heran yang ada dalam kepalanya bukan lagi angka-angka. Dia hanya ingin menolong, benar-benar membantu orang yang membutuhkan teman dan sandaran saat melalui masa-masa sulit berhadapan dengan rasa sakit.
Setiap kali melakukan pendampingan, Asep tidak pernah peduli soal imbal balik yang akan dia dapatkan. Meski yang dilakukan olehnya adalah jasa, tidak pernah terbesit dalam hati dan kepalanya untuk memasang tarif. Apalagi meminta kepada pasien dan keluarga pasien dengan nominal tertentu. Dia datang untuk membantu tanpa harapan berbalas rupiah. Keinginannya hanya memberi pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan.
”Memang ketika memulai beberapa tahun lalu, niatnya karena memang ingin membantu,” imbuhnya.
Karena itu, yang dilakukan oleh Asep saat dihubungi oleh pasien atau keluarga pasien adalah melakukan pendekatan personal. Dia pasti akan menggali karakter pasien, mencari tahu cara keluarga memperlakukan pasien, dan memastikan paham kebiasaan-kebiasaan pasien. Untuk dia, setiap pasien adalah keluarga. Sebaliknya, dia juga selalu menekankan agar setiap pasien menganggap dirinya sebagai keluarga sendiri. Karena Asep bukan hanya mengurus masalah administrasi.
Dia akan mendampingi pasien dari urusan A-Z. Mendaftar, menemui dokter, menebus dan membeli obat, bahkan mendengar kabar-kabar tidak menyenangkan dari petugas medis terkait dengan kondisi pasien. Itu dilakukan oleh Asep karena tidak semua keluarga pasien yang dia dampingi siap dan bisa berkomunikasi langsung dengan dokter. Apalagi bila keluarga yang dia dampingi berasal dari daerah yang jauh dari kota. Seringkali banyak kendala yang harus Asep jembatani.
”Kadang kala yang disampaikan oleh dokter nggak masuk ke keluarga pasien. Di situ saya akan bilang, dok sampaikan saja semuanya ke saya. Nanti saya yang menyampaikan kepada keluarga,” jelasnya.
Pada momen-momen tersebut, Asep seringkali ikut merasakan sakit. Dia juga tidak jarang merasa tidak enak hati untuk meneruskan kabar dari dokter kepada keluarga pasien. Namun, seberat apa pun dia tetap harus menyampaikan. Dia sadar betul, dalam masa-masa pengobatan, tidak semua akan sesuai harapan pasien dan keluarga pasien. Hal-hal buruk bisa datang kapan saja. Termasuk berita duka cita. Ketika pasien yang dia dampingi meninggal dunia, dia ikut merasakan kehilangan.
Asep pernah mendampingi pasien yang sakit ringan, namun tidak jarang juga harus membersamai pasien sakit berat dan kronis. Bahkan, pasien dengan penyakit menular seperti TBC pun dia temani. Termasuk saat-saat berat ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Sesuai dengan niat awalnya, Asep hanya ingin membantu. Maka, siapa pun yang datang meminta bantuan akan dia tolong sebisa mungkin. Bahkan saat sedang mendampingi satu pasien di rumah sakit, Asep bisa tiba-tiba membantu pasien lain.
Itu yang terjadi ketika potretnya viral di media sosial beberapa waktu lalu. Saat itu, Asep tengah mendampingi seorang pasien berobat. Di tengah-tengah pendampingan itu, dia melihat seseorang kebingungan. Seketika itu pula, dia menawarkan bantuan dan terjadilah peristiwa yang membuat sosoknya dilihat oleh banyak pasang mata melalui media sosial. Padahal, Asep hanya melakukan yang sehari-hari dia lakoni.
”Yang penting ketika mereka meminta bantuan, saya sudah siap di situ, saya tidak pernah beda-bedakan, semuanya sama rata,” ujarnya.
Setelah 15 tahun berlalu, Asep merasa masih banyak hal yang biasa dia lakukan sebagai caregiver. Dia ingin terus membantu, menebar kebaikan, dan terus memberi semangat kepada siapa pun yang tengah berjuang untuk sembuh dari sakit. Untuk siapa saja di luar sana yang ingin menjadi caregiver, dia menitipkan pesan agar selalu menempatkan ikhlas pada urutan pertama. Karena tanpa itu, akan sulit menjalani hari-hari sebagai seorang teman berobat.
