← Beranda

Enam Bulan Disandera di Benghazi, 6 ABK WNI Akhirnya Dibebaskan

Ilham SafutraSelasa, 3 April 2018 | 20.42 WIB
Korban sandera kelompok bersenjata Benghazi di Libya saat bertemu keluarganya pada acara serah terima korban ke pihak keluarga di Kantin Diplomasi, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (2/4).

JawaPos.com - Suasana penyerahan enam ABK WNI yang berhasil dibebaskan dari penyanderaan di Benghazi, Libya, berlangsung haru. Setelah disandera selama 6 bulan, enam WNI tersebut akhirnya bisa bertemu dengan keluarga di gedung Kemenlu kemarin (2/4).


Mereka adalah Ronny William asal Jakarta, Joko Riadi asal Blitar, serta Haryanto, Waskita Idi Patria, Saefudin, dan Mohamad Abudi yang masing-masing asal Tegal.


Penyerahan oleh Menlu Retno Marsudi itu disaksikan wakil dari KBRI Tripoli dan Badan Intelijen Negara (BIN). Retno menyatakan, pembebasan mereka bukan perkara mudah. Selain kondisi keamanan yang masih sangat rawan, situasi politik di Benghazi sangat kompleks.


"Benghazi saat ini dikuasai kelompok bersenjata anti pemerintah Libya di Tripoli. Sebagian besar negara anggota PBB, termasuk Indonesia, hanya mengakui pemerintah di Tripoli," katanya.


Meski penuh risiko dan memakan waktu relatif lama, pemerintah tetap melakukan upaya terbaik untuk melindungi WNI di mana pun mereka berada. Penyanderaan berlangsung sejak 23 September 2017. Saat itu, kapal penangkap ikan Salvatur VI berbendera Malta disergap kelompok milisi yang berbasis di Benghazi. Penangkapan terjadi di sekitar 23 mil laut dari Benghazi. Di kapal tersebut, keenam WNI bekerja sebagai kru kapal.


Sejak kabar penyanderaan tersebut diterima, berbagai upaya dilakukan untuk memperoleh akses kepada kelompok penyandera. Retno menjelaskan, setelah menyusun rencana matang dengan didahului komunikasi intensif dengan pihak-pihak di Benghazi, pada 23 Maret lalu tim gabungan KBRI Tripoli, Kemenlu, dan BIN menuju Benghazi dengan jalur udara melalui Tunisia.


"Alhamdulillah, pada 27 Maret 2018 pukul 12.30 waktu setempat, keenam ABK diserahkan kepada tim di pelabuhan Benghazi," tutur Retno. 

EDITOR: Ilham Safutra