← Beranda
Menpar Minta Anggaran Rp 1,9 T usai Dibebani Target Kenaikan Jumlah Wisatawan Tahun Depan
Syahrul YunizarRabu, 17 Juni 2026 | 20.53 WIB
Menpar Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan rencana strategis Kemenpar dan kebutuhan anggaran pada 2027 mendatang saat rapat di DPR pada Rabu (17/6). (Kemenpar)

 

 

JawaPos.com - Dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi VII pada Rabu (17/6) Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengusulkan tambahan anggaran pariwisata sebesar Rp 1,9 triliun.

Usulan itu disampaikan lantaran pagu indikatif anggaran untuk Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pada 2027 hanya Rp 1,010 triliun. Sementara target pertumbuhan wisatawan tahun depan naik.

Target kunjungan wisatawan asing atau mancanegara pada 2027 sebanyak 17,6-19,1 juta. Sementara, wisatawan lokal di dalam negeri dipatok pada angka 1,28 miliar perjalanan.

Tidak hanya itu, Kemenpar juga didorong untuk mencapai devisa pariwisata sebesar USD 25,5 miliar-USD 28,6 miliar dengan tenaga kerja pariwisata sebanyak 27,33 juta orang.

Naiknya target tersebut dibarengi tantangan fiskal yang dirasakan tidak mudah oleh Kemenpar. Yakni turunnya anggaran bila melihat pagu indikatif Kemenpar yang sudah ditetapkan untuk tahun depan. Yakni Rp1,010 triliun. Angka itu turun lebih kurang 29,6 persen bila dibandingkan DIPA Kemenpar 2026 pada angka Rp 1,434 triliun.

”Kami memahami kondisi fiskal negara. Karena itu, Kementerian Pariwisata akan memastikan setiap rupiah anggaran digunakan secara fokus, efisien, dan berdampak,” ungkap Widiyanti.

Turunnya anggaran tersebut, bakal berdampak pada beberapa hal seperti ruang gerak program pariwisata, pengembangan destinasi, promosi, event, penguatan industri, investasi, dan pendidikan vokasi pariwisata. Untuk memastikan target yang sudah ditetapkan tercapai dan demi menjaga daya saing, Widyanti menyampaikan angka ideal anggaran Kemenpar.

Menurut Widiyanti, untuk menjalankan program secara optimal dan memberikan dampak ekonomi maksimal bagi perekonomian nasional, instansinya membutuhkan anggaran setidaknya sebesar Rp 3 triliun pada 2027. Dengan pagu indikatif yang sudah ditetapkan sekitar Rp 1,01 triliun saat ini, masih diperlukan tambahan anggaran sekitar Rp 1,99 triliun.

”Untuk menjaga daya sain5g dan memastikan target besar pariwisata tetap tercapai, dukungan penganggaran menjadi sangat strategis,” imbuhnya.

Meski begitu, Widiyanti menegaskan bahwa Kemenpar menegaskan komitmen untuk menjaga sektor pariwisata sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional, pencipta lapangan kerja, penghasil devisa, sekaligus instrumen pemerataan pembangunan.

Tahun depan, sektor pariwisata diarahkan mendukung tema besar Akselerasi Pertumbuhan Berkualitas melalui Produktivitas, Investasi, dan Industri. Program prioritas pariwisata bakal fokus pada pembangunan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, penyelesaian 10 destinasi pariwisata prioritas, dan pengembangan 3 destinasi regeneratif.

”Perlu kami sampaikan di sini bahwa pariwisata bukan hanya soal kunjungan, tetapi tentang pergerakan ekonomi. Pariwisata menghidupkan UMKM, membuka lapangan kerja, memperkuat daerah, dan membawa devisa bagi negara,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Widiyanti turut menyinggung Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk sektor pariwisata. Dia menyebut, sektor pariwisata belum termasuk sebagai bidang penerima DAK tahun depan. Padahal, dukungan DAK sangat penting untuk membantu pembenahan amenitas dan penguatan destinasi di daerah.

Menurut dia, pagu ideal Kemenpar sangat penting tidak hanya untuk kebutuhan kelembagaan, melainkan sebagai investasi strategis agar pariwisata Indonesia mampu menjaga daya saing, memperluas promosi, memperkuat destinasi, meningkatkan kualitas SDM, mendorong event berkualitas, dan memastikan manfaat ekonomi pariwisata semakin besar.

Baca Juga: Menpar Ungkap Kondisi Pariwisata RI di Tengah Konflik Global: Kunjungan Mancanegara Naik 8,24 Persen

”Kami memandang pemerintah dan DPR memiliki fungsi yang sama penting dalam mengawal pembangunan pariwisata. Di tengah keterbatasan anggaran, kerja bersama menjadi kunci agar pariwisata tetap menjadi mesin pertumbuhan dan pemerataan pembangunan,” imbuhnya. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan