← Beranda

Cita Rasa Lumpia Tak Berubah Sejak 1946

Sofyan CahyonoMinggu, 4 November 2018 | 13.05 WIB
Lumpia menjadi menu andalan di Depot Hok Lay.

JawaPos.com - Kota Malang tak hanya memiliki banyak bangunan bersejarah. Namun juga menyimpan segudang kuliner yang sudah ada sejak Indonesia merdeka. Para pencinta kuliner wajib berkunjung dan mencicipi. Salah satunya di Depot Hok Lay, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Malang.


Depot Hok Lay sudah ada sejak 1946 dan masih bertahan hingga kini. Menu andalannya cwie mie dengan resep spesial dari generasi pertama. Seporsinya makanan ini terdiri atas mie yang ditaburi dengan daging ayam cincang, daun bawang, serta pangsit goreng kriuk.


Tekstur mienya lembek. Bumbunya pun bikin lidah tak berhenti bergoyang. Sebagai penyedap, ada tambahan kuah bening yang disajikan secara terpisah untuk menambah kenikmatan cwie mie.


Selain cwie mie, kedai yang sudah dikelola generasi ketiga itu juga menyediakan menu lunpia atau lumpia Semarang. Kudapan yang seporsi berisi dua lumpia disajikan bersama dengan saus tauco yang diberi daun bawang serta selada. Soal rasa, tak perlu diragukan lagi. Apalagi paduan cacahan rebung dan wortel yang dibalut dengan kulit lumpia tipis dan krispi, pasti bikin nagih.


Pengelola Hok Lay Budiman Surya Wijaja, 60, mengatakan, kedainya pertama kali didirikan kakeknya bernama NJ DJ Tio Hoo Poo pada 1946. Dia pun menjadi generasi ketiga penerus bisnis kuliner ini.


Dari awal berdiri, menu yang disajikan tetap sama hingga sekarang. Bahkan resep yang dipakai pun sudah turun temurun dari nenek moyang Budiman. "Ciri khas di sini memang lumpia sama cwie mie," ujar ayah tiga anak itu.


Budiman menceritakan kenapa yang dijual lumpia Semarang. Sebab kakeknya memang berasal dari Semarang. Namun rasa lumpia dibuat dengan resep yang sudah disesuaikan dengan lidah masyarakat Malang. "Kalau diadopsi dari sana terlalu manis," imbuhnya.


Dari banyaknya menu yang disajikan, ada salah satu yang menjadi ciri khas Hok Lay. Yakni, minuman bernama fosco. Minuman itu menjadi andalan depot tersebut. "Buat sendiri. Dari susu sapi, coklat, dan gula yang diolah," terangnya.


Konon, resep minuman sudah ada sejak zaman Belanda. Sementara rasanya perpaduan antara manis, segar dan gurih. Penyajiannya unik karena menggunakan botol kaca minuman berkarbonasi. Jangan khawatir, tidak ada campuran soda di dalamnya.


Selain beberapa menu tadi, depot Hok Lay juga mempunyai banyak menu makanan yang lain. Seperti bakmi goreng, nasi goreng, nasi panca warna, serta masih banyak yang lainnya. Sementara untuk minumannya, ada es puding manalagi, es campur, es cincau, serta bermacam kopi.


Depot Hok Lay hanya ada satu. Yakni, di Kota Malang. Budiman mengaku keluarganya tidak membuka cabang karena minimnya jumlah sumber daya manusia (SDM). "Kalau buka cabang di luar kota, tidak ada yang memantau di sana. SDM-nya kurang," imbuhnya.


Hok Lay sendiri mempunyai arti rejeki dalam bahasa Tiongkok. Tentunya, nama tersebut menjadi doa tersendiri bagi pemilik depot. Ini terbukti dari masih eksisnya bisnis tersebut dari zaman dulu hingga sekarang.


Bahkan pengunjungnya pun tidak hanya berasal dari lokal saja. Banyak juga wisatawan mancanegara yang datang. Bahkan tidak sedikit pengunjung yang ingin bernostalgia mengenai kuliner heritage. "Banyak yang nostalgia. Anak muda banyak mencari depot heritage," ujarnya.


Keunikan lain dari Depot Hok Lay juga terlihat dari arsitektur bangunannya. Meski banyak bangunan anyar dengan desain menarik, depot ini masih mempertahankan arsitektur aslinya. Beragam ornamen unik terpajang dengan rapi di beberapa sudut depot.


Kesan klasik begitu terasa mulai dari depan bangunan depot. Itulah daya tarik yang membuat pengunjung betah lama-lama. Bahkan tidak sedikit yang mengabadikan momen dengan berswafoto di beberapa sudut.


Depot Hok Lay mempunyai jam buka dua kali sehari. Yakni mulai pukul 09.00 WIB-13.30 WIB, kemudian buka lagi pada pukul 17.00 WIB 20.30 WIB. Depot ini mempunyai hari libur. Yakni, Selasa minggu kedua dan Selasa minggu keempat setiap bulannya. Hal itu sudah sejak dari dulu diterapkan. "Tidak tahu alasannya. Dari zaman kakek saya sudah begitu (hari libur)," pungkasnya.

EDITOR: Sofyan Cahyono