← Beranda
5 Weton Langka yang Konon Bawa Hoki Besar, Rezeki Datang dari Arah Tak Terduga
Mohammad Maulana IqbalKamis, 10 September 2026 | 05.03 WIB
Weton langka yang mendatangkan uang dan kesuksesan./Freepik.

JawaPos.com – Dalam tradisi masyarakat Jawa, weton kerap digunakan untuk membaca karakter dan kecenderungan peruntungan seseorang berdasarkan kombinasi hari lahir dan pasaran.

Selain karakter, sejumlah perhitungan dalam primbon juga mengaitkan weton tertentu dengan rezeki, keberuntungan, karier, hingga kemampuan seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Ada pula weton yang dipercaya mempunyai peruntungan istimewa. Pemiliknya disebut memiliki peluang lebih besar untuk menemukan kesempatan baik, termasuk rezeki yang datang melalui jalan yang tidak selalu diperkirakan sebelumnya.

Meski demikian, berbagai penafsiran mengenai weton merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa. Ramalan tersebut tidak dapat dijadikan kepastian mengenai masa depan seseorang.

Baca Juga: 4 Weton yang Disebut Paling Hoki di September 2026, Ada yang Diramal Makin Dekat dengan Kesuksesan

Dikutip dari tayangan YouTube NGAOS JAWA, terdapat lima weton yang disebut memiliki karakter dan peruntungan yang berkaitan dengan rezeki serta kesuksesan.

Berikut daftarnya:

1. Rabu Pahing

Rabu Pahing mempunyai jumlah neptu 16, hasil perpaduan nilai hari Rabu sebesar 7 dan pasaran Pahing sebesar 9.

Dalam penafsiran primbon yang dikutip sumber tersebut, pemilik weton ini digambarkan sebagai pribadi yang tenang, penuh pertimbangan, serta tidak terburu-buru ketika mengambil keputusan.

Mereka juga disebut mempunyai kepekaan dan intuisi yang kuat. Sifat tersebut dipercaya membantu Rabu Pahing dalam membaca keadaan dan menentukan langkah yang dianggap paling menguntungkan.

Dari sisi rezeki, Rabu Pahing disebut berpeluang memperoleh kesempatan yang datang secara tidak terduga. Bantuan dari orang lain, tawaran pekerjaan, maupun peluang usaha dapat menjadi pintu masuk menuju kondisi yang lebih baik.

Kesempatan yang sempat tertunda juga diyakini masih memiliki peluang untuk kembali terbuka. Karena itu, pemilik weton Rabu Pahing disarankan tetap jeli melihat setiap kesempatan yang muncul.

2. Jumat Kliwon

Jumat Kliwon memiliki neptu 14, yang berasal dari nilai hari Jumat sebesar 6 dan pasaran Kliwon sebesar 8.

Dalam budaya Jawa, Jumat Kliwon mempunyai posisi yang cukup kuat dalam berbagai tradisi dan sering dikaitkan dengan nuansa spiritual. Tidak mengherankan jika weton ini juga banyak mendapatkan penafsiran mengenai kepekaan batin.

Menurut ramalan yang dilansir dari kanal NGAOS JAWA, pemilik Jumat Kliwon digambarkan mempunyai pembawaan tenang dan cenderung tidak banyak mengumbar rencana.

Peruntungan mereka disebut dapat muncul melalui kesempatan yang tidak disangka-sangka. Sebuah bantuan, koneksi baru, maupun proyek yang awalnya terlihat kecil bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.

Karakter intuitif juga dipercaya membuat Jumat Kliwon mampu melihat peluang yang terkadang luput dari perhatian orang lain.

3. Senin Legi

Senin Legi mempunyai neptu 9, yang berasal dari nilai hari Senin sebesar 4 dan pasaran Legi sebesar 5.

Pemilik weton ini umumnya digambarkan sebagai sosok yang lembut, tulus, dan memiliki kepedulian terhadap orang-orang di sekitarnya. Mereka tidak selalu berusaha menjadi pusat perhatian, tetapi justru nyaman menjalani kehidupan dengan caranya sendiri.

Dalam hubungan sosial, Senin Legi disebut cukup selektif. Mereka bisa bersikap ramah, tetapi tetap membutuhkan ruang pribadi dan tidak mudah membuka diri kepada sembarang orang.

Kepekaan terhadap lingkungan juga menjadi salah satu karakter yang sering dikaitkan dengan weton ini. Dalam kepercayaan tertentu, Senin Legi bahkan disebut memiliki intuisi yang cukup tajam.

Untuk urusan pekerjaan, karakter empati dan kemampuan memahami orang lain membuat mereka dipercaya cocok menjalani profesi yang membutuhkan pelayanan, kreativitas, komunikasi, maupun kepedulian terhadap sesama.

Rezeki dalam penafsiran tersebut tidak selalu datang dalam bentuk keuntungan besar secara langsung. Kesempatan yang muncul dari hubungan baik dan ketulusan membantu orang lain juga dipercaya dapat menjadi salah satu sumber keberuntungan.

4. Selasa Pon

Selasa Pon memiliki neptu 10, hasil perpaduan nilai hari Selasa sebesar 3 dan pasaran Pon sebesar 7.

Dalam penafsiran primbon yang beredar, weton ini digambarkan mempunyai perpaduan karakter yang kuat antara keberanian menghadapi kehidupan dan kemampuan mempertimbangkan sesuatu secara matang.

Selasa Pon juga kerap dikaitkan dengan istilah Tuah Pancer dalam sejumlah penafsiran tradisional. Istilah tersebut berkaitan dengan gambaran mengenai pusat kekuatan atau daya batin seseorang.

Pemilik weton ini disebut mempunyai intuisi yang kuat dan cukup peka terhadap perubahan keadaan di sekitarnya. Mereka juga dikenal memiliki rasa setia yang tinggi terhadap keluarga maupun orang-orang yang dianggap dekat.

Dalam hal rezeki, keberuntungan Selasa Pon disebut dapat muncul melalui berbagai jalur. Tawaran pekerjaan, peluang bisnis, bantuan keluarga, hingga kesempatan yang sebelumnya tidak diperkirakan bisa menjadi jalan menuju peningkatan ekonomi.

Namun, ramalan tersebut tetap sebatas bagian dari kepercayaan tradisional dan tidak menjamin seseorang akan memperoleh kekayaan tanpa usaha.

5. Kamis Pon

Kamis Pon mempunyai neptu 15, berasal dari nilai hari Kamis sebesar 8 dan pasaran Pon sebesar 7.

Dalam sejumlah tafsir primbon, pemilik weton ini digambarkan memiliki pembawaan sabar, tenang, sekaligus mempunyai pendirian yang kuat.

Mereka cenderung tidak terburu-buru mengejar sesuatu. Sebaliknya, kesabaran dan konsistensi dianggap sebagai salah satu kekuatan utama Kamis Pon dalam mencapai tujuan.

Dalam hal rezeki, weton ini disebut lebih dekat dengan konsep keberuntungan yang tumbuh secara bertahap. Hasil yang diperoleh diyakini berasal dari proses panjang, ketekunan, dan kemampuan menjaga apa yang sudah dimiliki.

Sejumlah kepercayaan Jawa juga menghubungkan Kamis Pon dengan perlindungan spiritual dan kepekaan terhadap suasana di sekitarnya. Namun, hal tersebut merupakan bagian dari kepercayaan budaya dan tidak memiliki pembuktian ilmiah.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho