← Beranda

Nanang Purwono, Penulis Buku Meneropong Sejarah Surabaya dari Sungai Kalimas

Dian Wahyu PratamaKamis, 11 Mei 2023 | 14.48 WIB
SUSUR SUNGAI: Nanang Purwono sedang menunjukkan aliran Sungai Kalimas. Di sekitar aliran sungai tersebut banyak tempat yang memiliki nilai sejarah dan saling berkaitan.

Dari literasi yang dibacanya, Nanang Purwono meyakini bahwa cikal bakal Surabaya berawal dari Sungai Kalimas. Sejak 2010, dia mulai menulis catatan tentang sungai itu. Pada Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) Ke-730, notulensi tersebut dikumpulkan dan dibuat menjadi buku yang bertajuk Meneropong Sejarah Surabaya dari Sungai Kalimas.

DIAN WAHYU PRATAMA, Surabaya

PADA 2018, Nanang mulai turun langsung mengamati dari dekat Sungai Kalimas. Susur sungai itu dimulai dari Pintu Air Ngagel. Bangunan peninggalan Belanda tersebut menjadi dasar penetapan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS).

Dari Pintu Air Ngagel, Pria 56 tahun itu perlahan bergerak ke utara hingga Pelabuhan Rakyat Kalimas. Selama kurun waktu lima tahun terakhir, Nanang hampir setiap hari bolak-balik dari rumah ke tepi Sungai Kalimas. Selain mengamati, dia juga berdiskusi dengan tokoh masyarakat.

Total jarak tempuh pengamatan itu sejauh 10 kilometer. Ada 73 titik yang diamati. Meski sempat diterpa cuaca buruk hingga minimnya informasi yang didapat di beberapa lokasi, Nanang tidak menyerah.

’’Ya, dibawa enjoy saja. Kalau capek, istirahat sebentar sambil nyeruput es cao,” tuturnya saat ditemui Selasa (9/5).

Sebagai pijakan observasinya, Nanang melakukan kajian literasi. Beberapa sumber seperti Oud Soerabaia, Nieuwe Soerabaia, Er Werd Een Stad Geboren, hingga Soerabaja menjadi bahan rujukannya.

’’Temuan beberapa sumber literatur, hasil pengamatan di lapangan, hingga prasasti dikorelasikan. Itu menjadi sumber tulisan dalam buku saya,’’ ujarnya.

Dari riset hingga susur sungai selama bertahun-tahun itu, Nanang mampu menghasilkan karya tulis yang berisi 10 bab dengan tebal 200 halaman. Judulnya Meneropong Sejarah Surabaya dari Sungai Kalimas.

Lewat judul itu, dia ingin membawa pembaca mengetahui cerita sejarah setiap tempat yang ada di sekitar Sungai Kalimas. ’’Ini tidak banyak orang tahu,” tambahnya.

Menurut Nanang, tambahan informasi sejarah dari buku itu sangat dibutuhkan oleh warga. Utamanya penggiat sejarah.

’’Sehingga warga tidak sekadar berwisata naik perahu keliling Kalimas. Mereka juga mengetahui nilai sejarahnya. Khususnya bagi generasi muda,” jelasnya.

Pada buku keempatnya itu, Nanang ingin mengajak para pembaca mengetahui sejarah tempat di sekitar Sungai Kalimas secara runtut. Sebab, antara satu spot dan yang lain memiliki keterkaitan cerita sejarah. ’’Paling banyak titiknya di wilayah Surabaya Utara,” tambahnya.

Hasil karya Nanang itu diharapkan dapat mendukung rencana revitalisasi Sungai Kalimas. Sekaligus menjadi sebuah bukti bahwa sungai yang membentang di Kota Pahlawan itu tidak hanya sebagai wisata, namun dapat menjadi pusat edukasi dan penelitian.

Rencananya setelah penerbitan buku tersebut, akan menyusul empat buku lainnya yang ditulis untuk melengkapi penjelasan dari beberapa tempat di sekitar Sungai Kalimas.

Baginya, Sungai Kalimas memiliki kisah sejarah yang wajib diketahui oleh masyarakat luas. Sebab, besarnya Kota Surabaya merupakan peran dari keberadaan Sungai Kalimas.

’’Yang menjadi penggerak perdagangan dan jadi urat nadi perekonomian sejak zaman kolonial,” paparnya. (*/c6/aph)

EDITOR: Dhimas Ginanjar