← Beranda

3 Fakta Seputar Gagal Ginjal dan Hemodialisis

Muhammad SyadriJumat, 24 Februari 2017 | 04.38 WIB
Krisna Yetti

JawaPos.com – Seseorang yang sudah mengalami penyakit ginjal di tahap ujung akhir berarti masuk dalam tahap Gagal Ginjal Terminal (GGT). Salah satu pengobatannya yang paling populer adalah hemodialisis atau akrab disapa dengan istilah “cuci darah”. Hemodialisis adalah proses pembersihan darah dari zat-zat sampah, melalui proses penyaringan luar tubuh. Artinya hemodialisis menggunakan mesin sebagai pengganti fungsi ginjal menyaring darah.

“Katakanlah sudah masuk tahap sakit organ ginjal, pada akhirnya kalau tak ditangani dengan baik, atau kalau ditangani dengan baik tapi penyakit itu progressnya memang demikian maka pada akhirnya sampai tahap akhir Gagal Ginjal Terminal (GGT),” kata Pakar Kesehatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK) Krisna Yetti, Kamis (23/2).

Jika sudah sampai tahap akhir atau GGT, pengobatan yang bisa dilakukan adalah hemodialisis, peritoneal dialysis, dan transpalantasi ginjal. Krisna menjelaskan ada sejumlah fakta seputar hemodialisis atau cuci darah yang jarang diketahui.

Fakta 1
Hemodialisis di Indonesia dimulai pada tahun 1971. Artinya selama 40 tahun pengobatan ini berjalan tentu ada berbagai perkembangan teknologi dan kebaruan. Hanya saja secara prinsip pengobatan tetap sama.

“Saya masuk ke unit itu di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) di tahun 1977. Ibaratnya sudah 40 tahun yang silam. Prinsip hemodialisias itu tetap sama, cuma terjadi perubahan-perubahan di dalam bentuk mesin, manajemen, dan cairan. Ini sifatnya terapi pengganti,” kata Krisna.

Fakta 2
Jumlah pasien gagal ginjal seiring berkembangnya Asuransi Kesehatan (Askes) di era sebelumnya, semakin banyak. Hal itu terjadi karena akses pembiayaan makin mudah untuk melakukan hemodialisis. Pengobatan ini cukup menguras kantong pasien saat Askes belum ada karena harus melakukannya beberapa kali dalam sepekan. Sebelum ada asuransi, pasien gagal ginjal tak tertangani dengan baik.

“Waktu saya kerja dulu pakai Askes, di awal saya kerja enggak banyak karena Askes belum ada. Tapi begitu ada perubahan lalu hemodialisis itu booming. Rupanya pasien itu memang banyak di Indonesia, cuma tak terkespos saja karena tak ada asuransi. Saat saya kerja hanya 1 shift, Begitu Askes ada, di RSCM ada dua shift begitu penuh,” tutur Krisna.

Fakta 3
Pasien gagal ginjal yang melakukan hemodialisis juga disarankan untuk tetap berolahraga. Pasien harus tetap semangat karena tetap memiliki semangat hidup dengan angka kualitas dan peluang hidup yang panjang selama melakukan hemodialisis dengan waktu serta frekuensi yang tepat.

“Semua orang kan disarankan olahraga. Pasien hemodialisis pun demikian. Bebas jalan kaki, berenang, yoga, taici, walaupun dalam kondisi sakit tetap dianjurkan. Tapi untuk asupan minum harus pada jumlah yang disepakati,” tegas Krisna.(cr1/JPG)

EDITOR: Muhammad Syadri