← Beranda
Merasakan 6 Tanda Ini dalam Diri Kamu, Kamu Adalah Orang yang Benar-Benar Bersyukur Menurut Psikolog
Irfan Ferdiansyah• Kamis, 15 Oktober 2026 | 06.41 WIB
seseorang yang benar-benar bersyukur./Magnific/sviatkovskyi

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa bahwa hidupmu sebenarnya tidak sempurna, tetapi entah mengapa hatimu tetap terasa cukup?

Kamu mungkin masih memiliki masalah. Masih ada sesuatu yang ingin dicapai. Masih ada kekurangan yang belum bisa diperbaiki. Bahkan mungkin ada hari-hari ketika kamu merasa lelah, kecewa, atau kehilangan arah.

Namun, di tengah semua itu, ada bagian dalam dirimu yang masih mampu berkata:

"Tidak apa-apa. Setidaknya masih ada hal-hal baik yang bisa aku syukuri."

Jika kamu sering merasakan hal seperti itu, mungkin kamu memiliki sesuatu yang dalam psikologi dikenal sebagai gratitude atau rasa syukur.

Bersyukur bukan berarti hidupmu selalu bahagia. Bersyukur juga bukan berarti kamu harus berpura-pura bahwa semua masalah tidak ada.

Justru sebaliknya.

Orang yang benar-benar bersyukur biasanya tetap mampu melihat kesulitan, tetapi tidak membiarkan kesulitan tersebut membuatnya lupa pada hal-hal baik yang masih dimilikinya.

Rasa syukur adalah kemampuan untuk menyadari dan menghargai hal-hal positif dalam kehidupan, baik yang besar maupun yang sangat sederhana.

Dan menariknya, rasa syukur yang tulus sering kali terlihat bukan dari seberapa sering seseorang mengucapkan "terima kasih", tetapi dari bagaimana ia menjalani kehidupannya sehari-hari.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (14/10), terdapat 6 tanda bahwa kamu mungkin benar-benar memiliki rasa syukur yang kuat dalam dirimu.

1. Kamu Bisa Menikmati Hal-Hal Sederhana yang Sering Diabaikan Orang Lain

Salah satu tanda paling kuat dari rasa syukur adalah kemampuan menikmati sesuatu yang sederhana.

Secangkir kopi atau teh di pagi hari.

Makanan hangat setelah menjalani hari yang panjang.

Tidur yang cukup.

Percakapan sederhana dengan orang yang kamu sayangi.

Udara pagi.

Perjalanan pulang dengan selamat.

Atau bahkan momen ketika kamu bisa duduk sendirian tanpa harus melakukan apa-apa.

Bagi sebagian orang, semua itu terasa biasa.

Tetapi bagi seseorang yang memiliki rasa syukur yang kuat, hal-hal sederhana tersebut bisa memiliki nilai emosional yang besar.

Kamu mungkin pernah berada dalam situasi ketika sesuatu yang sebelumnya kamu anggap biasa tiba-tiba menjadi sangat berharga.

Misalnya, ketika sedang sakit, kamu baru menyadari betapa berharganya tubuh yang sehat.

Ketika jauh dari keluarga, kamu baru menyadari betapa berharganya percakapan sederhana bersama mereka.

Ketika sedang menghadapi masa sulit, kamu mungkin mulai menghargai hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah kamu pikirkan.

Inilah salah satu karakteristik rasa syukur.

Kamu tidak harus memiliki kehidupan yang luar biasa untuk merasa bahagia.

Kamu bisa menemukan kebahagiaan dari kehidupan yang sedang kamu jalani sekarang.

Bukan berarti kamu tidak memiliki impian.

Bukan berarti kamu berhenti berusaha.

Kamu tetap ingin berkembang, tetapi kamu tidak menunggu semuanya sempurna sebelum mengizinkan dirimu merasa bahagia.

Dan itu adalah perbedaan yang sangat penting.

