Setelah lulus kuliah, Zain Al Multazam mendirikan Peduly, sebuah perusahaan yang menggabungkan kegiatan sosial dan bisnis. Lewat Peduly, dia menggalang donasi, merekrut relawan, hingga mengajak anak panti asuhan jalan-jalan di tempat wisata.
ADINDA WAHYU AZMARANI, Surabaya
PEDULY lahir di Surabaya pada 2018. Namun, ’’anak pertama’’ Zain itu tak serta-merta besar. Zain memulainya dari nol. Dia pernah menggalang donasi dari pintu ke pintu atau tempat umum bersama teman-teman kuliahnya.
’’Kita pernah open donation di lapangan kodam, lalu hasilnya langsung disalurkan ke tunawisma atau orang yang membutuhkan,’’ kata Zain saat dijumpai di sela-sela kesibukannya dalam project akhir pekan Peduly Surabaya di Griya Werda Surabaya pekan lalu.
Perlahan tapi pasti, kegiatan sosialnya mulai berkembang. Dia mencari rekan dari kalangan anak muda untuk menjadi pengurus Peduly. Mereka bergerak cukup aktif saat pandemi Covid-19 meski sempat vakum enam bulan karena kekurangan dana.Ketika pandemi mulai surut, Zain dan Peduly bangkit lagi.
Kegiatan yang awalnya hanya menyalurkan donasi berubah semakin kompleks dan seru. Zain mengajak anak muda untuk ikut berpartisipasi sebagai relawan dalam beberapa kegiatan yang dia rancang. Dengan begitu, cakupannya menjadi lebih luas dan besar.
’’Dari situ, kita tahu bahwa ternyata banyak juga orang yang ingin mempunyai wadah untuk melakukan inisiatif sosial seperti ini,’’ kata pria kelahiran 1995 tersebut.
Tiap project diawali dengan menentukan target donasi. Biasanya yang menjadi sasaran Peduly adalah anak yatim piatu, anak jalanan, hingga lansia penghuni panti jompo. Setelah itu, mereka akan menyusun kegiatan bersama dengan cara pembiayaan secara mandiri.
Siapa pun bisa menjadi relawan di Peduly. Caranya hanya dengan mendaftar dan memberikan donasi sesuai ketentuan setiap kegiatan. Nominalnya sekitar Rp 100 ribu.
Uang yang dibayarkan itu sudah termasuk kaus dan sertifikat untuk relawan dan bantuan untuk penerima donasi.
’’Ajak orang-orang untuk bekerja sama dalam membuat dampak baik. Saya percaya hal-hal baik itu harus diperjuangkan bersama,’’ tutur alumnus Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.
Kegiatan yang dibuat Peduly bersifat fun. Mereka kerap menggelar acara di tempat-tempat wisata ikonik di Surabaya.
Misalnya, mengajak anak-anak panti asuhan menanam bakau di Wisata Mangrove Wonorejo, jalan-jalan ke Kebun Binatang Surabaya (KBS), hingga menikmati senja dengan menaiki perahu di Kalimas.
’’Kita memang cari tempat ikonik di Surabaya agar masyarakat bisa sekaligus mengenal kota ini,’’ ujarnya.
Peduly juga beberapa kali bekerja sama dengan pemerintah. Contohnya, mengajak anak-anak panti asuhan berwisata sejarah di Kampung Pecinan beberapa waktu lalu. Karena seru, kegiatan Peduly pun kerap dijadikan sarana healing bagi para relawan, bahkan bagi Zain sendiri.
Ketika tengah lelah dengan rutinitasnya, Zain kerap turun langsung mengikuti kegiatan Peduly, baik itu di Surabaya maupun luar kota. ’’Ikut main bareng relawan dan anak-anak panti atau lansia, itu caraku refreshing. Hal-hal ini juga yang bikin aku lepas dari quarter life crisis,’’ terangnya.
Zain mengklaim bahwa Peduly telah mewadahi lebih dari 2.500 relawan. ”Relawan yang mengikuti kegiatan sangat banyak, bahkan sering berlebih dari kuota yang ditetapkan,” paparnya.
Peduly tidak hanya ada di Surabaya. Ada sembilan kota lainnya. Yakni, Malang, Jember, Jogjakarta, Surakarta, Semarang, Jakarta, Bandung, Bogor, dan Bali.
Penggalangan dana pun tidak hanya dilakukan melalui relawan, tapi juga lewat aplikasi Peduly. Siapa pun bisa memberikan donasi dalam jumlah berapa pun. Zain menjelaskan, Peduly akan mengambil 5 persen dari donasi tersebut untuk dana operasional.
Hal itu pula yang melatarbelakangi penyebutan Peduly sebagai social enterprise, bukan sekadar komunitas. ’’Dulu awalnya saya ajak yang pengen ikut saja, tapi hanya bertahan dua bulan, lalu saya harus cari lagi. Dari situ, saya tahu bahwa memang harus ada orang yang bekerja profesional untuk hal ini. Makanya, kita jadikan company,’’ ujarnya.
Saat ini Zain mulai fokus mencari pengurus untuk Peduly Makassar, kota pertama Peduly di luar Pulau Jawa. (*/c7/aph)