Seperti dilansir Kyodo, Senin (18/5), patung tersebut berdiri di Kuil Rinsenji, Desa Kamikitayama, Prefektur Nara. Lokasinya berada sekitar dua jam perjalanan dari Kota Nara, di kawasan pegunungan yang terus kehilangan penduduk.
Nama patung itu Gokiburiten, semacam “dewa kecoak.” Wujudnya jauh dari gambaran kecoak biasa.
Tingginya mencapai 170 sentimeter. Bentuknya menyerupai manusia berotot dengan empat lengan kekar dan pose seperti pegulat sumo.
Patung itu dipasang lebih dari 25 tahun lalu. Awalnya, monumen tersebut dibuat sebagai memorial untuk hama.
Pematungnya, Hiroo Amano, sengaja membuat desain yang tidak biasa. Ia ingin menciptakan sosok kecoak yang terlihat kuat, bukan menjijikkan.
Inspirasi visualnya datang dari pose teatrikal kabuki dan ritual masuk arena sumo. Hasilnya adalah patung yang terasa absurd, tapi justru menarik perhatian.
Ada detail lain yang lebih aneh. Di bagian perut patung, Amano menyematkan miniatur kota manusia.
Menurutnya, itu bentuk pembalikan perspektif. Bukan kecoak yang dianggap parasit, tetapi manusia.
Patung ini dipesan perusahaan pengendalian hama asal Osaka yang menangani lebih dari 2.000 pembasmian kecoak setiap tahun. Pendirinya mengaku hanya ingin membuat sesuatu yang “gila” dan berbeda.
Yang tak disangka, patung itu justru hidup dengan caranya sendiri. Kini kelompok anak muda rutin datang hanya untuk melihatnya.
Wisatawan asing dari China hingga Polandia juga mulai berdatangan. Desa terpencil yang sebelumnya sunyi mendadak punya daya tarik budaya yang unik.
Bagi warga lokal, kehadiran patung itu membawa energi baru. Istri mantan kepala kuil mengatakan tempat itu kini jadi ruang pertemuan yang menghadirkan interaksi dengan orang-orang baru.
Lebih dari dua dekade berlalu, permukaan patung kini makin halus karena sering disentuh pengunjung. Di desa yang terus menua dan menyusut, seekor kecoak raksasa justru memberi alasan bagi orang untuk datang.