Orang yang tidak pernah merasa cukup sering berpikir:

"Aku akan bahagia kalau sudah punya lebih banyak uang."

"Aku akan tenang kalau sudah mendapatkan pekerjaan impian."

"Aku akan bahagia kalau sudah memiliki pasangan."

"Aku akan puas kalau sudah mencapai target tertentu."

Sementara orang yang memiliki rasa syukur bisa berkata:

"Aku memang masih ingin mencapai banyak hal, tetapi aku juga bisa menghargai apa yang sudah ada hari ini."

Ada ambisi, tetapi tidak ada rasa kekurangan yang terus-menerus.

2. Kamu Tidak Terlalu Sibuk Membandingkan Hidupmu dengan Orang Lain

Coba perhatikan dirimu sendiri.

Ketika melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang lebih baik darimu, apa yang kamu rasakan?

Apakah kamu langsung merasa tertinggal?

Apakah kamu merasa hidupmu tidak cukup?

Atau kamu bisa merasa senang untuk mereka sambil tetap menghargai perjalanan hidupmu sendiri?

Jika kamu lebih sering berada pada pilihan terakhir, itu bisa menjadi tanda bahwa kamu memiliki rasa syukur yang sehat.

Dalam kehidupan modern, membandingkan diri dengan orang lain sangat mudah dilakukan.

Kita membuka media sosial dan melihat seseorang membeli rumah baru.

Orang lain mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Teman lama menikah.

Seseorang melakukan perjalanan ke berbagai negara.

Ada yang terlihat lebih sukses.

Ada yang memiliki kehidupan keluarga yang tampak sempurna.

Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan nyata kita dengan versi terbaik kehidupan orang lain yang mereka tampilkan.

Kita melihat pencapaian mereka, tetapi tidak melihat kegagalan mereka.

Kita melihat senyuman mereka, tetapi tidak mengetahui kecemasan yang mungkin mereka rasakan.

Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak melihat perjuangan bertahun-tahun yang mereka lalui.

Orang yang memiliki rasa syukur cenderung lebih mampu mengatakan:

"Perjalanan hidupnya adalah miliknya. Perjalananku adalah milikku."

Kamu bisa mengagumi keberhasilan orang lain tanpa merasa keberhasilan mereka mengurangi nilai dirimu.

Kamu bisa berkata:

"Aku senang melihat dia berhasil."

Tanpa dilanjutkan dengan:

"Kenapa aku belum seperti dia?"

Ini bukan berarti kamu tidak pernah merasa iri.

Manusiawi jika sesekali merasa iri.

Tetapi rasa syukur membuatmu lebih cepat kembali kepada dirimu sendiri.

Kamu mulai bertanya:

"Apa yang sebenarnya sudah aku miliki?"

Dan pertanyaan sederhana itu dapat mengubah cara seseorang melihat kehidupannya.

3. Kamu Tetap Bisa Bersyukur Meskipun Sedang Mengalami Masalah

Ini mungkin tanda yang paling penting.

Bersyukur ketika semuanya berjalan baik memang relatif mudah.

Tetapi bagaimana ketika hidup sedang berantakan?

Ketika pekerjaan tidak sesuai harapan.

Ketika hubungan berakhir.

Ketika rencana gagal.

Ketika kondisi keuangan sedang sulit.

Ketika seseorang yang kamu sayangi mengecewakanmu.

Di situ, rasa syukur yang sebenarnya mulai terlihat.

Orang yang benar-benar bersyukur bukanlah orang yang tidak pernah mengeluh.

Mereka juga bisa menangis.

Mereka bisa marah.

Mereka bisa kecewa.

Mereka bisa merasa lelah.

Tetapi mereka tidak membiarkan satu masalah menghapus seluruh hal baik yang masih ada dalam kehidupannya.

Misalnya seseorang sedang mengalami kegagalan dalam pekerjaan.

Ia mungkin berkata:

"Aku kecewa karena gagal. Aku memang sedang sedih. Tetapi aku masih memiliki kesempatan untuk mencoba lagi. Aku masih memiliki orang-orang yang mendukungku. Dan aku masih bisa belajar dari pengalaman ini."

