JawaPos.com - Desa Pujon Kidul di Kabupaten Malang pernah meraih predikat juara satu sebagai Desa BRIlian Terbaik se-Indonesia tahun 2022.
Pencapaian tersebut tidak tanpa alasan, kerja keras dan kerjasama antar unsur pemerintah dan juga masyarakat turut mendorong tercapainya prestasi tersebut.
Dilansir dari radarmalang.jawapos.com pada Sabtu (9/12), Pujon Kidul memanfaatkan kekayaan dan pemandangan alam sebagai wisata unggulan sejak 2015.
Salah satu penginisiasi wisata tersebut adalah Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), atas dasar kebutuhan masyarakat terkait peningkatan ekonomi dan juga kebutuhan lapangan pekerjaan.
“Menurut kami saat itu pariwisata menjadi yang paling mudah kami lakukan,” tutur Direktur Bumdes Ibadur Rohman.
Sehingga dibentuklah wisata unggulan Kafe Sawah, yang saat ini sudah mempekerjakan 800 lebih tenaga kerja dari desa tersebut, maupun dari luar Desa Pujon.
Awalnya wisata tersebut hanya menyuguhkan spot-spot foto dengan pemandangan sawah dan pegunungan di sana.
Namun, pada 2017 pihaknya beralih untuk fokus pada usaha restoran karena spot foto kurang menarik wisatawan untuk kembali datang ke sana.
“Kuliner menjadi hal yang membuat mereka datang lagi kemari, ketika tujuan mereka makan, bukan berswafoto,” tuturnya.
Konsep wisata Kafe Sawah tersebut semakin berkembang, banyak juga UMKM yang bergabung. Sistem digital juga sudah mereka gunakan berkat CSR dengan BRI.
Mulai dari sistem pembayaran dengan QRIS, peningkatan kapasitas SDM hingga peningkatan kualitas mereka dapat salah satunya melalui CSR tersebut.
“Karena kebanyakan masyarakat desa akan sulit mempercayai perkataan sesama orang desa, dengan adanya pembinaan BRI mereka lebih mudah untuk pengembangan kapasitas,” terang Ibadur.
Kedepannya pihaknya akan fokus pada peningkatan SDM, agar pengelolaan wisata unggulan tersebut dapat lebih baik.
“Kalau pembangunan (fisik) itu mudah kami lakukan, tapi kalau SDMnya tidak kompeten maka akan sulit untuk berhasil,” imbuhnya.
Sementara itu Kepala Desa Pujon Kidul Muhammad Said menyebutkan mayoritas masyarakat desa merupakan lulusan SD, SMP dan juga SMA, sedangkan sarjana hanya dengan hitungan jari.
Dengan peningkatan ekonomi pada desa tersebut ia berharap akan lebih banyak lagi generasi muda yang melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana.
“Saat ini perhari kunjungan wisatawan bisa sampai 4.000 orang,” tuturnya. Namun mayoritas masih dari pengunjung lokal.
Sementara kunjungan mancanegara, tutur Said masih sangat sedikit. Hal tersebut diakuinya karena keterbatasan bahasa yang dimiliki SDM.
Harapannya dengan meningkatnya tingkatan pendidikan para pemuda di sana akan membantu memperluas wisata hingga kancah Internasional.