LeBron James sudah bikin gempar dunia basket sejak masih bersekolah di St. Vincent-St. Mary. Dialah pemicu utama munculnya aturan tidak boleh langsung masuk NBA setelah lulus SMA.
AZRUL ANANDA, Akron
---
NAMA St. Vincent-St. Mary High School benar-benar melambung gara-gara LeBron James. Bila banyak bintang melanjutkan karir di arena NCAA (kompetisi universitas) sebelum masuk NBA, James memang langsung lompat dari SMA masuk NBA.
Bahkan, pada 2003, James merupakan bintang terakhir yang lompat dari SMA masuk NBA. Setelah itu, NBA mengeluarkan aturan bahwa seorang pemain baru boleh bergabung di liga tertinggi itu setahun setelah lulus SMA.
Setahun itu boleh digunakan untuk mencicipi liga universitas (istilahnya one and done), atau bermain di luar negeri, atau menganggur.
Banyak superstar sebelumnya memang lompat dari SMA ke NBA, seperti Kobe Bryant dan Kevin Garnett. Tapi, James benar-benar membuat heboh saat masih SMA sehingga perdebatan yang berlanjut ke penerapan aturan itu memuncak.
Berbagai kontroversi memang menggemparkan dunia basket saat James berkiprah di St. Vincent-St. Mary. Berbagai perusahaan berebut kontrak sebelum dia lulus sekolah. Berbagai hadiah mewah mengundang kecurigaan banyak pihak, sempat mengancam status James waktu itu sebagai pemain amatir.
Untuk eligible (boleh) bermain di tingkat SMA, seseorang memang harus benar-benar amatir. Bahkan, nilai hadiah yang diterima pun tidak boleh melewati batasan angka tertentu (limitnya USD
100 atau sekitar Rp 1,3 juta).
Segala kegaduhan itu sempat menenggelamkan betapa uniknya cerita bagaimana LeBron James memilih masuk di St. Vincent-St. Mary.
Sekolah itu bukan pilihan pertamanya. Sekolah tersebut dipilih karena mengikuti para sahabat. Ya, sejak sebelum SMA, James sudah menunjukkan loyalitas luar biasa terhadap teman-teman dan lingkungan.
***
Keluarga James bukanlah keluarga kaya. Malah bisa dibilang miskin. Dia dibesarkan sendirian oleh ibunya, Gloria, di dalam Kota Akron. Tinggal berpindah-pindah dari satu apartemen ke yang lain.
Di sisi lain, St. Vincent-St. Mary adalah sebuah sekolah private (swasta) Katolik dengan mayoritas pelajar kulit putih yang kondisi ekonominya baik. Sekolah itu merupakan hasil merger yang terjadi pada 1972. Sebelumnya, St. Mary sudah berdiri sejak 1897. Sedangkan St. Vincent sejak 1906.
Sejatinya James akan masuk ke sebuah sekolah public (negeri). Tapi batal. Dia masuk St. Vincent-St. Mary karena memenuhi janji untuk selalu bersama dengan para sahabat.
Sebelum SMA, James bermain basket di ajang Amateur Athletic Union (AAU). Ketika salah satu sahabat bilang akan masuk ke St. Vincent-St. Mary, semua yang lain langsung ikutan.
Di sekolah itu, mereka pun dikenal sebagai Fab Five. Selain James, empat lainnya adalah Willie McGee, Sian Cotton, Romeo Travis, dan Dru Joyce III. Pelatih mereka adalah Dru Joyce II (ayah Dru Joyce III), yang sampai hari ini masih menjadi head coach tim putra St. Vincent-St. Mary.
Persahabatan itu terekam dalam film dokumenter More than a Game, menceritakan awal karir LeBron James. Persahabatan itu juga diabadikan di salah satu dinding LeBron James Arena. Foto mereka berlima terpampang, dengan tulisan di atasnya berbunyi, "TODAY we are brothers, FOREVER will be family, FAB 5 for life."
***
Willie McGee, salah satu anggota Fab 5 itu, kini adalah athletic director di St. Vincent-St. Mary. Dia bertanggung jawab atas segala kegiatan olahraga sekolah tersebut. Bukan hanya basket, total membawahkan kegiatan di 25 cabang olahraga.
Ketika kami berkunjung, McGee mengantarkan kami masuk ke ruang ganti (locker room) tim basket di ujung arena. Dia lantas menunjukkan beberapa hal menarik yang ada di dalamnya.
Pertama, posisi locker yang dulu dipakai James, yang letaknya di dinding sebelah pintu. Hanya ada dua locker di situ. "Yang satu lagi di sebelahnya dulu milik saya," ungkap McGee.
Ruang locker itu lagi-lagi sangat bernuansa LeBron James. Foto dan namanya terpampang di berbagai sisi. Bagian dari renovasi bernilai USD 1 juta hasil sumbangan sang megabintang.
Meski banyak direnovasi, hal-hal terpenting di dalamnya tidak berubah. Di dinding atas, mengelilingi seluruh ruangan, terdapat kutipan-kutipan yang memotivasi para pemain.
Misalnya, kutipan Aristotle yang berbunyi, "We are what we repeatedly do. Excellence then, is not an act but a habit." Lalu, ada kutipan dari tokoh agama Bishop Joey Johnson, "Relationships are everything."
McGee menjelaskan, semua itu pilihan sang pelatih, yang tidak pernah berhenti mencari ilmu baru, lalu menyampaikan pesan-pesan hidup kepada para pemainnya. "Coach adalah seseorang yang selalu ingin belajar," ujarnya.
Para pemain sebelum keluar dari ruang ganti untuk masuk ke lapangan juga punya tradisi khusus. Ada sebuah papan di dekat pintu, bertulisan tujuh value (nilai-nilai utama) yang di tekankan kepada para pemain. Berlaku saat menjadi pemain basket, juga untuk kehidupan sehari-hari. Setiap kali keluar dari ruangan, para pemain -ter masuk LeBron James dulu- selalu menepuk-nepuk papan tersebut.
Tujuh value itu adalah: Humility, agar selalu rendah hati. Unity, kebersamaan. Discipline. Thankfulness, selalu bersyukur. Servanthood, selalu mengabdi. Integrity. Passion. "Papannya dulu tidak sebagus ini, tapi tulisannya sama. Papan baru ini dipasang berbarengan dengan renovasi hasil sumbangan LeBron James," jelas McGee.
***
Kembali ke kehebohan, bahkan kegaduhan, yang disebabkan oleh LeBron James saat masih SMA: Tim basket putra St. Vincent-St. Mary sebenarnya tidak selalu bermain di sekolah sendiri saat home game.
Begitu banyaknya minat orang untuk menonton mengakibatkan tim itu dulu harus pindah arena. Bermain di gedung milik University of Akron, yang memiliki kapasitas lebih besar.
Harga tiketnya waktu itu pun tergolong dahsyat untuk laga SMA. Ada season ticket (tiket semua game yang totalnya ada se puluh pertandingan) dengan harga USD 125.
Penonton datang dari berbagai penjuru Amerika. Para pemandu bakat dari berbagai tim NBA atau universitas bergantian datang menonton.
Luar biasa!
***
Sekarang sudah menjadi megabintang, dikenal di seluruh penjuru dunia, James tidak pernah melupakan Akron dan SMA-nya.
Saat ini James tetap memilih tim manajemen yang terdiri atas teman-teman sendiri. Salah satu pengelola bisnis utamanya adalah Maverick Carter, kakak kelas James di St. Vincent-St. Mary.
"Waktu James masih freshman (kelas IX, Red), Maverick sudah senior (kelas XII, Red)," jelas Courtney Kellett Conley, director of constituent relations (alumni) di sekolah tersebut. James sekarang juga memilih tinggal di kawasan Akron. Bukan di Cleveland. Toh jaraknya dekat. Hanya 30 menit naik mobil.
Tak heran, tegas Conley, James masih sering menyempatkan diri mampir ke SMA-nya itu. Conley dulu satu angkatan dengan James. Lulus SMA pada 2003. Dia mengaku masih sangat takjub akan betapa populernya pemain itu di seluruh dunia saat ini. Mengakibatkan begitu banyak "turis basket" mampir ke St. Vincent-St. Mary, seperti rombongan kami dari Indonesia.
Secara resmi, hanya ada tiga pemain St. Vincent-St. Mary yang jersey-nya digantung di dinding arena. Selain LeBron James, ada Jerome Lane dan Curtis Wilson.
Lane pernah berlaga di NBA pada 1988-1993, membela empat tim, termasuk Cleveland Cavaliers. Wilson berkiprah di awal 1980-an. Tidak pernah masuk NBA, tapi menjadi salah satu bintang terbesar di Ohio State University plus pernah berlaga bersama tim nasional Amerika Serikat. Courtney Kellett Conley inilah yang terakhir menemani kunjungan kami di St. Vincent-St. Mary. Dia juga menunjukkan kepada kami fasilitas lain sekolah seperti ruang makan/ruang belajar luas yang berdampingan dengan LeBron James Arena.
Di sekitar situ, ada pula sebuah toko merchandise. Menjual berbagai apparel serta aksesori bernuansa hijau dan emas St. Vincent-St. Mary.
Sayang, hari itu toko tersebut tutup. Conley menyebut jangan terlalu kecewa. Tidak lama lagi mereka akan mengembangkan toko tersebut. "Kami akan segera punya toko merchandise online.
Jadi, kami bisa mengirimkan barang-barang ini ke mana pun Anda berada," ucapnya.
Sebelum pulang, kebetulan pas jam makan siang, Conley merekomendasikan kami untuk berjalan sekitar dua blok dari sekolah.
Di sana, ada sebuah restoran bernama Akron Family Restaurant. "LeBron James dulu suka makan di sana," ungkapnya.
Setelah mengucapkan terima kasih dan berfoto-foto, kami pun bergegas menuju restoran tersebut.
Restorannya sederhana, sebuah American diner klasik milik keluarga setempat. Di lobinya, banyak poster dan foto bergambar para bintang olahraga Ohio. Termasuk sebuah poster menu yang ditandatangani oleh -tentu saja-
LeBron James!
Tentu pula, kami ingin merasakan menu favorit The King. Apa itu? Strip steak and eggs. Isi nya sepotong daging sapi panggang, hash brown (kentang suwir), dua telur mata sapi, plus roti gandum. Harganya pun relatif tidak mahal, bahkan bisa dibilang murah untuk ukuran Amerika, di kisaran USD 12 atau tak jauh dari Rp 150 ribu.
Ya, LeBron James sekarang superkaya, bisa makan di restoran termahal di dunia kapan saja. Tapi, menurut keluarga pengelola restoran, LeBron James ternyata masih sering mampir ke restoran tersebut!
Benar-benar seorang bintang yang tak pernah melupakan dari mana dia berasal! (habis)