Perhatikan perbedaannya.

Ia tidak menyangkal rasa sakit.

Tetapi ia juga tidak membiarkan rasa sakit menjadi satu-satunya cerita tentang kehidupannya.

Inilah bentuk rasa syukur yang lebih matang.

Kamu mampu mengakui bahwa sesuatu itu buruk tanpa menganggap seluruh hidupmu buruk.

Kamu mampu berkata:

"Hari ini berat."

Tanpa harus menyimpulkan:

"Hidupku selalu buruk."

Kamu mampu mengatakan:

"Aku kehilangan sesuatu."

Tanpa berpikir:

"Aku tidak memiliki apa-apa."

Cara berpikir seperti ini membuat seseorang memiliki perspektif yang lebih seimbang terhadap kehidupan.

4. Kamu Lebih Sering Menghargai Orang daripada Menuntut Mereka

Orang yang memiliki rasa syukur biasanya lebih peka terhadap kebaikan orang lain.

Mereka menyadari bahwa banyak hal dalam hidup tidak mereka dapatkan sendirian.

Ada orang tua yang pernah berkorban.

Ada teman yang pernah membantu.

Ada pasangan yang pernah menemani.

Ada guru yang pernah mengajarkan sesuatu.

Ada rekan kerja yang pernah memberikan kesempatan.

Bahkan ada orang asing yang mungkin pernah memberikan bantuan kecil pada saat yang tepat.

Ketika seseorang memiliki rasa syukur yang kuat, ia tidak mudah menganggap kebaikan orang lain sebagai sesuatu yang otomatis.

Ia menyadari:

"Orang ini sebenarnya tidak harus melakukan itu untukku, tetapi dia memilih melakukannya."

Kesadaran tersebut membuat seseorang lebih mudah menghargai orang lain.

Misalnya, kamu mungkin mulai mengucapkan terima kasih bukan hanya ketika seseorang memberikan sesuatu yang besar, tetapi juga ketika mereka melakukan hal kecil.

"Terima kasih sudah mendengarkan."

"Terima kasih sudah menungguku."

"Terima kasih sudah membantu."

"Terima kasih sudah ada."

Kalimat-kalimat tersebut sederhana.

Tetapi bagi seseorang yang menerimanya, bisa terasa sangat berarti.

Dan ada satu hal menarik.

Rasa syukur sering kali membuat hubungan sosial menjadi lebih hangat.

Karena ketika seseorang merasa dihargai, ia cenderung merasa lebih dekat dengan orang yang menghargainya.

Jadi, jika kamu termasuk orang yang mudah mengingat kebaikan orang lain dan tidak malu mengungkapkan penghargaan, itu bisa menjadi salah satu tanda bahwa rasa syukur sudah menjadi bagian dari karaktermu.

5. Kamu Tidak Selalu Membutuhkan Sesuatu yang Baru untuk Merasa Bahagia

Coba perhatikan pola hidupmu.

Apakah kamu selalu merasa harus memiliki sesuatu yang baru?

Barang baru.

Ponsel baru.

Pakaian baru.

Mobil baru.

Pengalaman baru.

Pencapaian baru.

Atau sesuatu yang lebih besar dari apa yang sudah kamu miliki?

Keinginan untuk berkembang tentu bukan sesuatu yang buruk.

Manusia memang memiliki dorongan untuk mencapai lebih banyak.

Masalah muncul ketika kebahagiaan sepenuhnya bergantung pada "hal berikutnya".

Karena jika kebahagiaan selalu berada di masa depan, kamu tidak pernah benar-benar menikmati masa sekarang.

Orang yang memiliki rasa syukur cenderung memiliki kemampuan untuk mengatakan:

"Ini sudah cukup untuk membuatku bahagia hari ini."

Bukan berarti ia tidak menginginkan sesuatu yang lebih baik.

Ia tetap boleh memiliki target.

Tetap boleh membeli sesuatu yang diinginkan.

Tetap boleh bekerja keras.

Tetapi ia tidak menjadikan semua itu sebagai syarat untuk merasa bahwa hidupnya berharga.

Ada perbedaan antara:

"Aku ingin memiliki lebih banyak."

dan

"Aku harus memiliki lebih banyak agar merasa cukup."

Yang pertama adalah ambisi.

Yang kedua bisa menjadi jebakan.

Rasa syukur membantu seseorang memisahkan keduanya.

Kamu bisa mengejar kehidupan yang lebih baik tanpa membenci kehidupan yang sedang kamu jalani.

Dan mungkin, inilah salah satu bentuk kebebasan psikologis yang paling indah.

6. Kamu Sering Berhenti Sejenak dan Menyadari Betapa Banyak Hal Baik yang Sudah Terjadi

Tanda terakhir mungkin terlihat sangat sederhana.

Kamu sesekali berhenti.

Kemudian berpikir:

"Ternyata aku sudah melewati banyak hal."

Mungkin kamu mengingat masa ketika hidup terasa jauh lebih sulit.

Mengingat masalah yang dulu membuatmu menangis.

Mengingat hari-hari ketika kamu tidak tahu bagaimana semuanya akan berakhir.

Namun sekarang kamu masih di sini.

Kamu berhasil melewatinya.

Mungkin hidupmu belum sempurna.

Tetapi kamu sudah tumbuh.

Kamu sudah belajar.

Kamu sudah menjadi lebih kuat.

Kamu mulai menyadari bahwa beberapa hal yang dulu kamu anggap sebagai akhir dunia ternyata hanya menjadi bagian dari perjalanan.

Dan ketika melihat ke belakang, kamu mungkin berkata:

"Ternyata banyak sekali hal yang harus aku syukuri."

Kesadaran seperti ini merupakan bentuk refleksi yang sehat.

Kamu tidak hanya melihat apa yang belum tercapai.

Kamu juga melihat perjalanan yang sudah berhasil kamu lalui.

Kamu menyadari bahwa dirimu yang sekarang dibentuk oleh begitu banyak pengalaman.

Baik pengalaman yang menyenangkan maupun pengalaman yang menyakitkan.

Dan pada titik tertentu, kamu mungkin tidak lagi bertanya:

"Mengapa hidupku tidak seperti yang kuinginkan?"

Tetapi mulai bertanya:

"Apa yang bisa kupelajari dari semua yang sudah terjadi?"

Perubahan pertanyaan tersebut bisa mengubah cara seseorang memandang kehidupannya.

Bersyukur Bukan Berarti Harus Selalu Bahagia

Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Orang yang bersyukur bukan berarti orang yang selalu positif.

Bukan berarti mereka tidak boleh sedih.

Bukan berarti mereka harus tersenyum ketika sedang terluka.

Dan bukan berarti mereka harus menerima semua keadaan tanpa berusaha mengubahnya.

Rasa syukur bukanlah cara untuk mengabaikan masalah.

Justru rasa syukur yang sehat memungkinkan seseorang melihat kenyataan secara lebih lengkap.

Misalnya:

"Aku sedang mengalami masa sulit, tetapi masih ada orang yang menyayangiku."

"Aku kecewa karena gagal, tetapi aku mendapatkan pelajaran dari pengalaman ini."

"Aku belum mencapai tujuan yang kuinginkan, tetapi aku menghargai sejauh apa aku sudah berjalan."

Itulah yang membuat rasa syukur berbeda dari sekadar berpikir positif.

Kamu tidak memaksa dirimu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Kamu hanya mengingat bahwa tidak semuanya buruk.

Dan terkadang, itu sudah cukup untuk membuat seseorang bertahan satu hari lagi.

Mengapa Rasa Syukur Bisa Membuat Hidup Terasa Berbeda?

