← Beranda

Kisah Napi Asuh Bayi di Rutan Perempuan Kelas II-A Surabaya

Dhimas GinanjarJumat, 30 September 2022 | 14.48 WIB
KASIH IBU: Anita menimang bayinya, MK, di Rutan Perempuan Kelas II-A Surabaya di Porong, Sidoarjo, Senin (26/9). Dia merawat anak kelimanya di bui agar bisa menyusuinya. (Dimas Maulana/Jawa Pos)
Anita, narapidana (napi) Rutan Perempuan Kelas II-A Surabaya (Ruperbaya), hingga Rabu (28/9) mengasuh bayinya di dalam penjara. Dia merawat bayi yang hari ini genap berumur 9 hari di bui dengan niat mulia. Bisa memberikan air susu ibu (ASI) secara langsung kepada sang buah hati.

AHMAD REZATRIYA BELANI, Surabaya

BAYI laki-laki yang lahir pada 21 September itu tertidur pulas di dipan sel isolasi Ruperbaya. Dia tidur setelah Anita, sang ibu, menggendongnya cukup lama. Tidak sekadar menggendong, perempuan 37 tahun tersebut juga menimang sambil berdoa dengan lirih.

Setelah anak kelimanya tidur, Anita menata baju dan popok sekali pakai di sisi kanan bayi. Dia menyatakan, bayi yang diberi nama MK itu kelelahan setelah terjaga sejak dini hari. ”Melek terus dari tadi. Sempat nangis juga,” kata Anita, lalu tersenyum. Bayi mungil itu tertidur pulas selepas duhur.

Dengan mantap, Anita berkata ingin merawat buah hatinya di rutan sambil menunggu masa tahanannya selesai. Selain ingin memberi ASI eksklusif, ibu lima anak itu tidak punya pilihan lain. Dia tidak ingin membebani keluarga.

Saat ini keluarga telah merawat keempat anaknya. Suami dan orang tuanya yang sudah lanjut usia di Surabaya saling membantu merawat mereka. ”Usia bapak sudah 80 tahun dan ibu 68 tahun. Saya tidak tega,” ujarnya.

Sementara, suaminya juga sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak-anak.

Menurut Anita, sebenarnya keluarga berharap bisa merawat si bayi. ”Suami juga bilang mau merawat dan membawa si kecil ini bekerja,” ungkapnya.

Namun, keputusannya bulat. Anita ingin mengasuh bayi sendiri hingga membuat keluarga luluh. ”Si kecil ini perlu ASI eksklusif,” tegas warga Surabaya tersebut.

Demi memberi ASI optimal, Anita berusaha agar tidak stres. Hal yang sempat dia rasakan saat awal masuk ke rutan pada Juli lalu dengan kondisi hamil tua. ”Sempat stres awal-awal memang. Tapi, karena sudah kenal semua, jadi ya dibawa happy saja,” ungkap napi yang terjerat perkara penipuan itu.

Menurut Anita, stres tidak hanya membuat seorang ibu pusing. Bayi juga bisa ikut rewel. Akibatnya, ASI tidak lancar. Anita tidak ingin hal tersebut terjadi. Dia tidak mau ASI untuk bayinya berkurang. Apalagi, keempat anaknya dulu mendapat ASI yang cukup hingga berusia 1 tahun. ”Saya ingin yang ini bisa sama dengan kakak-kakaknya walau berada di rutan,” tutur napi yang divonis pidana selama satu tahun penjara tersebut.

Hingga kemarin, Anita tinggal di sel isolasi. Sebab, dia baru saja selesai melahirkan. Selain itu, diharapkan si bayi bisa beradaptasi di lingkungan rutan. ”Sementara di sini. Besok (hari ini, Red) saya baru pindah ke sel semula. Bersama warga binaan yang lain,” jelasnya.

Selama Anita berada di sel isolasi, keluarga belum bisa menemui si bungsu. Meski, suaminya sudah tiga kali berkunjung ke rutan. ”Tetap datang (ke rutan). Tapi, hanya membawakan popok bayi. Belum bisa bertemu,” kata dia.

Bukan hanya suaminya yang belum bisa menemui, tetapi juga keempat anaknya. Padahal, mereka ingin segera melihat dan bermain bersama adik kecilnya. Keluarganya baru bisa bertemu dengan MK saat Anita sudah menyelesaikan masa isolasi nanti. ”Mungkin tidak lama lagi suami sama anak-anak saya ke sini untuk lihat si bayi,” ucapnya sambil sesekali memperhatikan bayinya. 
EDITOR: Dhimas Ginanjar