← Beranda
Diramalkan Kaya Mendadak di Akhir Tahun 2025, Weton Pon Wajib Hindari 3 Pantangan Ini
Rizky Ardina AmaliaRabu, 27 Agustus 2025 | 18.50 WIB
Ilustrasi pemilik weton Pon. (Freepik)

JawaPos.com -  Weton Pon merupakan weton yang berelemen bumi atau elemen logam.

Berdasarkan elemen tersebut, seseorang dengan weton Pon memiliki ciri-ciri seperti logam yaitu kuat, tegas dan tidak mudah goyah pendiriannya tetapi juga mudah luluh dengan kehangatan.

Weton Pon sering kali diasosiasikan dengan pribadi yang kharismatik dan menarik. Dengan kepribadiannya yang kharismatik, weton ini biasanya dinilai mampu untuk menarik rezeki dan kemelimpahan duniawi.

Namun, dalam primbon jawa terdapat hal yang sebaiknya dihindari oleh weton tertentu atau kerap disebut dengan pantangan.

Menjelang akhir tahun 2025, weton Pon diprediksi akan meraih keberkahan berupa peningkatan karier serta kemajuan finansial, asalkan mampu menjaga diri dan menghindari pantangan yang berlaku bagi weton tersebut.

Dilansir melalui akun TikTok @pakdebakoh, berikut adalah tiga pantangan yang dilarang untuk dilakukan oleh pemilik weton Pon ini.

1. Hindari Kesombongan

 

Weton Pon dikenal sebagai sekar ing jagat atau bunga dunia. Julukan ini menggambarkan bahwa pemilik weton Pon kerap diibaratkan sebagai sosok yang membawa warna dan keindahan dalam kehidupan.

Namun, di balik pesonanya, weton Pon memiliki pantangan besar yang perlu diwaspadai, yaitu sifat sombong. Hal ini karena aura serta energi kuat yang dimiliki sering kali mampu memikat orang lain, baik lawan jenis maupun sesama, untuk tunduk pada kehendaknya. Dengan kekuatan sebesar itu, pemilik weton Pon harus mampu menahan diri agar tidak terjerumus dalam kesombongan.

Selain dikenal karismatik, weton Pon juga kerap dikaitkan dengan istilah idu geni atau si pahit lidah. Menurut penjelasan Om Hao dalam kanal YouTube @Mas Kur Channel, hampir seluruh weton Pon digolongkan sebagai si pahit lidah. Julukan ini muncul karena karakter Pon yang tegas dan jujur, sehingga ucapannya sering kali benar-benar terjadi.

Dalam primbon Jawa, Pon dijuluki sabdo dadi idu geni, yang bermakna setiap kata (sabdo) dari si pahit lidah (idu geni) akan berwujud nyata (dadi). Karena itu, sebagaimana disebutkan dalam akun TikTok Pakde Bakoh, pemilik weton Pon perlu berhati-hati dan bijak dalam berbicara, sebab setiap perkataan mereka berpotensi terkabul.

Cara terbaik untuk menghindari akibat buruk adalah dengan menekan sifat sombong. Sebab, bila kesombongan lebih mendominasi daripada ketulusan hati, ucapan yang keluar justru bisa menjadi bumerang.

Sebagai contoh, ketika pemilik weton Pon telah mencapai puncak kejayaan lalu terjerat dalam sikap angkuh, maka semesta akan menyeimbangkannya dengan kejatuhan, seperti kebangkrutan atau kehilangan kedudukan.

Hal ini sejalan dengan pakem Jawa yang menekankan pentingnya menjaga hati dan ucapan. Sebab, jika tidak dikendalikan, kata-kata bisa menjadi senjata yang pada akhirnya melukai diri sendiri.

2. Pantangan Marah Meledak-ledak

Pantangan lain yang perlu dihindari oleh pemilik weton Pon adalah sifat mudah marah, terutama kemarahan yang meledak-ledak.

Secara garis besar, weton Pon terbagi menjadi dua tipe. Pertama, mereka yang jika marah akan meledak hingga meluap-luap. Kedua, yang memilih diam namun menyimpan amarah di dalam hati. Dari kedua golongan tersebut, pemilik weton Pon yang emosinya mudah meluap sangat dianjurkan untuk belajar menahan diri.

Hal ini diyakini karena weton Pon memiliki khodam atau penjaga dengan sifat suci. Saat mereka melampiaskan amarah berlebihan, maka tindakan itu dianggap bertentangan dengan kesucian sang penjaga. Oleh sebab itu, pemilik weton Pon sebaiknya mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi situasi yang menyakitkan.

Baca Juga: 5 Weton Daya Tariknya Paling Disukai Lawan Jenis: Memiliki Pesona Alami yang Sulit Dilupakan dan Bikin Jatuh Hati

Dengan menjaga hawa nafsu dan menekan amarah, kekuatan spiritual bawaan dari weton idu geni dapat berfungsi lebih maksimal. Jika energi spiritual itu telah mencapai puncaknya, pemilik weton Pon dipercaya akan lebih mudah meraih keberkahan dunia, memperoleh kekayaan secara tiba-tiba, serta mendapatkan banyak keuntungan dalam hidupnya.

3. Pantangan Bersikap Tega dan Kasar

Meskipun weton idu geni kerap digambarkan memiliki sifat keras dan tegas layaknya unsur logam, sesungguhnya di dalam dirinya tersimpan hati yang lembut. Karena itu, pemilik weton Pon dituntut untuk senantiasa menjaga perasaan, agar tidak tega menyakiti atau memperlakukan orang lain dengan kasar.

Dengan segala keistimewaan yang dianugerahkan semesta, weton Pon diharapkan mampu menebarkan cinta kasih serta berbagi kelimpahan dengan sesamanya. Bersikap rendah hati, menjaga ucapan, dan menahan diri dari kesombongan maupun penyakit hati lainnya akan membantu weton ini mempertahankan energi positif yang dimilikinya.

Menjelang akhir tahun 2025, weton Pon yang tetap sabar dan rendah hati meski sering mengalami tekanan justru diprediksi akan menerima kejutan besar berupa peningkatan karier dan rezeki. Sebaliknya, bila pantangan dilanggar, konsekuensinya akan dikembalikan kepada kehendak semesta.

Karena weton Pon dikenal memiliki aura suci sekaligus energi magis, maka sudah sepatutnya pemiliknya menjaga hati dan sikap. Tindakan kasar maupun sikap semena-mena hanya akan mengundang energi negatif yang berpotensi mengubah arah ramalan baik menjadi buruk.

Apabila mampu menjauhi larangan-larangan tersebut, jalan karier maupun usaha yang semula tersendat akan kembali bergerak pesat hingga menghasilkan buah manis yang dapat dinikmati sampai tahun berikutnya. Bagi pemilik weton Pon yang baru merintis bisnis, akhir tahun juga menjadi waktu yang baik untuk berkembang, sebagaimana disebutkan dalam primbon Jawa menurut Pakde Bakoh.

Selama pantangan dijaga, semesta akan mendukung setiap langkah positif yang dilakukan weton Pon. Karena itu, tiga pantangan utama yang telah disebutkan sebelumnya hendaknya benar-benar dihindari.

Pada akhirnya, apa yang diwariskan para leluhur dalam primbon Jawa mengandung makna filosofis yang dapat dijadikan pedoman hidup. Terlepas dari benar tidaknya ramalan tersebut, semua tetap kembali pada usaha, doa, dan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah