← Beranda
Meteor Cirebon: Antara Dentuman Heboh dan Fakta Ilmiah, Apakah Meteor yang Jatuh ke Bumi Berbahaya?
Rian AlfiantoSenin, 6 Oktober 2025 | 22.47 WIB
Rekaman kamera warga menangkap detik-detik meteor jatuh di Cirebon. (X/berbagai akun).

JawaPos.com - Suara dentuman keras yang menggetarkan langit Cirebon pada Minggu (5/10) sore membuat banyak warga panik. Sebagian mengira ada ledakan besar, sebagian lain menduga pesawat jatuh. 

Namun penjelasan ilmiah datang tak lama kemudian: itu adalah meteor besar yang jatuh di Laut Jawa, sebagaimana dikonfirmasi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Fenomena itu terekam kamera CCTV di beberapa lokasi dan bahkan terdeteksi sensor seismik milik BMKG Cirebon, yang merekam getaran pada pukul 18.39 WIB.

Meski terdengar dramatis, para ahli menegaskan bahwa fenomena seperti ini tidak berbahaya bagi masyarakat.

Menurut Profesor Astronomi BRIN, Thomas Djamaluddin, meteor merupakan batuan luar angkasa yang memasuki atmosfer bumi. 

Sebagian besar terbakar habis sebelum sampai ke permukaan, dan hanya sedikit yang cukup besar untuk menghasilkan suara atau cahaya terang seperti yang terlihat di Cirebon.

“Saya menyimpulkan itu adalah meteor cukup besar yang melintas. Fenomena ini biasa terjadi dan tidak berpotensi menimbulkan kerusakan,” ujar Thomas saat dikonfirmasi, Senin (6/10).

Dentuman yang terdengar warga, lanjutnya, merupakan efek gelombang kejut sonik (sonic boom), suara keras yang timbul ketika meteor memasuki lapisan atmosfer rendah dengan kecepatan tinggi. 

“BMKG juga mendeteksi gelombang kejut itu pada pukul 18.39.12 WIB,” tambahnya.

Mengapa Meteor Bisa Terdengar Seperti Ledakan?

Secara ilmiah, meteor yang cukup besar dapat menghasilkan ledakan sonik saat kecepatannya menembus batas kecepatan suara di udara. Fenomena inilah yang menimbulkan dentuman yang terdengar hingga ke permukaan bumi.

Namun, dalam kasus di Cirebon, meteor hancur di udara sebelum mencapai laut, sehingga tidak menimbulkan dampak fisik seperti gelombang kejut besar atau kerusakan bangunan.

Sensor seismik BMKG memang mendeteksi getaran, tapi intensitasnya masih dalam batas aman.

Lantas, apakah jatuhnya meteor ke bumi menjadi hal yang berbahaya?

Meteor yang benar-benar jatuh dan mencapai permukaan bumi disebut meteorit. Kasus seperti itu jarang terjadi dan umumnya hanya menyebabkan dampak lokal dalam radius kecil. 

Sebaliknya, sebagian besar meteor yang masuk ke atmosfer terbakar habis dan hanya menghasilkan cahaya terang di langit, dikenal juga sebagai fireball atau bolide.

Thomas menjelaskan, Indonesia secara geografis memang berada di wilayah yang sering dilintasi meteor. Namun hingga kini, belum pernah ada peristiwa meteor di Indonesia yang menyebabkan korban atau kerusakan serius.

“Bumi setiap hari menerima ribuan meteor kecil. Kebanyakan terbakar di atmosfer dan tidak sampai ke permukaan,” jelasnya.

BMKG dan BRIN kini tengah menganalisis lintasan dan kekuatan energi meteor Cirebon untuk memperkirakan ukurannya dan ketinggian saat meledak di atmosfer.

Analisis ini penting untuk mendeteksi pola lintasan benda langit dan meningkatkan sistem peringatan dini fenomena astronomi.

“Dari data awal, meteor ini jatuh di Laut Jawa dan tidak meninggalkan dampak. Semua dalam batas aman,” kata Thomas.

Intinya, fenomena meteor Cirebon menunjukkan betapa dinamisnya ruang angkasa di sekitar bumi. Meski kadang menimbulkan kepanikan, meteor adalah bagian alami dari siklus tata surya. 

Para ilmuwan justru melihat peristiwa semacam ini sebagai kesempatan untuk belajar tentang asal-usul benda langit dan evolusi tata surya.

EDITOR: Bayu Putra