JawaPos.com - Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi juga latihan pengendalian diri yang sangat erat kaitannya dengan konsep stimulus dan respons.
Dalam psikologi, stimulus adalah rangsangan yang datang dari luar, sedangkan respons adalah reaksi yang diberikan seseorang terhadap rangsangan tersebut.
Saat menjalankan ibadah puasa, seseorang dilatih untuk tidak langsung merespons setiap stimulus yang muncul, baik berupa rasa lapar, emosi, maupun godaan lainnya.
Dalam kondisi normal, ketika seseorang merasa lapar (stimulus), ia akan segera makan (respons). Namun saat berpuasa, respons tersebut ditunda demi ketaatan kepada Allah SWT.
Tidak hanya terkait kebutuhan fisik, konsep stimulus respons juga berlaku dalam pengendalian emosi. Di sinilah kita dilatihan secara mental dan spiritual melalui ibadah puasa.
Berikut kultum hari ini, Selasa (3/3), tentang Puasa dan Stimulus Respons dibawakan oleh Aan Rukmana, dosen Universitas Paramadina Jakarta.
Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Assshalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, sayyidina wamabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.
Seluruh keluarga besar dan para pemirsa Jawa Pos di manapun berada. Semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Alhamdulillah, pada kesempatan hari ini kita masih diberikan kekuatan dan kesehatan untuk menjalankan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah ini.
Jika kita meninjau dari sisi istilah, puasa dalam bahasa Arab disebut as-shiyam atau asshaum. Secara makna, dia berasal dari kata al-imsak, yang berarti menahan diri. Maka hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan besar untuk mengendalikan diri.
Mengapa ibadah puasa disebut sebagai aktivitas menahan diri? Karena secara naluriah, manusia hidup dalam pola stimulus dan respons. Ketika lapar, kita makan. Ketika haus, kita minum. Ketika marah, kita meluapkan emosi. Ketika ingin sesuatu, kita berusaha meraihnya. Pola ini juga terjadi pada makhluk lain; hewan pun hidup dengan sistem yang sama.
Namun di bulan Ramadhan, Allah melatih kita untuk melampaui pola tersebut. Saat ada stimulus lapar dan haus, kita tidak langsung meresponsnya. Kita menahan diri. Inilah makna al-imsak. Kita belajar bahwa kita bukan makhluk yang sekadar digerakkan oleh dorongan naluri, tetapi makhluk yang mampu mengendalikan diri.
Dalam ajaran Islam, manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam bahwa manusia diangkat sebagai pemimpin dan pengelola bumi.
Ciri utama seorang pemimpin bukanlah kekuasaan, melainkan kemampuan mengendalikan diri. Pemimpin yang baik adalah dia yang tenang, beradab, dan mampu menahan hawa nafsunya.
Sering kali hidup kita digerakkan oleh ambisi dan keinginan yang tidak ada habisnya. Kita ingin harta yang lebih banyak, jabatan yang lebih tinggi, pengaruh yang lebih luas. Kita bekerja keras, berkompetisi, bahkan terkadang menghalalkan segala cara.
Namun jika hidup hanya dipenuhi oleh hasrat tanpa kendali, pada akhirnya yang tersisa adalah kehampaan. Ada orang yang secara materi berhasil, tetapi batinnya kosong. Ada yang tampak kuat, tetapi hatinya rapuh.
Di sinilah puasa menjadi madrasah jiwa. Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa kuat kita mampu mengendalikan diri. Puasa melatih self-control, melatih kesabaran, melatih keikhlasan.
Ketika kita mampu menguasai diri sendiri, maka kita sedang menapaki tangga kepemimpinan sejati, memimpin diri sebelum memimpin orang lain. Karakter inilah yang akan melahirkan ketenangan, kewibawaan, dan kemuliaan akhlak.
Maka marilah di bulan suci ini kita latih diri dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai Ramadhan berlalu tanpa perubahan. Jadikan puasa bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi momentum pembentukan karakter.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mengendalikan diri, yang kuat secara spiritual, dan yang layak menyandang amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Wallahu a’lam bish-shawab.