← Beranda

Waspada! Ini 8 Ciri Trauma Bond yang Sering Disangka Cinta dalam Hubungan

Intan PuspitasariSenin, 29 September 2025 | 13.38 WIB
Ciri Trauma Bond yang Sering Disangka Cinta dalam Hubungan (Freepik/stefamerpik)

 

JawaPos.com - Dalam beberapa tahun terakhir, masalah kesehatan mental semakin mendapat perhatian serius. Banyak orang mulai menyadari bahwa hubungan yang tampak penuh cinta ternyata bisa menyimpan pola beracun yang sulit diputus.

Salah satunya adalah trauma bond, yaitu ikatan emosional yang terbentuk antara korban dengan pelaku kekerasan atau pasangan yang abusif.

Banyak yang salah paham dan mengira trauma bond berarti kedekatan karena berbagi pengalaman traumatis. Padahal, trauma bond justru adalah keterikatan emosional yang dalam terhadap orang yang menyakitimu.

Inilah yang membuat banyak orang kesulitan keluar dari hubungan beracun meski tahu hubungan tersebut merugikan.

Agar lebih jelas, berikut ini delapan tanda bahwa yang kamu alami bukanlah cinta sejati, melainkan trauma bond, dikutip dari Youtube Psyh2go.

1. Pasangan Tampak Sangat Menarik dan Menawan di Awal

Tidak ada orang yang dengan sengaja memilih pasangan yang abusif. Namun, hubungan toksik sering kali dimulai dengan pesona yang memikat. Mereka terlihat perhatian, manis, bahkan penuh kasih. Sayangnya, sikap manis itu seringkali hanya kedok sebelum sisi beracun mereka mulai terlihat.

2. Mereka Sangat Tidak Konsisten Secara Emosional

Trauma bond sulit dikenali karena pelaku sering kali menunjukkan sisi manis setelah melakukan hal buruk. Hari ini mereka bisa marah, mengabaikan, atau merendahkanmu, tetapi besoknya penuh permintaan maaf dan janji manis. Pola ini membuatmu bingung dan akhirnya tetap bertahan.

3. Sering Melampiaskan Masalah pada Kamu

Apakah pasangan atau orang dekatmu kerap melampiaskan kekesalan meski kamu tidak bersalah? Jika setiap masalah mereka dijadikan alasan untuk menyakiti kamu, maka itu tanda hubungan yang tidak sehat. Kamu bukan tempat sampah emosional.

4. Mengisolasi Kamu dari Keluarga dan Teman

Sekilas, rasa cemburu bisa terlihat romantis. Namun, jika pasangan mulai membatasi pertemananmu, marah ketika kamu dekat dengan keluarga, atau melarang bergaul dengan orang lain, itu tanda isolasi yang berbahaya. Mereka berusaha menjadikanmu bergantung sepenuhnya pada mereka.

5. Kamu Menyangkal atau Menganggap Normal Perilaku Buruk Mereka

Korban trauma bond sering menenangkan diri dengan berkata, “Tidak apa-apa, sebenarnya dia baik.” Padahal, perilaku abusif tetaplah salah. Menyangkal atau mengecilkan masalah hanya akan membuatmu terjebak lebih lama.

6. Sering Membuat Alasan untuk Membela Mereka

Saat keluarga atau sahabat menegur, kamu mungkin malah mencari-cari alasan untuk membela pasangan. Bahkan bisa sampai merasa kamu pantas menerima perlakuan buruk tersebut. Inilah tanda kuat trauma bond yang membuat logika terkalahkan oleh ikatan emosional.

7. Mulai Merasa Mati Rasa secara Emosional

Apakah kamu merasa semakin hampa, kehilangan semangat, dan tidak seperti dirimu yang dulu? Itu bisa jadi mekanisme pertahanan diri akibat trauma berkepanjangan. Rasa mati rasa ini membuatmu tidak lagi menikmati hidup seperti sebelumnya.

8. Menyembunyikan Hubungan dari Orang Lain

Jika kamu merasa perlu menutupi masalah dalam hubungan atau menjadi defensif saat ada orang lain yang peduli, maka ini tanda serius. Trauma bond sering membuat korban loyal kepada pelaku, meski harus mengorbankan kesehatan mental sendiri.

Trauma bond bukanlah cinta sejati, melainkan ikatan emosional yang terbentuk dari pola manipulasi, ketidakstabilan, dan perilaku abusif. Jika tanda-tanda di atas terasa dekat dengan pengalamanmu, penting untuk menyadari bahwa kamu tidak sendirian dan tidak salah karena merasa sulit melepaskan diri.

Langkah pertama adalah mengakui pola beracun tersebut. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional, berbicara dengan orang yang kamu percaya, atau menghubungi pihak berwenang bila diperlukan. Ingatlah, cinta sejati tidak membuatmu merasa terisolasi, takut, atau hampa. Kamu berhak mendapatkan hubungan yang sehat, aman, dan membahagiakan.

EDITOR: Novia Tri Astuti