Dalam psikologi positif, rasa syukur telah banyak dipelajari karena berkaitan dengan berbagai aspek kesejahteraan psikologis.

Orang yang terbiasa menyadari hal-hal yang mereka hargai dalam kehidupan dapat memiliki cara pandang yang lebih positif terhadap pengalaman sehari-hari.

Salah satu mekanismenya sederhana.

Perhatian manusia memiliki keterbatasan.

Apa yang sering kita perhatikan akan lebih mudah memenuhi pikiran kita.

Jika setiap hari kita hanya memperhatikan kekurangan, kegagalan, masalah, dan apa yang belum kita miliki, kehidupan akan terasa seperti daftar panjang hal yang salah.

Namun ketika kita juga melatih diri memperhatikan hal-hal yang berjalan baik, otak mendapatkan perspektif yang lebih lengkap.

Bukan berarti masalah menghilang.

Tetapi masalah tidak lagi menjadi satu-satunya hal yang terlihat.

Itulah sebabnya rasa syukur bukan sekadar mengatakan "terima kasih".

Ia adalah cara memperhatikan kehidupan.

Jadi, Apakah Kamu Termasuk Orang yang Benar-Benar Bersyukur?

Coba tanyakan enam hal ini kepada dirimu sendiri:

Apakah aku masih bisa menikmati hal-hal sederhana?

Apakah aku tidak terlalu sibuk membandingkan hidupku dengan orang lain?

Apakah aku masih bisa menemukan sesuatu untuk disyukuri ketika menghadapi masalah?

Apakah aku menghargai kebaikan orang lain?

Apakah aku bisa merasa cukup tanpa selalu membutuhkan sesuatu yang baru?

Apakah aku sering menyadari betapa jauh perjalanan yang sudah aku lalui?

Jika sebagian besar jawabannya adalah "iya", mungkin rasa syukur sudah menjadi bagian penting dari dirimu.

Dan jika belum semuanya, tidak perlu merasa gagal.

Rasa syukur bukan sifat yang harus dimiliki seseorang sejak lahir.

Ia juga bisa dilatih.

Mulailah dari hal yang sangat sederhana.

Setiap malam, sebelum tidur, tanyakan kepada dirimu:

"Apa satu hal yang terjadi hari ini yang layak aku syukuri?"

Tidak perlu sesuatu yang besar.

Mungkin hari ini kamu makan dengan tenang.

Mungkin ada seseorang yang membuatmu tertawa.

Mungkin pekerjaanmu selesai.

Mungkin kamu bisa pulang dengan selamat.

Mungkin tubuhmu terasa sehat.

Atau mungkin, setelah hari yang sangat berat, kamu masih menemukan kekuatan untuk bangun dan melanjutkan hidup.

Jangan meremehkan hal-hal kecil.

Karena sering kali, kebahagiaan bukan hilang karena kita tidak memiliki cukup banyak hal.

Kebahagiaan terasa jauh karena kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum ada sampai lupa melihat sesuatu yang sudah ada.

Pada akhirnya, menjadi orang yang bersyukur bukan berarti memiliki kehidupan yang sempurna.

Justru orang yang benar-benar bersyukur memahami bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar sempurna.

Akan selalu ada sesuatu yang kurang.

Akan selalu ada masalah.

Akan selalu ada impian yang belum tercapai.

Tetapi di antara semua itu, selalu ada sesuatu yang masih bisa dihargai.

Dan mungkin kedewasaan bukan ketika kita akhirnya mendapatkan semua yang kita inginkan.

Mungkin kedewasaan adalah ketika kita mampu berkata:

"Aku masih memiliki banyak hal yang ingin kucapai, tetapi aku juga tidak ingin lupa menghargai apa yang sudah kumiliki hari ini."

Jika kamu sudah sampai pada titik itu, mungkin tanpa kamu sadari, kamu telah memiliki salah satu kemampuan psikologis yang paling berharga:

kemampuan untuk merasa cukup, tanpa berhenti bertumbuh.

EDITOR: Hanny Suwindari