← Beranda

Festival Remo Yosakoi Tandai 26 Tahun Kerja Sama Surabaya-Kochi

Galih Adi PrasetyoSenin, 17 Juli 2023 | 23.11 WIB
AKULTURASI: Sejumlah peserta menari yosakoi di Balai Kota Surabaya, Minggu (16/7). Lomba tari yosakoi dihelat rutin setiap tahun.

Sejak 1997, Surabaya dan Kota Kochi, Jepang, menjalin kerja sama lewat program sister city. Wujud hubungan yang erat itu ditunjukkan lewat Festival Yosakoi yang dihelat rutin setiap tahun.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

KEMARIN (16/7) pagi puluhan siswa dari SD Kreatif Muhammadiyah 16 sudah bersiap di Taman Surya, Balai Kota Surabaya. Mereka mengenakan kostum mirip penari jaranan, lengkap dengan mahkota di atas kepala. Namun, busana yang dipakai lebih berwarna. Para pelajar itu juga membawa dua buah kayu yang bentuknya mirip centong nasi.

Begitu musik diputar, bukan tabuhan gamelan khas Jawa yang mengalun, melainkan musik dari sound system. Iramanya rancak dan didominasi tabuhan perkusi. Kayu yang mirip centong nasi itu memberikan bunyi prak...prak…ketika dipukulkan.

Ya, tarian yang dibawakan siswa kelas III, IV, dan V SD Kreatif Muhammadiyah 16 itu adalah tari yosakoi. Tarian tersebut berasal dari Kota Kochi, salah satu wilayah di Jepang. Para penari itu ikut meramaikan Festival Remo Yosakoi yang menandai kerja sama antara Surabaya dan Kochi selama 26 tahun.

Festival Remo Yosakoi dilombakan. Total ada 24 tim yang ikut serta. Pesertanya mencapai 600 orang. Lomba itu terbagi menjadi kategori anak-anak (SD dan SMP) dan remaja (SMA). SD Kreatif Muhammadiyah 16 menjadi salah satu peserta lomba.

”Kami mengangkat tema jaranan. Selama tiga minggu kami menyiapkan penampilan,” ujar Wakasek SD Kreatif Muhammadiyah 16 Surabaya Agus Mulyadi.

Setiap peserta lomba diminta menyiapkan dua jenis tarian, yaitu seicho dan wacho. Seicho ditampilkan saat defile. Sementara itu, wacho dibuat masing-masing peserta.

”Tidak banyak perbedaan kalau dari teknik tarian karena disesuaikan dengan entakan kaki dan tangan. Tapi memang bagi anak-anak, musiknya awal-awal terasa asing, tapi lama-lama bisa enjoy juga,” kata Agus.

Tim SD Kreatif Muhammadiyah 16 berhasil menyuguhkan penampilan yang sempurna. Riuh tepuk tangan menyambut tim itu seusai mereka tampil. ”Di depan tadi sempat ndredeg. Apalagi ada wali kota Surabaya dan wali kota Kochi. Tapi karena pakai naruko (kayu mirip centong nasi) jadi bisa fokus ke gerakan dan mengatur tempo,” ujar salah seorang peserta Khalisa Naura Atifa.

Wali Kota Kochi Seiya Okazaki mengatakan, seharusnya Festival Yosakoi digelar pada 2022. Itu bertepatan dengan usia kerja sama Surabaya-Kochi yang mencapai seperempat abad. Namun, karena pandemi, kegiatan mundur setahun.

Tidak sekadar merayakan hubungan diplomatik yang kian raket, kedatangan delegasi Kochi ke Surabaya kali ini juga membawa sejumlah misi. Di antaranya, misi dagang antara kedua kota. (*/c6/aph)

EDITOR: Dhimas Ginanjar