JawaPos.com - Beberapa waktu lalu Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) sempat menyinggung kabinet kerjanya yang kurang optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan beberapa indikator nasional yang membaik, pertumbuhan ekonomi justru cenderung stagnan di angka 5,01-5,03 persen.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesua (Apindo) Haryadi Sukamdani mengatakan, banyak yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi tidak bisa berlari kencang pada 2017. Menurutnya, hal itu terjadi lantaran ada faktor psikologis yang membuat masyarakat menunda uangnya untuk dibelanjakan.
"Banyak faktor-faktor yang memang sifatnya psikologis ya atau non teknis yang membuat orang menunda mereka untuk ekspansi, menunda untuk melakukan spendingnya gitu sih," ujarnya kepada JawaPos.com, Sabtu (6/1).
Kendati demikian, dirinya optimis tahun ini pertumbuhan ekonomi bisa bergerak lebih cepat. Haryadi berpendapat, tahun ini masyarakat mulai kembali bergerak untuk mengeluarkan uangnya.
Disamping itu, dirinya juga menekankan agar menteri kabinet kerja Jokowi - JK untuk lebih hati-hati dalam membuat kebijakan. Jika sampai salah, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi akan kembali stagnan. Kepercayaan masyarakat terhadap Presiden Jokowi juga bisa berkurang.
"Tapi kalau tahun ini akan terlihat lebih baik, karena kelas menengah ini mulai bergerak. Jadi memang yang dibutuhkan itu konsistensi dari kebijakan pemerintah dan kebijakan untuk pro yang kepada investasi, karena di lapangan kadang suka beda ya," tandasnya.