JawaPos.com - Jepang mulai mengurangi ketergantungan terhadap wisatawan Tiongkok pada musim liburan musim panas tahun ini. Penurunan tajam kunjungan dari Tiongkok diimbangi pertumbuhan wisatawan dari negara-negara Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.
Seperti dilansir Kyodo, Jumat (14/8), jumlah wisatawan Tiongkok yang berkunjung ke Jepang selama enam bulan pertama tahun ini anjlok 56,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan tersebut terjadi di tengah memburuknya hubungan diplomatik kedua negara. Pernyataan kontroversial Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di parlemen tahun lalu mengenai kemungkinan respons Jepang terhadap krisis di Taiwan memicu kemarahan Beijing.
Tiongkok kemudian mengimbau warganya tidak bepergian ke Jepang dan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap negara tersebut.
Meski jumlah wisatawan Tiongkok merosot tajam, dampaknya terhadap total kunjungan wisatawan asing ke Jepang relatif terbatas. Jepang menerima sekitar 21,08 juta wisatawan asing sepanjang Januari hingga Juni, turun 2 persen dari periode yang sama pada 2025 yang mencatat rekor.
Pertumbuhan wisatawan dari Korea Selatan, Taiwan, Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Serikat membantu mengimbangi berkurangnya wisatawan Tiongkok. Nilai tukar yen yang lemah juga disebut turut mendukung peningkatan kunjungan tersebut.
Data Organisasi Pariwisata Nasional Jepang menunjukkan belanja awal wisatawan asing untuk akomodasi dan belanja mencapai ¥4,85 triliun (setara Rp538,35 triliun, kurs 1 JPY = Rp111) pada paruh pertama tahun ini. Angka tersebut naik 1,3 persen dan menjadi rekor tertinggi untuk periode enam bulan pertama.
Ryo Nishikawa, profesor madya yang mendalami kebijakan pariwisata di Universitas Rikkyo, melihat adanya proses "diversifikasi" asal wisatawan ke Jepang.
"Kita mulai melihat pariwisata mempertahankan momentumnya tanpa bergantung pada Tiongkok," kata Nishikawa.
Pembatalan perjalanan wisatawan Eropa sempat meningkat ketika situasi di Timur Tengah memburuk pada awal tahun. Namun, menurut Nishikawa, pembatalan tersebut hanya mencakup "persentase kecil" dari total wisatawan asing.
Di Prefektur Fukuoka, sekitar 10 juta orang dari berbagai wilayah Jepang dan luar negeri mengunjungi Dazaifu Tenmangu setiap tahun. Sekitar 90 persen wisatawan asing di kuil Shinto tersebut berasal dari Korea Selatan dan Taiwan.
"Saya tidak merasa jumlah pengunjung berubah," kata Keiya Yamaguchi, seorang pendeta di Dazaifu Tenmangu. Di tengah kuatnya arus wisatawan asing, perjalanan warga Jepang ke luar negeri justru belum kembali ke level sebelum pandemi.
Jumlah wisatawan Jepang yang bepergian ke luar negeri pernah menembus 20 juta orang pada 2019. Namun, angka tersebut anjlok setelah pandemi Covid-19 dan hanya mencapai 14,73 juta orang pada 2025.
Pada paruh pertama tahun ini, jumlah wisatawan Jepang yang bepergian ke luar negeri tercatat 6,94 juta orang.
Survei perusahaan perjalanan JTB Corp. memperkirakan jumlah warga Jepang yang bepergian ke luar negeri selama musim liburan musim panas tahun ini turun 8,8 persen menjadi 2,17 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan tersebut diperkirakan menjadi yang pertama dalam enam tahun. Kenaikan harga kebutuhan rumah tangga, yen yang lemah sehingga membuat perjalanan ke luar negeri lebih mahal, serta biaya tambahan bahan bakar pesawat yang meningkat menjadi sejumlah faktor penyebab.
Pemerintah Jepang telah berupaya mendorong perjalanan ke luar negeri dengan menurunkan biaya pengurusan paspor mulai Juli.
Namun, pemulihan perjalanan internasional warga Jepang yang masih lambat mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan penerbangan internasional. Nishikawa memperkirakan bandara regional akan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
"Pemerintah daerah harus menyusun strategi untuk mendorong permintaan perjalanan dari masyarakat setempat," kata Nishikawa.