”Karena menjadi caregiver berarti harus siap mengalami semua yang dilalui oleh pasien,” ucap Asep.
Keluarga Pasien dan Dokter Sangat Terbantu Caregiver
Keberadaan adanya caregiver sendiri disambut baik Khaerul Huda,27, keluarga salah satu pasien yang pernah menggunakan jasanya. Pria yang kini berprofesi sebagai wiraswasta ini mengaku keluarganya sangat terbantu saat mendiang kakaknya Feri Susanto, dibantu caregiver saat dirawat di RS. Kanker Dharmais.
“Caregiver itu sangat membantu, karena dari keluarga nggak semua bisa nemenin. Ada yang kerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik di daerah Jabodetabek maupun di tempat jauh seperti saya,” kata Khaerul Huda yang saat kakaknya dirawat bekerja di Pulau Dewata.
Terkait kinerja caregiver kakaknya yang notabennya masih kerabat sendiri, pria yang karib disapa Arul ini mengaku sangat puas. Hal ini karena caregiver tersebut begitu peduli dengan kakaknya.
“Dari segi kinerja memuaskan, karena bisa membantu nemenin operasi, ambil obat, bergantian jaga malam kakak. Telaten orangnya’’ terang Arul.
Dilain pihak, terkait biaya yang dikeluarkan. Arul enggan membukanya. Hal ini karena caregiver yang dimintai tolong oleh keluarganya masih kerabat orang tuanya.
“Terkait biaya sudah dibicarakan baik-baik antara keluarga saya dengan pihak caregiver. Karena masih punya hubungan kekerabatan, maka tak ada hembatan yamg berarti,” tandas pria asal Pemalang, Jawa Tengah, ini.
Terpisah, terkait keberadaan seorang caregiver, dr. Saskia Putri Azzahra mengatakan, caregiver itu mempunyai peran penting dalam menunjang kehidupan orang yang tidak mampu beraktivitas dalam sehari-harinya. Sebagai contoh pada orang yang memiliki penyakit yang membuat mereka tidak bisa beraktivitas sendiri lagi.
Caregiver kata perempuan yang karib disapa-Saskia-ini, bisa membantu untuk memberikan makan dan minum, merawat apabila ada luka, membantu berpakaian, memberikan dukungan emosional, mengawasi dan memberikan keamanan, membantu pergerakan aktivitas sehari-hari, memberikan obat dan memantau kondisi pasien dan sebagainya.
“Hal ini yang tenaga kesehatan harapkan agar dapat segera pulih dan juga kualitas hidup pasien semakin meningkat,” kata dokter umum di RSU Kartini, Jakarta Selatan ini.
Agar bisa berjalan dengan baik, perempuan kelahiran Kota Tangerang 26 tahun yang silam ini mengamini agar para caregiver diberikan sertifikasi khusus.
“Sebaiknya dibutuhkan sertifikasi agar terjadi koordinasi yang baik dan sepemahaman antara tenaga kesehatan, caregiver dan pasien serta keluarganya,” kata dokter jebolan Fakultas Kedokteran UNS ini.
Tak hanya itu, Saskia juga berpendapat agar pemerintah perlu turun tangan membuat regulasi khusus agar profesi yang djalani para pahlawan kemanusiaan ini, tak dipandang sebelah mata.
“Menurut saya diperlukan (aturan khusus-Red), karena prevalensi penyakit kronis di Indonesia seperti hipertensi; diabetes melitus; stroke; kanker; gagal ginjal kronik; penyakit kronis pada lansia, dan sebagainya semakin meningkat setiap tahunnya,” jelasnya.
Penyakit-penyakit kronis seperti ini kata Saskia, tidak akan sembuh secara cepat, melainkan butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk ditangani. Hal ini yang membuat kebutuhan akan caregiver meningkat karena keterbatasan dari tenaga kesehatan.
“Karena pulihnya pasien bergantung dari aspek bio-psiko-sosial. Aspek biologis meliputi penyakit yang diderita oleh pasien, kondisi fisik dan perawatan medis. Aspek psikologis meliputi emosi, stres, kecemasan, pandangan pasien terhadap penyakit yang dideritanya. Aspek sosial meliputi dukungan dari lingkungan, keluarga disekitarnya. Dengan ketiga aspek ini, kita dapat melihat penyembuhan yang lebih efektif dan harapannya dapat mencegah kekambuhan,” tukas perempuan yang hobi olahraga dan bermain dengan kucing ini.