← Beranda

Puasa dan Kesehatan Mental : Lebih Tenang atau Justru Mudah Emosi?

Risma Aris MayaSabtu, 21 Februari 2026 | 12.52 WIB
Puasa memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental salah satu mengurangi kecemasan (freepik)

JawaPos.com – Puasa di bulan suci Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan haus tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan emosi seseorang baik secara positif maupun negatif selama menjalankannya.

Banyak penelitian internasional membahas apakah Ramadhan berperan meningkatkan ketenangan batin, mengurangi stres atau bahkan memicu perubahan suasana hati yang tidak stabil.

Artikel ini mengulas bukti ilmiah dan temuan riset tentang bagaimana puasa berdampak pada kesehatan mental termasuk emosi, suasana hati dan kesejahteraan psikologis sebagaimana dilansir dari PubMed Journal dan Springer, Sabtu (21/2) :

Baca Juga: Puasa Sebagai Detox Alami atau Sekadar Tren? Simak Bukti Ilmiah dan Penjelasan Lengkapnya

  1. Puasa Ramadhan dan Manfaat Kesejahteraan Mental

Sebagian besar studi menunjukkan bahwa puasa ramadhan dikaitkan dengan penurunan gejala depresi, kecemasan dan stres dimana hal ini menunjukkan potensi manfaat bagi kesejahteraan mental. 

Dalam review ini sekitar 72,7 % studi melaporkan penurunan gejala depresi, 66,6 % menunjukkan penurunan kecemasan dan 85,7 % menemukan penurunan stres setelah berpuasa. 

Selain itu, sekitar 71,4 % studi melihat peningkatan kesejahteraan psikologis keseluruhan selama Ramadhan menunjukkan adanya efek positif pada mood secara umum.

Baca Juga: Bukber Ramadhan : Apakah Sarana Silaturahmi atau Hanya Sekadar Formalitas? Simak Penjelasan Lengkapnya

Namun, penelitian ini juga mencatat bahwa kualitas tidur sering memburuk selama Ramadhan yang dapat berdampak negatif pada suasana hati dan fungsi kognitif. 

  1. Bukti Pengaruh Positif Puasa pada Mental

Sebuah uji acak terkendali atau dikenal dengan RCT menemukan bahwa puasa yang diikuti dengan perubahan pola makan dan gaya hidup sehat bisa meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan mental secara signifikan selama Ramadhan. 

Temuan ini menunjukkan bahwa aspek spiritual dan pola hidup yang lebih disiplin selama Ramadhan berkontribusi pada perasaan hidup yang lebih baik dan lebih fokus.

Baca Juga: Berkah Ramadhan! Kata Alaeddine Ajaraie Usai Buka Keran Gol Bareng Persija Jakarta, Bahagia Pecah Telur di Bulan Puasa

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa suasana hidup dan mindfulness menjadi lebih baik setelah Ramadhan dibandingkan sebelum Ramadhan pada kelompok yang menjalankan puasa dengan panduan makan sehat dan ideal.

  1. Studi tentang Emosi dan Perubahan Mood Selama Ramadhan

Sebuah riset menunjukkan bahwa meskipun beberapa emosi seperti ketegangan dan kelelahan meningkat di awal puasa, namun tingkat depresi dan kebingungan juga menurun selama Ramadhan berlangsung.

Hal ini menunjukkan bahwa beberapa aspek emosi dapat membaik secara bertahap selama puasa seiring adaptasi tubuh dan pola hidup berjalan.

Baca Juga: Riwayat Cedera di Jepang Bayangi Karir Bruno Paraiba Bersama Persebaya

Dalam studi tersebut, kelelahan dan ketegangan tetap tinggi selama puasa sedangkan kemarahan relatif stabil dan bahkan gejala depresinya menurun ketika Ramadhan berakhir.

Hal ini menjadi bukti bahwa emosi manusia dapat berubah bersamaan dengan penyesuaian fisik dan kebiasaan spiritual sepanjang bulan puasa. 

  1. Tantangan emosi selama Ramadhan

Meskipun banyak bukti ilmiah tentang manfaat puasa, penelitian lain juga menemukan bahwa perubahan pola tidur, rasa lapar dan tuntutan kegiatan sehari-hari dapat memicu perubahan mood dan tingkat emosi negatif pada sebagian orang.

Kualitas tidur yang terganggu dapat memperburuk mood, membuat seseorang lebih mudah merasa lelah, marah atau stres di awal Ramadhan.

Baca Juga: 4 Keistimewaan Makan Sahur: Tidak Dihisab hingga Keistimewaan Khusus bagi Umat Islam

  1. Puasa dan kesehatan mental : penyesuaian fisik dan psikologis

Tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri pada perubahan pola makan dan aktivitas terutama minggu awal puasa ketika kadar energi dapat berubah dan memengaruhi emosi.

Namun studi lain menunjukkan bahwa seiring Ramadhan berjalan, kondisi mental cenderung meningkat karena adaptasi serta hubungan spiritual dan sosial yang semakin kuat.

EDITOR: Hanny Suwindari