← Beranda

Benjamin Kristianto, Dokter Sekaligus Anggota DPRD Jatim Kisahkan Makan Nasi Garam

AdministratorKamis, 24 November 2016 | 23.48 WIB
DEMI SESAMA: Benjamin Kristianto menjalankan misi sosial dengan berpraktik gratis sebagai dokter.

Benjamin Kristianto punya kesibukan tinggi sebagai anggota Komisi E DPRD Jatim. Tapi, dia tetap punya waktu memberikan pengobatan gratis di Desa Semambung, Gedangan, Sidoarjo. Pasien yang datang tidak dipungut biaya jasa dokter.





SALMAN MUHIDDIN





SEORANG lelaki membopong istrinya keluar dari ruang praktik dokter Benjamin Kristianto. Tangan kiri menahan tubuh istrinya. Tangan kanan memegang kantong plastik berisi obat.



Dia adalah pasien ke-31 yang dilayani pada pukul 23.00. Pasien terakhir malam itu, Sabtu (19/11). Sejurus kemudian, Benjamin berteriak mempersilakan Jawa Pos masuk.



”Mari masuk. Pasien sudah habis,” kata anggota Komisi E DPRD Jatim itu di ruang praktiknya di Desa Semambung, Gedangan, Sidoarjo. Suaranya terdengar dari ruang tunggu.



Menembus jendela kaca yang ditutup gorden merah jambu. Dahulu ruangan 3 x 4 meter itu digunakan sebagai ruang tamu di rumah keluarga Benjamin. Ruang praktik lama pun berubah jadi tempat parkir.



Benjamin memang tidak lagi tinggal di tempat tersebut setelah pindah ke Taman Pondok Indah (TPI) Wiyung pada 2004. Meski demikian, dia tetap setia memberikan pengobatan gratis. Itu dilakukan sejak 1998.



Dia tidak membebankan biaya dokter kepada pasiennya. Pasien hanya membayar biaya obat. Di meja praktiknya ada berbagai macam obat. Mulai obat panas, diare, pegal linu, hingga multivitamin.



Pil dan kapsul tersebut memang paling banyak diberikan kepada pasien. Setelah menghela napas, Benjamin menceritakan mengapa dirinya rela menyempatkan diri membuka praktik di tengah kesibukan sebagai anggota DPRD Jatim.



”Saya pernah jadi orang berada, pernah miskin juga. Hanya makan nasi garam,” ucap suami Meiti Muljanti, juga seorang dokter, tersebut. Benjamin kecil dilahirkan di keluarga ekonomi kelas atas.



Ayahnya menjadi salah seorang direktur utama salah satu perusahaan swasta. Dia mengatakan, saat masih SMP pada ’80-an, mainan yang dia miliki belum banyak beredar di Indonesia.



Dia punya mobil remote control dan foosball atau sepak bola meja. Tapi, roda berputar. Pada 1985, kakaknya yang nomor enam, Samuel Kristianto, mengalami kecelakaan.



”Orang tua sampai jual rumah, jual tanah. Semua dijual,” ujar bungsu di antara delapan bersaudara tersebut. Petaka itu datang saat Benjamin masih duduk di kelas 3 SMP.



Setiap hari selama tiga bulan, dia menjaga kakaknya yang koma. Bahkan, dia harus mandi dan belajar di rumah sakit. Dari situ dia sadar bahwa menjaga orang sakit tidak mudah. Banyak biaya dan waktu yang dikorbankan.



”Biasanya, kalau sehari sampai lima hari, masih ramai yang menjaga. Kalau bisa lebih dari itu, saya acungi jempol,” ujar ayah tiga anak tersebut. Petaka kembali datang. Giliran ayahnya yang mengalami kecelakaan.



Pekerjaan sebagai Dirut pun melayang. Hidup sehari-hari hanya bergantung pada gaji yang diberikan selama satu tahun. Sampai-sampai ibunya meminta Benjamin bersabar kalau dia tidak bisa kuliah.



Mendapat omongan seperti itu, Benjamin malah terpacu. Dia lebih giat belajar dan memupuk cita-citanya sebagai dokter. Akhirnya, masuklah Benjamin di Universitas Padjadjaran Bandung (Unpad).



Setelah lulus pada 1994, dia mengikuti program dari Kementerian Kesehatan. ”Saya ditempatkan di Trenggalek,” ujar pria yang selalu mengecat rambutnya dengan warna merah itu.



Pada tahun pertama bekerja, dia langsung menjadi kepala Puskesmas Desa Sidomulyo, Kecamatan Pule, Trenggalek. Waktu tempuhnya 45 menit dari pusat kota saat itu.



Lokasi tugasnya berada di atas gunung. Tidak ada listrik dan PDAM. Jarang ada yang mau ditugaskan di kawasan itu. ”Saya bilang ke dinkes-nya. Selama ada genset, saya mau tinggal,” katanya.



Itu bukan tantangan ringan. Perlu penyesuaian tingkat tinggi. Sebab, dia biasa hidup di kota metropolitan Jakarta yang dipenuhi fasilitas. Yang paling sulit adalah saat menangani pasien yang hendak melahirkan.



Karena bidan belum ada, dia menjadi andalan di desa. Suatu saat ada laporan bahwa salah seorang warga hendak melahirkan di daerah Puyung. Dia harus turun gunung. Saat itu sudah tengah malam.



Jalur yang harus dia lewati melalui sebuah jembatan yang dikenal angker. Dia sudah diingatkan warga agar tidak melintas atau mencari jalan memutar yang lebih jauh.



Namun, karena kondisinya darurat, dia tidak menghiraukan omongan warga. Dia juga tak percaya hal-hal mistis seperti itu. Setelah tiba di rumah pasien, bayi dilahirkan dengan selamat.



Tapi, tugasnya belum selesai. Pasien mengalami retensio plasenta. Bayi sudah lahir, tapi plasenta masih tertinggal di rahim. Benjamin mengambil langkah cepat. Harus manual pakai tangan.



Dia pernah mendapat materi kuliah mengenai retensio plasenta. Tapi, baru kali ini dia menangani kasus tersebut secara langsung.



”Rasanya menyelamatkan nyawa seseorang itu tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Nikmat sekali,” sebutnya, lalu tersenyum.



Setelah mengabdi di Puskesmas Sidomulyo, dia memutuskan untuk membuka praktik sendiri di Sidoarjo. Saat itu, jumlah pasien bisa lebih dari 100 orang. Dia membuka praktik pukul 16.00 hingga 01.00 dini hari.



Ada satu hal yang selalu dia sampaikan kepada pasien-pasiennya sejak dahulu hingga kini. Yaitu, jangan menggantungkan diri pada obat. Pemahaman pasien juga terkadang salah.



Banyak yang meminta obat yang mahal. ”Itulah yang salah. Misalnya, ada yang kena diabetes. Minum obat mahal, tapi pola makan tidak diatur. Tidak akan sembuh,” ucapnya.



Dokter-dokter seharusnya memberikan edukasi sebagai langkah preventif agar pasien memiliki pola hidup sehat. Misalnya, menganjurkan pasien olahraga, tidak merokok, hingga kebiasaan mencuci tangan.



Sambil menyelam minum air. Sembari membuka praktik, dia melanjutkan S-2 di Universitas Airlangga (Unair). Program studi yang diambil adalah magister administrasi rumah sakit (MARS). Setelah lulus, karirnya melejit.



Dia mendapat mandat sebagai direktur medis di Rumah Sakit William Booth Surabaya. Pada 2014, dia memutuskan terjun ke ranah politik. Dia berhasil menjadi wakil rakyat daerah pemilihan (dapil) Jatim I (Surabaya–Sidoarjo) bersama Gerindra.



Saat ini Benjamin adalah anggota komisi E. Komisi yang membidangi kesejahteraan rakyat (kesra). Di Partai Gerindra dia menjadi ketua Kesehatan Indonesia Raya (Kesira) Jatim.



”Saya bisa membantu lebih banyak orang dengan menjadi anggota dewan. Itulah alasan saya mengapa mau masuk dunia politik,” ujar pria yang suka makan rujak cingur tersebut.



Selain menolong rakyat, dia sering menjadi penolong anggota dewan yang lain. Dia mengeluarkan tas pinggang kulit, lalu menunjukkan obat-obatan yang selalu dia bawa ke mana pun.



Yang paling sering dia bagikan adalah obat penurun kolesterol dan obat diare. Anggota dewan lainnya menjadikan Benjamin apotek berjalan saat melakukan kunjungan kerja atau rapat.



”Karena biasanya ada yang alergi makanan. Makanya mencret,” sebut anggota Badan Pembentukan Perda (Bapemperda) DPRD Jatim tersebut.



Saat kunjungan kerja, Benjamin terkadang berangkat paling akhir. Sebisanya dia menyempatkan waktu untuk melayani pasien. Nah, saat dia berdinas sebagai wakil rakyat, pasien diarahkan ke klinik yang tak jauh dari tempat praktiknya.



”Kalau di klinik, bayar biaya dokter. Tapi, cuma Rp 10 ribu,” ujar pria yang bisa memainkan gitar, piano, dan drum tersebut.



Pada akhir wawancara, Benjamin bercerita soal mimpinya. Dia ingin mendirikan rumah sakit murah milik sendiri. Berharap tidak ada lagi pasien yang ditolak rumah sakit. (*/c6/dos/sep/JPG)

EDITOR: Administrator