← Beranda
17 Wisata Religi di Gresik buat Liburan Berkesan, dari Makam Wali sampai Situs Penuh Tradisi
Mohammad Maulana IqbalMinggu, 24 Mei 2026 | 19.23 WIB
Rekomendasi wisata religi buat liburan di Gresik, salah satunya makam wali / foto : Magnific/ freepik

JawaPos.com – Gresik dikenal sebagai salah satu kota dengan kekayaan wisata religi tertinggi di Jawa Timur, terutama karena keberadaan makam wali dan situs bersejarah Islam.

Dari makam Wali Songo hingga peninggalan era Kerajaan Majapahit, setiap destinasi menyimpan nilai spiritual dan historis yang sangat dalam.

Kawasan ini menjadi tujuan liburan ziarah ribuan pengunjung dari berbagai penjuru Nusantara setiap harinya.

Dilansir dari laman Disparekrafbudpora Kabupaten Gresik dan GoTravelly pada Minggu (24/5), berikut 17 rekomendasi tempat wisata religi buat liburan di Gresik.

Baca Juga: 15 Rekomendasi Tempat Wisata Terbaik di Gresik, Cocok Buat Liburan Seru di Kota Pudak

1. Makam Maulana Malik Ibrahim

Berlokasi di Jalan Malik Ibrahim, Desa Gapuro Sukolilo, hanya 200 meter dari alun-alun kota dan mudah dijangkau dengan transportasi umum, makam Wali tertua di Jawa ini dapat dikunjungi kapan saja.

Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik datang ke Jawa pada tahun 1379 M untuk menyebarkan Islam di era Majapahit dan wafat pada 12 Rabiul Awal 822 H atau 1419 M.

2. Makam Sunan Giri

Berlokasi di Dusun Giri Gajah, Desa Giri, Kecamatan Kebomas, sekitar 4 km dari pusat kota, makam Wali Songo bernama asli Raden Paku atau Ainul Yaqin ini berada di atas bukit dalam cungkup berarsitektur khas Jawa yang sangat unik.

Sunan Giri lahir pada 1442 M, mendirikan Kerajaan Giri Kedaton pada 1487 M, dan pengaruhnya meluas hingga Madura, Kalimantan, Sulawesi, Lombok, Flores, Ternate, dan Maluku.

3. Makam Putri Cempo

Berlokasi di Gunungsari, Kelurahan Sidomoro, Kecamatan Kebomas, sekitar 2 km ke arah timur dari kompleks Makam Sunan Giri, destinasi ini dikenal dengan arsitektur cungkup makam khas negeri Campa yang unik.

Kini banyak kafe berjejer di sepanjang jalan menuju Puncak Cempo yang menawarkan kopi khas daerah setempat, sehingga kawasan ini juga disebut Kawasan Wisata Milenial.

4. Situs Giri Kedaton

Berlokasi di puncak bukit di Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas, sekitar 200 meter selatan dari kompleks Makam Sunan Giri, situs bersejarah ini didirikan Sunan Giri sekitar tahun 1487 M.

Awalnya berupa pesantren tempat Sunan Giri mengajarkan Islam, kompleks ini kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Giri Kedaton yang konon menjadi tempat pengukuhan raja-raja Islam Demak hingga Pajang.

Di kawasan ini masih tersisa peninggalan berupa batu pelinggihan, kolam wudhu, dinding pagar kuno, dan makam Raden Supeno putra Sunan Giri yang wafat saat remaja.

5. Makam Siti Fatimah Binti Maimun

Berlokasi di Dusun Leran, Desa Pesucian, Kecamatan Manyar, makam yang dikenal sebagai makam panjang ini ditetapkan sebagai makam Islam tertua di Asia Tenggara dan dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya sejak 1973.

Siti Fatimah lahir pada 1064 M dan datang ke Jawa sebagai utusan ayahnya Sultan Mahmud Syah untuk menyebarkan Islam di era Majapahit.

6. Makam Sunan Prapen

Berlokasi di Desa Klangonan, Kecamatan Kebomas, sekitar 400 meter barat dari Makam Sunan Giri, cungkup makam penerus Dinasti Giri keempat ini memiliki arsitektur unik dengan ukiran bernilai seni tinggi.

Sunan Prapen atau Syekh Maulana Fatikhal lahir sekitar 1412 Saka dan wafat pada 1605 M, dengan pengaruh yang meluas hingga Kalimantan, Sulawesi, dan Lombok.

Salah satu keunikan kawasan ini adalah Watu Dodok atau Yoni di tangga menuju makam yang dipercaya dapat membantu pasangan suami istri yang belum dikaruniai keturunan.

7. Makam Nyai Ageng Pinatih

Berlokasi di Kelurahan Kebungson, sekitar 300 meter utara alun-alun kota, makam tokoh wanita Islam berpengaruh ini dapat dikunjungi kapan saja oleh peziarah.

Nyai Gede Pinatih adalah saudagar kaya raya yang diangkat Raja Majapahit sebagai Syah Bandar Gresik, sekaligus ibu angkat yang mengasuh dan mendidik Sunan Giri hingga dewasa.

