← Beranda

Setelah 2 Hari Perjalanan Darat, Pengiriman Bantuan ke Aceh Tengah Dilanjutkan dengan Drone

Ilham SafutraJumat, 12 Desember 2025 | 14.40 WIB
Penyaluran air bersih untuk penyintas bencana di Aceh Tamiang beberapa hari yang lalu. (Instagram PSI)

JawaPos.com - Ada banyak lokasi yang masih terisolasi di Aceh setelah bencana banjir bandang dan longsor akhir November lalu. Baik itu di Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireuen, dan Nagan Raya. Akibatnya bantuan sulit untuk korban sulit didistribusikan. 

Akibatnya, relawan atau masyarakat yang mengirim bantuan mengalami banyak kendala. Mereka menempuh jalan darat berhari-hari, menyeberangani sungai dan memanfaatkan drone. Seperti yang dialami tim peduli Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang membentuk posko utama untuk mengirimkan bantuan bencana di Aceh.

Ketua DPW PSI Aceh Zulkarnaini Syeh Joel mengatakan, penanganan bencana di Aceh beberapa hari terakhir berlangsung dalam kondisi yang sangat menantang. Akses jalan terputus, jembatan amblas, hingga longsor di sejumlah titik membuat distribusi bantuan terhambat.  

Oleh karena itu, para relawan PSI mengambil langkah tak biasa. Mereka menggunakan drone untuk mengirim bantuan ke wilayah yang tak bisa diakses kendaraan.

Zulkarnaini menerangkan, posko utama PSI di Bireuen telah menyalurkan 2,9 ton beras, minyak goreng 245 liter, telur 200 papan, air mineral 150 dus, mi instan 160 dus, susu 13 dus, roti, kue, hingga pakaian layak pakai untuk warga terdampak di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Bireuen.

Baca Juga: Ratusan Tabung Gas 12 Kg Digantung di Bawah Helikopter, Pertamina Kirim ke Wilayah Terisolasi di Aceh

"Posko utama di Kabupaten Bireuen telah menyalurkan beras sebanyak 2,9 ton untuk korban berdampak di Aceh Tengah, Bener Meriah dan Bireuen,” katanya kepada wartawan, Kamis (11/12). 

Selain distribusi logistik, relawan PSI juga membantu evakuasi warga Nagan Raya yang terjebak banjir di Aceh Tengah, sebelum dipulangkan melalui jalur darat dari Bireuen menuju Nagan Raya.  

Namun, tantangan terbesar muncul di jalur distribusi. Relawan harus melintas sungai dengan jembatan yang putus di Kutablang Bireuen. Relawan harus memikul bantuan melewati jembatan amblas di Desa Teupin Mane, Kecamatan Juli. 

Di Bener Meriah, perjalanan makin berat karena jalan longsor memaksa bantuan dipanggul secara manual. Puncak inovasi muncul saat bantuan harus masuk ke Aceh Tengah. 

Baca Juga: PLN Minta Waktu untuk Terangi Daerah Bencana Terisolasi di Aceh Tamiang hingga Bener Meriah Aceh

"Untuk barang bantuan yang menuju Aceh Tengah, para relawan menggunakan jasa drone untuk langsir barang akibat jalan yang belum bisa di Akses,” kata Zulkarnaini.  

Cara itu terbukti efektif, hingga seluruh bantuan PSI tiba selamat setelah perjalanan darat dan udara kecil selama dua hari dua malam. 

Selain itu, PSI juga menyalurkan bantuan di Aceh Tamiang, termasuk paket bantuan yang dikirim langsung oleh Ketua Umum PSI. Distribusi air bersih turut dilakukan dengan dukungan para dermawan. Zulkarnaini menegaskan relawan di lapangan bekerja bersama warga mencari cara agar bantuan tetap sampai.

"Di Aceh Tengah dan Bener Meriah, para relawan bersama warga harus berpikir bagaimana caranya bantuan harus tiba di kabupaten tujuan, dengan cara pikul barang jalan kaki, serta gunakan drone untuk langsir barang,” jelasnya. 

Meski dapur umum telah berjalan di Aceh Tamiang, kebutuhan penyintas masih besar. Mulai dari air bersih, kebutuhan bayi, kebutuhan anak, serta layanan kesehatan.

Baca Juga: Banyak Desa Terisolasi Akibat Puluhan Jembatan Putus di Gayo Lues, Pemda Perpanjang Masa Tanggap Darurat Bencana

Sementara itu, komunikasi menjadi kendala serius karena jaringan seluler sulit diakses dan listrik masih padam di sebagian besar wilayah. PSI menargetkan pembukaan dua dapur umum tambahan di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Zulkarnaini menyampaikan apresiasi kepada struktur PSI di Sumut dan DPP yang ikut turun langsung membantu penanganan bencana, meski akses menuju Aceh Tamiang sangat terbatas.

EDITOR: Ilham Safutra