JawaPos.com – Gunung Welirang berada di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Gunung ini Jawa Timur ini berada pada pengelolaan Taman Hutan Raya raden Soerjo.
Gunung Welirang memiliki ketinggian 3156 meter diatas permukaan laut.
Terletak di Jawa Timur, Gunung Welirang merupakan salah satu gunung berapi yang ada di Indonesia yang menghasilkan belerang.
Belerang terbentuk akibat aktivitas vulkanis gunung berapi. Pertambangan belerang di Gunung Welirang adalah satu tambang belerang di Jawa Timur selain Gunung Ijen.
Aktivitas penambangan belerang di kawah Gunung Welirang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Para penambang belerang Sebagian besar berasal dari Kelurahan Pecalukan Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Gunung Welirang dijadikan tempat mata pencaharian bagi penambang untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Jumlah penambang belerang di Gunung Welirang menurun dari waktu ke waktu. Hal ini dikarenakan Sebagian besar penambang berpindah tempat ataupun karena faktor usia.
Pekerjaan ini memiliki resiko yang tinggi dan juga suatu pekerjaan yang berat.
Pekerja di pertambangan belerang terdiri dari penambang belerang, kuli ankut belerang, penimbang belerang, koperasi raksa, tengkulak, dan pabrik.
Semua pekerja disana berjenis kelamin laki-laki, ini disebabkan pekerjaan yang begitu keras, medan yang berat, dan membutuhkan tenaga ekstra untuk bekerja.
Beberapa tantangan yang dihadapi para penambang saat bekerja :
1. Kondisi medan pertambangan belerang di sana jalan bebatuan cukup terjal dan sulit, waktu dan jarak tempuh yang panjang, jenis jalan di Gunung Welirang dari bawah sampai atas mulai dari tanah, cor-coran, batuan atau makadam menjadi satu.
2. Kondisi cuaca pertambangan belerang cukup cepat sekali berubah, tidak menentu sesuai dengan kondisi alam, faktor alam sangat berpengaruh, terkadang bisa panas atau dingin sekali dengan hujan yang begitu lebat.
3. Faktor uap belerang dan toksisitas yang terjadi disini yaitu bau yang menyengat dan mengganggu pernafasan, gangguan Kesehatan akut dan kronis, iritasi akibat paparan uap belerang, serta merusak Kesehatan gigi.
4. Kondisi fisik penambang belerang yang dipaksa untuk kuat.
5. Harga jual belerang semakin menurun yang tidak sejalan dengan biaya hidup yang semakin meningkat.
Dari keempat tantangan tersebut, penambang belerang di Gunung Welirang menerapkan mekanisme bertahan hidup yaitu :
1. Dari kondisi medan pertambangan yang ada, para penambang bisa mengikat sabuk lebih kencang untuk membawa hasil tambang, dengan alternative subsistensi, dan menggunakan relasi atau jaringan.
2. Untuk mengatasi kondisi cuaca pertambangan, para pekerja bisa mengurangi muatan supaya beban yang dibawa akan menurun.
3. Mengatasi faktor uap, para penambang tidak menggunakan alat perlindungan diri seperti masker, mereka hanya menggunakan kain kecil penutup hidup serta ritme menambangnya.
Jika dirasa sesak nafas, para pekerja akan beristirahat menjauh dari kawah untuk menghirup udara segar dan akan dilanjutkan lagi pekerjaan setelah merasa baik.
4. Mengatasi kondisi fisik yang dipaksa kuat, jika sakit maka para oenambang akan mengobatinya sendiri dengan obat seadanya dan akan melanjutkan aktivitas setelah dirasa lebih baik.
5. Dari harga jual yang semakin menurun, para penambang banyak yang mencari pekerjaan tambahan yang bisa dikerjakan selama tidak ada di atas gunung seperti berkebun atau menjadi tukang ojek.