8. Makam Raden Santri

Berlokasi di Jalan Raden Santri, Kelurahan Bedilan, sekitar 100 meter utara alun-alun kota, makam penyebar Islam di Jawa bernama Sayyid Ali Murtadlo ini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

Raden Santri adalah putra Syekh Ibrahim Asmaraqandi, kakak dari Sunan Ampel, dan sepupu dari Maulana Malik Ibrahim yang menetap di kawasan ini setelah negeri Campa tempat asalnya hancur.

Setelah Maulana Malik Ibrahim wafat pada 1419 M, beliau menggantikan tugasnya sebagai imam penyebaran Islam dan wafat pada 1449 M.

9. Makam Dewi Sekardadu

Makam ibunda Sunan Giri dari pihak ibu ini berada dalam sebuah cungkup megah dengan kelambu penutup khusus di atas makamnya.

Di dalam cungkup yang sama juga terdapat dua makam lainnya, salah satunya adalah Panembahan Mas Gunung Anyar yang merupakan keturunan ke-4 dari Sunan Giri.

10. Makam K.T. Pusponegoro

Berlokasi di kompleks makam Gapuro Sukolilo yang berdekatan dengan Makam Maulana Malik Ibrahim, kompleks pemakaman yang juga disebut makam Asmarataka ini memiliki tiga pintu masuk bergaya Paduraksa.

KT Pusponegoro adalah Bupati pertama kawasan ini yang menjabat pada 1669 hingga 1732 M, dengan jirat kubur dari batu andesit dan nisan berukir dari batu putih yang masih bertahan hingga kini.

11. Makam Kanjeng Sepuh Sidayu

Berlokasi di Desa Pekauman, Kecamatan Sidayu, sekitar 28 km dari pusat kota melalui jalur pantura, makam ini berada di belakang Masjid Jami' Sidayu dalam kompleks pemakaman para bupati.

Raden Adipati Suryo Diningrat atau Kanjeng Sepuh Sidayu dinobatkan sebagai bupati pada 1817 M, namun wilayahnya kemudian dikerdilkan menjadi kawedanan oleh VOC karena dianggap menentang kebijakan kolonial.

12. Klenteng Kim Hin Kiong

Berlokasi di Jalan Dr. Setia Budi Gang Klenteng No.56, Kelurahan Pulopancikan, Kecamatan setempat, klenteng tertua di Jawa Timur yang diperkirakan berusia 379 tahun ini mudah dijangkau karena dekat dengan alun-alun.

Bangunannya khas dengan dominasi warna merah dan kuning, dilengkapi altar pemujaan Dewa Thian San Seng Boo, lampion China di plafon, patung singa, dan ornamen kepala naga yang masih terawat dengan baik.

13. Masjid Jami' Gresik

Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Alun-Alun ini didirikan oleh Nyai Ageng Pinatih, ibu asuh dari Sunan Giri, dan kini berlokasi di kawasan pusat pemerintahan dekat alun-alun kabupaten.

Sejumlah catatan sejarah menyebut masjid ini pernah berpindah dari lokasi awal di kawasan perbukitan tepi pelabuhan Teluk Lamong ke lokasi saat ini.

14. Masjid KH Ahmad Dahlan

Masjid dengan arsitektur yang menawan ini mengambil konsep bangunan bergaya Andalusia yang menjadikannya daya tarik tersendiri di antara destinasi wisata religi di kawasan ini.

Keindahan arsitekturnya yang unik dan berbeda dari masjid pada umumnya menjadikan tempat ini layak dikunjungi tidak hanya untuk beribadah tetapi juga untuk menikmati keindahan bangunannya.

15. Makam Jujuk Tampo

Berlokasi di Dusun Tampo, Desa Pudakit Barat, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, sekitar 4 km dari Pelabuhan Sangkapura, kompleks pemakaman yang berdiri sendiri di area persawahan ini menawarkan pemandangan sawah berundak yang sangat indah.

Terdapat dua bangunan utama berupa makam Jujuk Tampo dan istrinya, dilengkapi fasilitas tempat wudhu, kamar mandi, dan aula peristirahatan untuk para peziarah.

16. Makam Waliyah Zainab

Berlokasi di Desa Diponggo, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, makam Dewi Wardah putri Kyai Ageng Bungkul ini menyimpan kisah unik tentang perjalanan spiritual seorang wanita mulia.

Waliyah Zainab yang menolak menjadi istri kedua Raden Paku kemudian berlayar ke utara menggunakan kelopak bunga kelapa dan akhirnya menetap serta wafat di Pulau Bawean.

17. Makam Umar Mas'ud

Berlokasi di Desa Kotakusuma, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, makam ulama penyebar Islam di Pulau Bawean bernama asli Pangeran Perigi ini berada di belakang Masjid Jami' Sangkapura.

Cucu Sunan Drajat ini menjadi raja Kerajaan Bawean dari 1601 M hingga 1630 M sekaligus berperan sebagai mubaligh yang mengajarkan Islam kepada penduduk setempat sebelum wafat pada 1630 M.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho