JawaPos.com – Bulan suci Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan haus tetapi juga menjadi momentum memperkuat ikatan keluarga melalui ibadah bersama seperti shalat tarawih.
Mengajak anak ikut tarawih sering kali menjadi tantangan karena durasi dan kebosanan bisa membuat mereka kehilangan minat.
Namun pendekatan yang tepat dapat membantu anak merasa lebih terlibat dan nyaman dalam ibadah ini bukan sekadar kewajiban.
Psikologi perkembangan anak menunjukkan bahwa keterlibatan orang dewasa, pola rutinitas dan suasana yang menyenangkan sangat berpengaruh terhadap motivasi anak dalam mengikuti shalat tarawih berjamaah.
Baca Juga: Jadwal Sholat untuk Wilayah Tasikmalaya Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Selain itu keterlibatan aktif anak dalam ibadah dapat berdampak positif bagi perkembangan moral dan emosional mereka.
Berikut 5 cara mengajak anak ikut tarawih tanpa membuat mereka bosan sebagaimana dilansir dari laman Muslimah Bloggers, Minggu (22/2) :
- Mengenalkan tarawih sejak dini dengan cara bertahap
Memperkenalkan tarawih pada anak sejak usia dini secara bertahap membantu mereka mengenal suasana ibadah tanpa merasa terpaksa.
Mulailah dengan ajak anak menghadiri shalat berjamaah yang lebih pendek seperti Dzuhur atau Ashar sehingga mereka terbiasa dengan suasana masjid.
Baca Juga: Kurma Basah atau Kurma Kering : Mana yang Terbaik saat Sahur dan Berbuka Puasa Ramadhan?
Pendekatan bertahap ini menciptakan konteks positif bukan tekanan artinya anak belajar melalui pengamatan bukan paksaan.
Menurut studi penelitian tentang partisipasi anak dalam ibadah, orang dewasa menyiapkan panggung melalui lingkungan yang ramah bagi anak agar ia lebih terlibat.
Lingkungan yang nyaman misalnya masjid tidak terlalu penuh atau suasana keluarga yang hangat membantu anak merasa aman untuk berpartisipasi.
- Menjadikan tarawih sebagai aktivitas keluarga bersama
Keterlibatan orang tua secara langsung dalam ibadah meningkatkan peluang anak mengikuti karena mereka belajar melalui contoh sosial yang konsisten.
Baca Juga: Jadwal Sholat untuk Wlayah Banjar Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Anak cenderung meniru perilaku orang dewasa yang mereka lihat seperti ikut berjamaah, berdiri, rukuk dan duduk bersama keluarga.
Hal ini didukung oleh teori pembelajaran sosial bahwa anak belajar dari modeling behaviour.
Rutinitas tarawih bisa dirancang sebagai momen kebersamaan keluarga setelah berbuka puasa dimana setiap anggota memiliki peran kecil.
Misalnya sebelum berangkat tarawih, lakukan doa bersama atau bacakan ayat pendek agar suasana spiritual sudah terasa.
Baca Juga: 6 Fakta Gizi Kurma untuk Puasa Ramadhan : Energi, Nutrisi dan Manfaat Ilmiahnya
- Membuat suasana ibadah yang menyenangkan untuk anak
Tarawih bisa terasa panjang bagi anak sehingga menciptakan suasana ramah anak sangat penting agar mereka tetap fokus tanpa merasa bosan.
Beberapa tempat ibadah menyediakan area khusus anak atau aktivitas ringan seperti buku doa anak agar mereka tetap terlibat secara visual.
Jika memungkinkan, beri anak ruang kecil dari karpet masjid untuk membawa buku gambar Islam atau tas kegiatan kecil selama tarawih.
- Menjelaskan makna tarawih secara sederhana dan ceria
Anak lebih mudah memahami sesuatu jika disampaikan dalam bahasa sederhana, cerita atau analogi misalnya bahwa tarawih adalah cara bersyukur kepada Allah setelah seharian berpuasa.
Pendekatan naratif ini membantu anak mengaitkan ibadah dengan nilai emosional bukan sekadar kewajiban.
Penelitian perkembangan menunjukkan anak yang memahami makna sebuah aktivitas lebih terpacu untuk melakukannya secara sukarela.
Cerita ringan tentang kisah Ramadhan, pahala tarawih dan pesan moral dapat disampaikan sebelum atau sesudah tarawih agar anak lebih mengerti.
- Memberi penguatan positif dan apresiasi
Memberikan pujian atau penghargaan kecil ketika anak tetap tenang atau ikut sebagian tarawih bisa menjadi motivasi kuat bagi mereka.
Penguatan positif ini membantu anak mempelajari hubungan antara perilaku baik dengan penerimaan orang tua.
Pujian tidak harus berupa hadiah materi bisa berupa pelukan, kata motivasi atau sertifikat kecil dari keluarga.
Hal ini mengembangkan rasa bangga pada diri anak atas usaha mereka dalam ibadah bersama.