JawaPos.com - Pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) masih menghadapi persoalan dan dinamika. Selain ada insiden keamanan pangan yang berdampak pada kesehatan siswa, juga tata kelola dapur MBG belum optimal.
Menurut Presiden Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (Presma UINAM) Muh. Zulhamdi Suhafid, program MBG merupakan terobosan penting dalam upaya meningkatkan kualitas gizi serta kesehatan generasi muda Indonesia.
Dia mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) terus memperkuat sistem pengelolaan dapur serta pengawasan pelaksanaan MBG di berbagai daerah, sehingga implementasinya dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran. Sebab, MBG sebagai program strategis dan visioner yang berperan besar dalam menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan kompetitif.
Dia menekankan penguatan tata kelola dapur menjadi langkah krusial untuk memastikan setiap makanan yang disajikan memenuhi standar keamanan pangan dan nilai gizi yang optimal.
Baca Juga: 5.000 Dapur SPPG Ajukan Sertifikasi Halal, Kepala BPJPH Pastikan Nampan MBG Tak Tercemar Minyak Babi
“Program MBG adalah langkah besar pemerintah dalam membangun generasi unggul. Karena itu, kita semua perlu mendukung penguatan tata kelola dapur agar setiap penyedia makanan menjalankan prosedur sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan BGN,” ujar Zulhamdi pada Selasa (7/10).
Presiden Mahaiswa UINAM itu menegaskan, penyediaan makanan bergizi secara merata untuk pelajar SD, SMP, dan SMA menjadi pondasi penting dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan. Selain memberikan manfaat kesehatan, MBG juga berpotensi mendorong pemberdayaan ekonomi lokal, sebab bahan pangan yang digunakan dapat bersumber dari hasil pertanian, peternakan, dan perikanan masyarakat sekitar.
"Posisi MBG sangat penting. Ia bukan hanya soal makan gratis, tetapi soal kedaulatan pangan. Program ini menggerakkan ekonomi desa, memperkuat rantai pasok lokal, dan menjadi bagian dari visi besar Indonesia dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional,” tegas Zulhamdi.
Program ini juga dinilainya sebagai momentum edukatif bagi masyarakat untuk memahami pentingnya pola makan sehat dan seimbang. MBG hadir tidak sekadar sebagai program konsumtif, tetapi sebagai sarana pembelajaran bagi siswa dan orang tua tentang pemanfaatan pangan lokal bernilai gizi tinggi.
“Kita harus melihat MBG sebagai program edukatif, bukan hanya konsumtif. Dengan mengutamakan pangan lokal seperti sayur, ikan, telur, dan buah-buahan daerah, program ini membantu masyarakat menyadari bahwa sumber gizi terbaik sesungguhnya ada di sekitar kita,” ungkap Zulhamdi.
Menurut dia, indikator keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari jumlah penerima manfaat saja, tetapi juga dari sejauh mana program ini mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk kembali mencintai produk pangan lokal yang sehat, aman, dan bergizi.
MBG sebagai bentuk sinergi lintas sektor yang berkontribusi besar terhadap penguatan ketahanan pangan nasional. Program ini menyatukan beragam elemen, mulai dari pendidikan, kesehatan, pertanian, industri pangan, hingga lembaga riset dan universitas. Semua itu untuk satu tujuan bersama, yakni membangun generasi yang sehat dan berdaya saing global.
Baca Juga: Cerita Koki SPPG: Diselamatkan MBG Setelah Nganggur 3 Tahun Akibat Pandemi
"MBG harus menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, kampus, pelaku usaha, dan masyarakat. Dunia pendidikan dapat berperan dalam riset gizi dan inovasi pangan, sektor kesehatan menjamin keamanan serta higienitas makanan, sementara sektor pertanian menyediakan bahan baku berkualitas dan berkelanjutan,” jelasnya.